BLACKNUMBER 9

10 0 0
                                        

Jinny membuka pintu kamar sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Kamarnya berhadapan langsung dengan ruang tamu. Di sana ia melihat ada dua wanita paruh baya dengan syal tebal bertengger di pundak mereka.

"Nak," sapa salah satu ibu yang melihat kehadiran Jinny. "Sini, duduk dulu, ibu mau kenalan boleh, Nak?"

Jinny langsung menyambut hangat permintaan ibu itu. Turut ia cium telapak tangan dari kedua ibu paruh baya itu secara bergantian.

"Iya, Bu. Nama saya Park Jinny."

"Iya, Nak. Saya ibunya Lee Soodam yang kamarnya nomor 9. Kamu dekat sama dia nggak, Sayang?"

Jinny mengangguk. "Belum terlalu dekat Bu karena saya jarang di kosan sebulan ini. Tapi dari yang saya tahu, anak ibu baik, rajin belajar dan agak tertutup, ya."

Bukannya berbahagia saat putrinya dipuji, justru ibu dari Soodam menangis. Jinny kebingungnan. "Bu, maaf apa kata-kata saya ada yang salah?"

Ibu satunya mulai menjelaskan. Ternyata dia adalah bibinya Soodam. "Kami datang ke sini karena mendengar dari pihak kampus kalau Soodam mendapat perlakuan buruk dari teman-temannya."

Jinny melongo.

Rupanya Soodam adalah makanan empuk bagi orang brengsek di sekolahnya. Jinny perlahan paham dari mana kesedihan sang ibu paruh baya berasal. Yakni dari Soodam yang baik, rajin belajar dan tertutup. Ketiganya dapat menjadi alasan mengapa gadis itu dirisak.

Tak lama gadis yang sedang dibicarakan datang bersama pria yang sudah berusia juga. Itu adalah pak Lee, ayah Soodam. Gadis itu sempat-sempatnya melempar senyum pada Jinny di kala sudut bibirnya terluka. Kemudian berlalu bersama sang ayah.

Ibu dari Soodam kembali bersua.

"Nak Jinny, ibu tahu kamu hanya satu kos dengan Soodam, tapi apa boleh ibu titip Soodam ke kamu, Nak? Dia terlalu polos. Setidaknya kamu pastikan dia bisa pulang tepat waktu, sisanya biar ibu."

Jinny menangis, entah mengapa hatinya sakit, rasanya sangat terluka.

Begitulah cerita awal dari mengapa Jinny amat menjaga Soodam, meski dari jarak yang terbilang jauh. Bahkan Soodam sendiri tak tahu bahwa Jinny lah orang yang selama ini memantau sosmed perempuan itu, orang yang juga memastikan bahwa tak ada lagi luka sundutan rokok di tubuh gadis itu.

Soodam tak pernah menyadarinya. Sekalipun.

Jinny hanya tak ingin merasakan kesedihan mendalam setelah kehilangan adik kandungnya sepuluh tahun lalu. Cukup sekali saja, batinnya.

*

Setelah pulang dari lokasi syuting, mereka semua kecuali Jennie kembali ke kosan. Namun tak semua bisa menetap. Lisa, Zuu Minji dan Dita pergi karena ada keperluan.

Jinny duduk di ruang tamu bersama Soodam di sampingnya.

"Onnie...."

Mendengar rengekan itu membuat Jinny mengusap wajahnya gusar. "Lu udah begitu 10 kali gue rasa, Dam."

Soodam : (emot cedih)

"Aku gak tau jelasinnya dari mana." Soodam meraba buku jarinya sendiri dengan keresahan di wajahnya.

"Yang jelas gini, deh. Kamu kan tadi pamit ya bilangnya mau nyari jajan, terus si---"

Soodam menahan lengan Jinny. "Aku pamitan? Akuu??"

Jinny nampak jengah. "Iya, kamu loh Dam bilang mau jajan." Soodam serius sekali mendengarkan. Jinny menimpali, "terus Zuu mau ikut tapi aku gak bolehin."

Soodam menangis. Ia melihat sekeliling lalu menarik tangan Jinny menuju belakang kosan yang biasanya digunakan untuk menyimpan barang bekas.

"Kok kamu nangis?" Jinny Mengernyitkan dahi. Tangannya menyapu pipi itu lembut.

