Setelah palu di ketuk, Marcel dan anggota keluarga lainnya bernafas dengan lega. Akhirnya semua usaha yang ia lakukan membuahkan hasil yang baik. Saking bahagianya, laki-laki itu menarik istri dan anak-anaknya untuk berpelukan, tidak peduli meskipun ada yang menatap mereka dengan tatapan tajam.
Akhirnya hak asuh Lula tetap berada di tangan Marcel, meskipun persyaratannya Kaluna bisa menemui Lula kapan saja, setidaknya Lula tetap berada di bawah jangkauannya.
"Selamat, Mas! Lula akan tetap bersama kita" Ucap Raina sembari mengusap kepala Lula yang kini mendekapnya begitu erat.
Marcel mengangguk "Hari ini, kita awali semuanya"
"Ayah, kenapa dia jalan kearah sini?" Ucapan Shaka membuat mereka yang awalnya memfokuskan diri pada Lula, menoleh ke obyek yang Shaka maksud. Ternyata Kaluna sudah berdiri di hadapan mereka, dengan Kaivan di sampingnya.
"Mau apa lagi kamu?!" Tanya Marcel dengan nada permusuhan. Sedangkan Kaluna terlihat begitu angkuh dengan tangan tersilang di dada.
"Selamat, hak asuh anak-anak ada di tangan kamu. Tapi jangan lupakan, hasil persidangan juga menyatakan kalau aku bisa bertemu dengan mereka kapan saja" Ucapnya sambil menepuk pundak Zerga yang kebetulan berdiri paling dekat dengannya.
"Kalau kamu mau bertemu dengan mereka kapan saja, silahkan. Tapi kalau mereka juga mau, kalau mereka nggak mau, kamu nggak bisa memaksa" Jawab Raina dengan pembawaannya yang begitu tenang.
Kaluna menatap Raina dengan tatapan mengejek "Oh aku hampir lupa, selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian cepat di berikan momongan!" Namun tak lama kemudian perempuan menutup mulutnya, seolah baru saja mengingat sesuatu "ah maaf, aku baru ingat! kamu kan mandul, mana bisa punya anak" Ucapnya sambil terkekeh. Semua orang terkejut, termasuk Kaivan yang kini mencengkeram lengan istrinya itu.
"Jaga bicara anda!" Tegur Zerga, entah kenapa ia sangat kesal mendengar wanita yang kini berstatus istri sah ayahnya itu di hina.
Sedangkan Raina, bukannya merasa sedih, ia justru ikut terkekeh membalas ucapan Kaluna "Terimakasih atas perhatiannya, aku memang tidak bisa punya anak. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada harus menelantarkan anak kandung sendiri demi karir dan laki-laki lain" Kali ini Kaluna kalah telak, karena kesal wanita itu akhirnya pergi dari ruang persidangan itu, meninggalkan Kaivan yang kini menatap orang-orang di hadapannya dengan tatapan bersalah.
"Maafkan Kaluna, emosinya lagi nggak baik akhir-akhir ini" Ucapnya yang di angguki oleh Marcel dan Raina. Barulah setelah itu Kaivan ikut melenggang pergi dari sana.
Marcel dan keluarga kecilnya juga memilih pergi. Hari ini mereka akan pindah ke rumah yang sudah di beli oleh Marcel, jadi ada beberapa hal yang mesti di urus. Tidak hanya mereka, orangtua Raina hari ini juga memutuskan untuk kembali ke rumah lamanya atas permintaan ibunya. Katanya, Ibu Raina ingin memberikan pelajaran pada tetangga-tetangganya dulu yang suka mencemooh Raina. Ayahnya dan Raina sendiri hanya geleng-geleng kepala mendengarnya.
***
Dua mobil itu memasuki area perumahan yang begitu besar dan mewah, bisa di bilang sebuah Mansion. Raina dan anak-anak bahkan sampai melongo begitu turun dari mobil sudah di suguhi pemandangan yang luar biasa indah itu. Di sekeliling Mansion itu terdapat banyak tumbuhan, terlihat begitu asri.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.