seharian rasanya gracia tidak berselera dalam melakukan apapun, dia yang biasanya mulai beranjak ke perpustakaan saat mata pelajaran selesai pun hanya bisa berdiam diri didalam kelasnya, sendiri tanpa ingin ikut dengan sisca ke kantin.
ingatan gracia benar-benar berantakan sekarang, dia tidak pernah berpikir jika pertemuannya dengan zean dan marsha membuatnya harus bekerja keras dalam memikirkan langkah apa yang harus dia ambil.
"huuuh" helaan nafas keluar begitu saja.
"capek yah?" gracia mendongak lalu mengangguk saat mendapati sisca yang sedang mengambil duduk disampingnya.
"pengen nangis ajah, sis" ujarnya lirih yang membuat sisca menghela nafas lalu mengelus rambut gracia dengan lembut.
"semangat dong, gre! katanya mau jadi dokter, tapi masalah kecil ajah udah buat kamu seperti ini" ujar sisca yang membuat gracia menatapnya dengan sedih, sisca tersenyum "nih! seorang dokter harus bisa sehat dulu baru bisa menolong pasiennya"
gracia memanyungkan bibirnya tapi tetap saja meraih sebuah susu putih dan sebuah roti yang disodorkan oleh sisca kepadanya. memakannya lalu tersenyum kearah sisca.
"makasih, rasa coklat ternyata tidak buruk, yah" ujar gracia yang membuat sisca tersenyum.
"habisin! kasian orang yang udah rela menerobos antrian untuk bisa beli tuh roti" ujar sisca yang membuat gracia terdiam lalu menatap sisca penuh tanya.
"kamu kan?" tanyanya memastikan yang malah membuat dirinya sendiri terdiam saat sisca menggeleng "sis"
sisca tertawa "bukan gue gre, arta yang beliin tadi" ucapnya yang membuat gracia ingin menyimpan roti ditangannya tapi ditahan sama sisca "makan, gre! jangan buang-buang makanan"
gracia menggeleng dengan mata yag berkaca-kaca "sis, kamu kok tega sih"
sisca terdiam lalu "aku kasian sama kamu, kalau aku tega mungkin udah aku buang tuh makanan!" ucapnya yang membuat gracia terdiam "aku tau kamu bakalan sakit maag-nya, gre! aku tidak mau kamu sakit"
gracia menunduk lalu kembali melanjutkan makannya yang membuat sisca tersenyum tipis "gue sayang lo, gre!"
seharian itu benar-benar ujian untuk gracia, kalah debat dengan sisca lalu saat pulang dia harus bertemu dengan arta di halaman sekolah.
arta yang saat itu menggunakan motor hitam tiba-tiba berhenti dihadapan gracia, entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki itu, tapi yang pasti dia sedang menunggu reaksi gracia terhadapnya.
"pulang sama aku!" ujarnya yang terdengar seperti perintah.
gracia menggeleng lalu melewati arta begitu saja, tapi arta malah turun dari motornya lalu kembali menghadang jalan gracia.
"jangan menghindar, shania!" ujarnya dengan tatapan yang begitu dalam menatap gracia.
"gracia pulang sama gue!" ujar suara berat dari belakang mereka "yuk, gre!" ucap aran saat berada disamping gracia.
gracia saat itu benar-benar berhasil menjadi topk hangat kembali, bukan prestasi kali ini tapi drama cinta segitiga menurut para murid.
"maaf arta, aku pulang dengan aran" ujar gracia lalu menarik aran menjauh dari arta yang terdiam.
gracia tau, tidak seharusnya dia memperlakukan arta seperti ini, sejak awal arta memperlakukannya baik tapi sakit akan ekspekasi membuat gracia benar-benar ingin menjauh dari arta.
gracia sangat sadar, dia sudah kekanak-kanakan. gracia mencintai arta, dan fakta akan arta sudah memiliki orang yang cintainya adalah luka untuk gracia.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRAGMA Dandelion (Gradel)
FanfictionTidak semua cinta harus di miliki, tidak semua cinta juga mendapatkan balasannya, bahkan tidak semua cinta bisa kita perjuangkan. Gracia menjadi salah satu contohnya, cintanya yang tulus menjadi ujian untuk dirinya saat ini. Terpisah lalu kembali b...