Soodam duduk merosot karena kakinya sudah tak sanggup menopang. "Aku.. Aku takut."

"Coba cerita takutnya kenapa?" Jinny memeluk setengah badan Soodam. Rasanya membuat Jinny deja vu kejadian 12 tahun lalu di mana adik kecilnya pun menangis di pelukannya.

"Aku pernah jadi korban bully di sekolah, Onnieh. Dan... Dan modus pertama mereka ke aku itu ngajak aku ke sekolah malam-malam dan aku dikunciin."

Jinny menghela napas.

Soodam menyeka air matanya lalu melanjutkan. "Tadi, tadi juga sama.. Zuu minta ditemenin ke suatu tempat, tapi akunya malah ditinggal. Aku pikir di sekolah sama di kosan beda tapi ternyata sama aja. Aku cuma bisa percaya sama Jinny Onnie sekarang."

Jinny menangis. Keduanya bersedih sekarang.

"Aku takut, aku gak mau kayak dulu lagi. Rasanya sakit."

*

Di jam segini biasanya orang-orang sedang menikmati tidur siangnya dengan nikmat. Tetapi tidak dengan Kim Jennie. Dia sedang mengecek kabar tentang seberapa hangat berita tentang aktor dari agensi utama di perusahaannya.

"Kadang meskipun ibaratnya 'mereka' bersaudara, fans mah bisa aja ya saling membenci."

Jennie mangut. "Bahkan penggemar grup besar pun bisa saling benci. Gue pun bingung."

Nuki tertawa. Ia menyajikan kopi susu kesukaan Jennie dan menyambut ucapan Thanks dari sang rekan dengan senyuman.

Jennie memampangkan isi layar ponselnya. "Kalo misalnya penikmat drama suka sama acting temen gue tadi, ada kemungkinan dia dipingit gak sih sama agensi?"

Nuki menerawang. "Kalo dengan kemampuan dia sekarang agaknya susah ya, Jen. Maksud lo Jisoo tadi, kan?"

Jennie mengangguk. "Tapi overall she's good, loh."

Nuki mengangguk. "Ne. Tapiiii lo tau kan standart of this company like—?"

Jennie mangut. "Apalah gue bukan bagian penting dari company ini jadi gak bisa buat lebih."

"Emangnya harus banget lo masukin dia ke sini? Gak mau nyoba agensi lain aja setidaknya dia bisa kembangin mimpinya dulu? Kalo berhasil kan bisa ke sini."

"Yehh, ibaratnya manis ditelen pait diuyup. Masa kita cuma ambil bagusnya doang. Nanti si artisnya bakal di-cap buruk dong sama netizen."

Nuki tertawa. "Iya, sih."

Jennie menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue pengen temen gue pindah kerja, Nuk."

"Emang ada apa sih sama dia? Gue pikir dia cuma mau jadi artis kayak orang biasanya ke sini."

Jennie menggeleng.

*

Minji baru saja sampai kosan, dia memasukkan sekuternya dan melepas helm mungilnya itu. Bagai marmut imut, Minji yang mengenakan sweater berwarna oren masuk dengan ransel kecilnya.

"Ji, bisa ikut gue sebentar?"

Minji kaget, tiba-tiba banget Jinny mendekatinya.

Walau belum tahu banyak, bukan berarti Minji akan menolak permintaan Jinny. Karena Minji terbiasa menerapkan kata 'welcome and good bye' dengan senang hati.

"Ada apa?"

Jinny meminta tolong Minji untuk masuk ke kamarnya dengan dalih ada hal yang perlu diadukan ke Pak Sung, alias bokapnya Minji.

"Ini, tembok kamar gue udah luntur. Kalo misalnya minta tolong bokap lo nge-cat bisa gak ya? Gue gak bisa nge-cat dan gue lumayan sibuk."

Minji membuka mulutnya seolah paham dengan masalah Jinny. "Oh paham paham, nanti aku omongin dulu, ya. Palingan kalo appa sibuk dia bakal hire orang ke sini."

Jinny menangguk. "Ada hal yang mau gue bicarain juga sama lo, selain ini." Jinny menunjuk temboknya. "Tentang Zuu sekarang. Temen lo, kan?"

Minji mengangguk.

*****


Selasa, 8 Juli 2025
1023 kata
11:28

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 08, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

BlackNumber IndekosCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang