Kemunculan Arutala Sang Satria Kegelapan

0 0 0
                                    

Bima mengayuh sepedanya menyusuri jalan bersama Maya yang duduk di boncengan. Matahari telah terbenam 2 jam lalu namun jalanan masih tampak lengang, mungkin karena awan mendung dan gemuruh petir yang menandakan hujan akan segera turun membuat sebagian orang malas untuk keluar rumah.

“Maaf ya May aku terpaksa antar pakai sepeda. Kak Bagas belum pulang soalnya,’ ujar Bima

“Ah, enggak apa-apa kok. Lagian kamu mau antar pulang saja aku sudah senang, mana ojek online enggak ada yang mau terima order,” sahut Maya

“Apa karena mau hujan ya? Tapi kalo dipikir jadi serasa nostalgia,” kata Bima

“Iya juga ya, dulu kamu sering antar aku pulang,” ucap Maya teringat masa sekolah mereka

Tak terasa mereka telah tiba di rumah Maya. Rumah dua lantai itu masih terlihat sama seperti yang diingat Bima, hanya warna cat tembok dan pagar yang berbeda. Pot-pot berisi bunga anggrek tersusun di teras rumah.

“Aku kira kamu bakal pindah ke rumah yang lebih mewah setelah jadi artis,” ujar Bima

“Ya enggak lah. Kenapa juga mesti beli rumah mewah, toh rumah yang sekarang saja sudah bagus dan nyaman banget.  Mending uangnya buat investasi,” kata Maya sembari turun dari boncengan

Dari arah tikungan Nabilah berjalan ke arah mereka dengan menenteng sebuah dua tote bag yang tampak sangat berat. Rintik hujan mulai turun saat dia berpapasan dengan Bima dan Maya.

“Loh Nabilah? Dari mana?” tanya Bima

“Eh, kak Bima. Em, anu, tadi barusan dari rumah sepupu,” jawab Nabilah

“Itu kayaknya berat, sini biar kakak bantu bawa sekalian antar kamu pulang,” kata Bima mengulurkan tangannya

“Eng... Enggak usah kak, takut ngerepotin,” tolak Nabilah

“Sudah Enggak apa, lagian kan kita searah,” ujar Bima sambil mengambil salah satu tote bag ditangan Nabilah, “Oh iya, hampir lupa. Kenalkan ini Maya teman kakak waktu sekolah dulu,” tambah Bima memperkenalkan Maya pada Nabilah

Kedua gadis itu berkenalan dan berjabat tangan. Maya tersenyum manis pada Nabilah yang wajahnya langsung merona merah.

Gerimis semakin menjadi sehingga membuat Bima dan Nabilah harus segera berpamitan dengan Maya. Nabilah yang memakai rok duduk menyamping, sebelah tangannya menggenggam tote bag.

“Ini kamu bawa apa Na?” tanya Bima

“Perlengkapan bayi kak. Kakakku sebentar lagi mau melahirkan, jadi ibu minta tolong pinjam perlengkapan bayi dari sepupu,” jawab Nabilah

“Wih, sudah mau jadi tante nih,” kata Bima turut senang

Hujan bertambah deras membuat Bima mempercepat laju sepedanya sambil berseru, “Pegangan yang kuat Na, kakak mau ngebut!”

Nabilah melingkarkan tangannya yang bebas ke pinggang Bima dan memeluknya dengan erat. Mereka melaju cepat menembus hujan deras. Bima akhirnya memperlambat laju sepedanya saat rumah Nabilah terlihat, kemudian dia langsung berbelok memasuki pekarangan rumah Nabilah.

“Ayo kak mampir sebentar sambil nunggu hujan reda,” kata Nabilah sambil turun dari sepeda

“Lain kali saja. Kakak masih harus bantu ibu,” ujar Bima

“Kalau begitu kakak hati-hati ya pulangnya. Terima kasih sudah nganterin,” kata Nabilah

Setelah berpamitan Bima sekali lagi menembus hujan. Tanpa disadarinya seseorang mengawasinya dari kejauhan. Begitu Bima cukup dekat dengannya, orang tersebut melangkah keluar dari tempatnya bernaung dan berdiri menghadang.

Bima berhasil mengerem sepedanya yang hampir menabrak orang misterius tersebut. Pria tersebut membuka tudung kepalanya, mata kirinya bersinar ungu.

“Setelah sekian lama akhirnya aku menemukan dirimu, Nawasena!” teriak pria itu

“Kau pria yang waktu itu. Sebenarnya apa yang kau inginkan?” tanya Bima

“Aku Satya. Aku adalah Satria Kegelapan Arutala. Satu-satunya alasanku terus hidup hingga hari ini adalah membalaskan dendamku padamu!” seru pria tersebut

NawasenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang