Meluapkan.

84 10 0
                                        

Typo babe
.
.
.
.
.
.
.
.
.

🕊️LRTGH🕊️

◌⑅⃝●♡⋆♡Happy reading♡⋆♡●⑅⃝◌


Suara dering ponsel nyaring terdengar di sebuah kamar luas bernuansa abu-abu, tangan mungil milik gadis bermata kucing tersebut bergerak ke arah nakas yang yang berada di pinggir kasur itu, meraba-raba mencari ponsel nya yang sedari tadi tak henti-hentinya berbunyi.

Setelah dapat, ia langsung mengangkat panggilan telpon itu tanpa melihat siapa penelponnya.

"Hmm?" Hanya deheman yang keluar dari bibir gadis itu, karna masih mengantuk.

"Nini, baru bangun ya?" Suara yang begitu familiar di pendengaran nya, ia terduduk dan mengucek matanya guna membuat matanya melihat dengan jelas, karna sudah terasa lebih baik, ia melihat nama penelpon dan betapa terkejutnya gadis berambut kecoklatan itu.

"Ini..?" Gumamnya.

"Halo, ini kakek?" Tanya nya memastikan, takut ia salah lihat.

"Iya sayang, ini kakek. Kakek ganggu tidur kamu ya?" Suara berat nan lembut itu kembali mengalun di pendengarannya.

"Kakek, nini kangen.." pria paruh baya itu terkekeh mendengar rengekan sang cucu, ia sangat merindukan nya.

Terakhir kali mereka bertemu adalah saat pemakaman ibu Jennie, satu tahun yang lalu. Ya, tepat satu tahun lalu. Begitu berat rasanya bagi pria paruh baya itu harus meninggalkan cucunya yang tinggal di Korea, sebab ia harus kembali terbang ke Paris untuk mengurus perusahaan nya yang berada di sana.

Sebenarnya sang kakek sempat mengajak Jennie untuk ikut tinggal bersamanya di Paris. Ia menjanjikan rumah besar, kehidupan yang terjamin, pendidikan juga terjamin, dan jarak dari kenangan pahit. Namun Jennie menolak. Gadis itu memilih bertahan di Korea, di tempat terakhir ibunya pernah tertawa, di antara teman-teman yang menjadi sisa pegangan hidupnya.

Satu tahun penuh Jennie lewati dengan berat. Ia belajar hidup sendiri, bangun pagi tanpa suara ibu yang membangunkannya, pulang ke rumah yang terlalu sunyi, dan berpura-pura baik-baik saja di depan semua orang.

Sesekali juga, Jisoo, Rosè, dan juga Lisa akan bermain atau bahkan menginap di rumah besar nan sepi milik Jennie nya itu.

Malam-malamnya sering dihabiskan menatap langit Seoul dari balik jendela kamar, menggenggam ponsel yang menyimpan pesan suara terakhir sang ibu, memutarnya berulang-ulang hanya untuk mengobati rasa rindu nya pada sosok yang telah berpulang.

Rindu itu tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya belajar menyimpannya lebih dalam.

"Iya sayang, kakek juga kangen banget sama cucu kesayangan kakek ini.." ucap nya di seberang telpon sana, Suara itu justru membuat dada Jennie tiba-tiba menjadi sesak, gadis itu tak mampu menahan isaknya. Tentu saja sang kakek mendengarnya, dan seketika nada suaranya berubah panik.

"Hei, kenapa cucu kakek??" Nada nya terdengar panik, Jennie menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya menjawab.

"Nini ga papa, nini cuman kangen banget sama kakek, nini kesepian di sini.. Daddy udah jarang pulang," ujarnya lirih, dengan suara bergetar.

Di seberang sana, sang kakek terdiam cukup lama. Ia tidak tahu persis apa arti kata jarang pulang itu.

Daddy Jennie bukan sekadar sibuk, pria itu menjauh, terlalu diliputi rasa bersalah setelah kepergian istrinya, dan terlalu pengecut untuk menghadapi luka yang yang ia tinggalkan untuk putri kesayangannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 05 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LONG ROAD TO GO HOME Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang