Friend or Foe

0 0 0
                                    

“Apa benar begini tidak apa-apa?” tanya Maya sambil mengenakan helm

“Aku harap begitu, Shredar pun kelihatannya senang,” sahut Bima sembari menyalakan mesin motor

Mereka meninggalkan Sea World bertepatan dengan terbenamnya matahari. Udara senja yang sejuk menerpa wajah Bima saat mereka melaju melintasi beberapa toko di kanan kiri jalan. Maya melingkarkan lengannya memeluk pinggang Bima, sontak Bima terkejut bercampur senang.

Akhirnya mereka tiba di depan rumah Maya yang lampu-lampunya telah menyala. Cahaya lampu rumah dan jalan, serta bintang-bintang dan bulan yang menerangi malam memang sudah biasa terlihat. Namun malam ini cahayanya tampak jauh lebih indah bagi Bima dan Maya.

“Anu... Makasih ya untuk hari ini,” kata Maya

“Iya, kalau begitu aku jalan dulu ya,” sahut Bima sambil menggantung helm yang sebelumnya dipakai Maya

“Eh... Anu, tunggu sebentar,” ujar Maya  terbata-bata

“Hm? Ada apa?” tanya Bima

Perlahan Maya mendekatkan wajahnya. Makin lama wajahnya dan wajah Bima semakin dekat, jarak antara keduanya hanya beberapa senti hingga mereka bisa merasakan embusan nafas satu sama lainnya. Maya mengecup bibir Bima dengan lembut. Jantung keduanya berdegup kencang saat bibir mereka bertemu.

“Loh? Kak Maya sudah pulang,” suara Angel, adik Maya mengagetkan mereka yang buru-buru saling menjaga jarak

“Eh, ah iya baru saja sampai,” sahut Maya dengan wajah merah padam

Bima akhirnya berpamitan dengan sedikit kikuk pada Maya dan Angel. Sepanjang perjalanan Bima terus terbayang-bayang ciuman pertamanya dengan Maya. Dia bahkan hampir tidak sadar kalau sudah sampai di rumah.

“Ciee... Yang baru pulang nge-date sama kak Maya,” goda Dinda saat Bima masuk ke dalam rumah

“Tahu dari mana kalo kakak date sama Maya? Dari Angel?” tanya Bima

“Ya dong, Dinda dan Angel tuh sudah dari dulu banget pengen jodohin kalian. Lagian tadi Angel bilang dia mergokin kalian ciuman. Sana buruan lamar!” kata Dinda sok nge-boss

“Heh, enteng banget menyuruh nikah. Lagian kakak juga baru genap 19 tahun malam natal nanti,” ujar Bima sambil menyentil dahi Dinda

Ibu mereka keluar dari dapur dengan spatula ditangannya. Rasa penasaran tampak di wajahnya saat dia bertanya, “Ada apa sih? Kok rame banget kalian?”

“Kak Bima bu, dia jadian sama kak Maya!” lapor Dinda

“Wah bagus dong. Tapi ingat ya jangan dulu berpikiran untuk menikah, kalian masih muda banget. Kakak kamu aja masih jomblo sampai sekarang,” kata ibu sambil melirik Bagas

Bagas yang sedang makan sontak tersedak mendengar perkataan ibunya. Sambil terbatuk-batuk dia berkata, “Bu, Bagas kan sibuk ngurusin toko. Mana sempat buat nyari pacar apalagi menikah,”

“Ah, alasan. Kak Bima yang hampir seharian cuma di dalam kamar aja bisa dapat pacar kok,” kata Dinda

Bima duduk di depan meja makan dan mulai mengisi piringnya sambil berkata, “Ini kenapa pada ngomongin nikah sih? Ya pacaran kan baru pendekatan, gimana ke depannya ya urusan nanti saja,”

Mereka menikmati makan malam sambil terus membahas soal pacaran dan pernikahan. Walaupun awalnya risih namun Bima akhirnya bisa menyisipkan lelucon. Larasati sebagai ibu merasa senang ketiga anaknya bisa tetap akur meski membahas hal sensitif sekalipun.

Tayangan di TV dijeda dengan tayangan berita terkini, bukan hal baru sebenarnya. Namun, berita kali ini cukup membingungkan. Terjadi pencurian besar-besaran di sejumlah toko perhiasan nyaris tanpa adanya jejak.

NawasenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang