~8

497 87 11
                                        

setelah hari dimana freyan memberikan sebuah brosur kepada gracia, gracia benar-benar mulai menghabiskan hari-harinya didalam perpustakaan, setelah jam pelajaran dia pasti akan segera menuju perputakaan. bahkan sahabatnya dibuat cemas karena melihat bagaimana ambisnya seorang shania gracia saat itu.

"perpus lagi?" tanya sisca saat gracia sudah mulai berdiri setelah membereskan buku-bukunya.

gracia tersenyum lalu mengangguk "aku harus bisa menampilkan yang terbaik nanti, sis" ujarnya lalu pergi meninggalkan sisca yang menatap khawatir kepada gracia.

hari-hari gracia mulai berubah, tidak lagi ada kantin tapi adanya perpustakaan. bukan rumah tujuan pulangnya, tapi cafe dengan cake matcha yang menemaninya, bukan lagi arta yang menemani gracia tapi seorang prince aeron argantara. 

sang mantan yang berubah menjadi teman dekat,

tapi hari itu berbeda, aran mengatakan akan menemani chika ke rumah kakek mereka jadi tidak bisa datang hanya untuk menemani gracia belajar, gracia tentu tidak masalah dengan itu. gracia pikir tidak akan ada yang berbeda jika tanpa aran yang menemaninya, tapi nyatanya salah.

baru saja gracia duduk di kursi yang biasa di tempatinya, seorang pelayan datang dengan sebuah cake matcha, menaruhnya dimejanya begitu saja.

"maaf kak, saya belum memesan jadi sepertinya ini bukan untuk meja ini deh" ujar gracia yang membuat pelayan tersebut tersenyum

"oh iya kak, tapi pesanannya sudah benar kok, di meja ini" ujar pelayan tersebut yang membuat gracia ingin berdiri karena takutnya ada sudah menempati meja tersebut tapi dia tidak tau.

"duduk saja, shania!" ujar seorang pria yang membuat gracia menoleh.

"arta?" gumam gracia yang membuat pria itu mengangguk bersamaan dengan pelayan tersebut yang akhirnya undur diri "meja kamu?" 

arta mengangguk "iya, dan itu matcha untuk kamu" ujar arta sambil menunjuk kearah cake matcha yang memang selalu menjadi menu favorit gracia.

gracia menggeleng "tidak arta, sepertinya aku akan pulang saja" ucapnya sambil meraih buku dan tasnya.

arta terdiam saat gracia mulai melewatinya "aku minta maaf, shania" ujarnya yang masih sempat untuk didengar oleh gracia, arta berbalik menatap punggung gracia yang membelakanginya "niatku memang salah, tapi kesepakatan itu memang benar adanya! saya butuh bantuan kamu"

garcia berbalik lalu tersenyum kearah arta "sayangnya saya sudah tidak membutuhkan kesepakatan itu arta! kamu bisa belajar dengan murid lainnya, saya tidak bisa membantu kamu" 

arta menggeleng yang membuat gracia menatapnya diam "apa ini artinya kita tidak akan pernah bisa berteman?"

gracia mengangguk "niat kamu berhasil! sejak awal kita memang tidak bisa untuk berteman, arta" ujar gracia dengan mata yang berkaca-kaca "jangan menarik perhatianku lagi arta, kekasihmu tidak akan suka jika mengetahui kamu dekat denganku"

Saat itu, perkataan gracio benar-benar membungkam arta.

Keterdiaman pria bermata sedalam samudra itu bahkan membuat gracia tersenyum sendu lalu berbalik dan pergi meninggalkannya, meninggalkan  arta yang masih saja menatapnya.

bukan lagi cake matcha yang menamani kesedihan seorang shania gracia, tapi sebuah matahari sore yang akan menghilang, indah tapi kesepian, bersinar tapi terluka. 

Dialah senja.

gracia menangis di pantai yang menjadi pantai awal kedekatannya dengan arta, pantai yang masih tersambung dengan beberapa pantai lainnya, tapi kisahnya ada dipantai yang bernama, Pantai barat.

PRAGMA Dandelion (Gradel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang