10. Ancaman

396 55 29
                                        

Satu minggu sudah berlalu sejak pembatalan sepihak yang di lakukan oleh Raina, dan selama itu pula orangtua Raina masih mendiamkan putri semata wayangnya itu. Raina frustasi! ia mana bisa di diamkan oleh Ayah dan Ibunya selama itu, kalau bisa pun ia lebih memilih pindah rumah daripada harus satu rumah dengan orangtuanya daripada harus di diamkan seperti ini. Raina sadar akan kesalahan yang ia lakukan, namun apakah harus sampai seperti ini? menurutnya ini terlalu berlebihan.

Raina memijit pelipisnya, setelah pernikahan dinyatakan batal satu minggu lalu, ia tidak luput dari komentar orang-orang di Rumah Sakit milik keluarganya itu. Beberapa orang berani membicarakannya secara terang-terangan dan sisanya hanya berani saling berbisik. Raina jelas tahu, karena ia memiliki Seana sebagai CCTV berjalannya.

"Kamu nggak berniat bunuh diri kan?" Tanya Seana dengan santainya sembari mengambil duduk di sofa yang ada di ruangan sahabatnya itu.

Raina menatap tajam Ibu dua anak tersebut, "Aku lagi frustasi, tapi pikiran semacam itu nggak pernah terlintas sekalipun! cuma orang bodoh yang menyelesaikan masalah dengan cara bunuh diri!" Ucapnya.

Seana tertawa "Habisnya mukamu kelihatan putus asa begitu"

"Gimana nggak putus asa? Ayah sama Ibu masih belum mau bicara sama aku Na, belum lagi Rafael yang nggak pernah mau nerima pesanku sama sekali, padahal aku cuma mau minta maaf secara langsung" Raina menghela nafas, kepalanya ia sandaran di sandaran kursi.

Seana tersenyum, sebagai sahabat ia tentunya tahu apa yang kini tengah di rasakan oleh Raina "Wajar Rai, namanya juga baru batal nikah. Dia butuh waktu buat ketemu kamu lagi, tunggu aja nggak lama lagi dia pasti bakal maafin kamu kok" Seana mencoba untuk menenangkan sahabatnya.

"Oh iya, kemarin ada anak perempuan yang nyariin kamu kesini, dia siapa Rai?" Tanya Seana.

Raina mengerutkan dahinya, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum "Oh Lula? dia anak Mas Marcel, tetangga yang pernah aku ceritain ke kamu itu" Seana langsung ber-oh ria.

"Anaknya cantik ya, pasti Ayah Ibunya juga cantik dan ganteng" Seana tidak berbohong, walau ia sendiri memiliki wajah yang cantik, tapi setiap kali melihat orang cantik ia selalu kagum.

Raina tersenyum "Kalau ayahnya emang lumayan ganteng, tapi kalau Ibunya aku belum pernah ketemu"

"Hmm, sayang banget anak cantik dan sopan begitu harus jadi korban keegoisan orangtua"

"Aku juga terkadang ikut sedih liat anak itu yang pengen banget punya sosok Ibu di sampingnya"

Seana menatap Raina dengan tatapan menggoda "Kalau begitu, kenapa nggak kamu aja yang jadi ibu sambungnya? kemarin aku sempet denger juga dia udah manggil kamu bunda?"

"Aku memang ngebolehin dia manggil bunda, tapi kalau buat jadi ibu sambungnya nggak mungkin deh Na, lagipula Mas Marcel mana mau sama aku" Ucapnya Raina entah sadar atau tidak.

Seana kontan melotot "Itu artinya kalau Ayah dari anak itu melamar kamu bakal terima?! wahh kamu masih waras kan Rai? Rafael yang masih bujang kamu tolak, tapi seorang duda empat anak mau kamu terima?" Jelas ucapan itu hanya candaan belaka.

Raina berdecak "Ya nggak gitu maksudnya, entahlah capek ngomong sama kamu! sana keluar! aku mau ketemu sama dokter Andrew dulu, mau bahas hasil medis pasien"

Seana segera berdiri tapi tatapan menggodanya masih belum ia lepas "Kalau kamu beneran mau jadi ibu sambung Lula nggak apa-apa kok Rai, aku bakal dukung"

"Seana!"

Seana langsung kabur, sembari terbahak melihat wajah Raina yang seperti kepiting rebus.

***

Sayap Putih Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang