Sang Pewaris

12 1 3
                                    

Seorang wanita muda dengan tubuh penuh luka menggendong bayi lelaki yang terbungkus selimut dengan nama anak tersebut disulamkan di atasnya. Dengan tergesa-gesa wanita itu menyusuri jalan sambil melindungi si bayi dari rintik hujan.

Hujan semakin deras saat wanita itu berbelok dan masuk ke pekarangan salah satu rumah. Dia mengarahkan sebelah tangannya ke arah pintu dan seperti meraba-raba tembok tak terlihat.

"Ini rumah yang tepat," gumamnya sambil membaringkan bayi itu tepat di depan pintu.
Dari dalam sakunya wanita itu menarik keluar sebuah kalung dengan keris kecil sebagai bandulnya. "Bima, kamu baik-baik ya nak. Tumbuhlah menjadi anak yang kuat dan cerdas, akan ada hari di mana takdir semua orang bergantung padamu," kata wanita itu sambil mengalungkan kalung berbandul keris itu di leher si bayi.

Setelah mengetuk pintu tiga kali, wanita tersebut melangkah mundur dan menghilang menjadi debu yang tertiup angin.

18 tahun kemudian...

"Kak! Kak Bima! Dipanggil ibu tuh disuruh makan dulu!" seru Dinda memanggil Bima sambil mengetuk pintu kamar

"Iya sebentar lagi kakak turun, tanggung sedikit lagi kelar!" sahut Bima dari dalam kamar

Sepuluh menit kemudian Bima bergabung untuk makan siang bersama ibu dan adiknya. Lebih tepatnya menyusul makan karena Dinda adiknya telah selesai makan, sementara ibunya tengah membersihkan dapur.

"Nah akhirnya si pangeran keluar kamar juga!" ujar Dinda dengan nada meledek

"Iya maaf lama," kata Bima sambil duduk dan mulai mengambil nasi dan lauk, "kan kakak harus selesaikan chapter untuk terbitan besok,"

"Tapi serius deh, komik kakak tuh beneran langsung booming banget untuk ukuran pendatang baru di web comic," kata Dinda sembari menunjukan monthly top ranking NetToon di layar ponselnya

"Ya makanya kakak berusaha keras bikin cerita yang bagus biar pembaca gak kecewa," kata Bima sambil makan

Selagi mereka berbincang, acara berita di TV tampak menampilkan laporan khusus yang baru-baru ini menghebohkan dunia. Sebuah berita tentang munculnya sebuah pulau misterius yang tiba-tiba muncul di Samudra Hindia.

"Ini fenomena yang luar biasa sekaligus ajaib. Luar biasa karena pulau yang awalnya kita kira pulau baru, nyatanya adalah sebuah pulau yang telah ada sejak lama dan sebelumnya telah dihuni oleh manusia. Terlihat dari penemuan artefak-artefak dan kuil dengan ukiran-ukiran dalam bahasa Sansekerta, hingga aksara yang bahkan tidak kami pahami. Sehingga dapat kami simpulkan bahwa penemuan ini merupakan bukti sejarah baru tentang kerajaan di Nusantara yang ada bahkan jauh sebelum kerajaan-kerajaan yang selama ini telah kita ketahui," ungkap arkeolog yang diwawancarai

Berita berlanjut dengan diumumkannya artefak yang baru ditemukan di pulau misterius tersebut akan dipamerkan di museum dalam waktu dekat.

"Kira-kira museum kota mana ya?" tanya Dinda lebih kepada diri sendiri

"Ya palingan di Jakarta. Mau di Ibukota Nusantara yg baru kan belum kelar," jawab Bima

"Kalo gitu liat ke museum yuk nanti," kata Dinda bersemangat

"Gak mau, males, pengen beli truk," jawab Bima asal

"Ih kak Bima mah gitu," gerutu Dinda

Ibu mereka menghampiri dengan dua kantong besar di kedua tangan.

"Udah jangan ganggu kak Bima makan! Kamu memangnya gak ada latihan Taekwondo hari ini?" tanya ibu pada Dinda

"Eh iya dong!" seru Dinda buru-buru lari ke kamar untuk bersiap-siap

NawasenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang