Part 7

897 89 14
                                        


 
"Tae"

Taehyung yang sedang merapikan isi ranselnya pun menengok ke arah pintu. Mendapati seorang wanita paruh baya yang berdiri tak jauh darinya.

"Sudah mau berangkat?"

Kim Minyoung yang merupakan ibunda dari Taehyung melangkahkan kaki memasuki kamar anak sematawayangnya.

Kemarin kedua orang tua Taehyung baru saja pulang dari luar negeri. Kembali menginjakkan kaki di negeri gingseng setelah pergi sebulan lamanya.

"Iya, Ma" Taehyung menarik resleting ranselnya lalu beralih memfokuskan pandangan pada sang ibu. "Ada apa?"

Minyoung menggeleng. "Bukan apa-apa. Hanya saja ketika Mama dan Papa pulang, kau malah pergi"

Taehyung terkekeh. "Mau bagaimana lagi, kegiatan kampus tidak bisa di ganggu gugat"

"Iya-iya" Minyoung mengusap lengan Taehyung lembut. "Hati-hati ya nanti. Jangan lupa bawa oleh-oleh yang sudah Mama siapkan untuk pacar mu"

Taehyung mengangguk seraya tersenyum hangat. Beringsut memeluk sang ibu sedikit erat. Mereka baru bertemu setelah berpisah cukup lama dan sekarang terpaksa berpisah lagi selama tiga hari lantaran Taehyung harus mengikuti malam keakraban yang diadakan oleh anggota UKM kampus.

"Oh ya" Minyoung melerai pelukan keduanya. "Kau naik mobil sendiri, kan?"

Taehyung mengangguk lagi. Dan seketika kalimat lanjutan yang dilontarkan Minyoung mampu membuat ia terpaku.

"Kalau bisa ajak Jihoon sekalian. Kasihan dia jika harus naik bis. Kau tahu kan Jihoon tidak bisa naik bis sejak kecil"

Baru saja Taehyung merasa senang. Kini ia kembali dipaksa oleh kondisi yang mengharuskannya menerima sesuatu yang bukan tanggung jawabnya. .

"Tapi Ma"

Belum sempat Taehyung mengajukan negosiasi. Minyoung memotong kalimatnya cepat.

"Tae, kasihan Ibu Jihoon. Dia hanya memiliki Jihoon setelah suaminya meninggal. Tak ada salahnya menolong. Lagi pula, Jihoon itu kan teman mu dari kau berusia tiga tahun"

Selalu begitu. Selalu atas dasar kasihan dan kasihan. Taehyung muak. Ingin sekali menolak tapi ia seolah tak diijinkan.

Hela napas sedikit kasar. Pada akhirnya Taehyung selalu menurut. Semua yang ia lakukan adalah demi sang ibu.

Taehyung sangat menyayangi ibunya.

.

.

.

 




Taehyung memberhentikan range rover merah miliknya di depan pagar rumah Jungkook. Menoleh malas pada kursi bagian penumpang di sampingnya yang sudah terisi oleh seseorang.

"Kau tunggu di sini" Katanya seraya melepas seat belt.

Ketika tangannya hendak meraih handle pintu, lelaki disebelahnya menahan dengan cepat.

"Aku tidak bisa ikut turun?" Tanyanya.

Berdecak kesal. Taehyung menatapnya tajam seolah mengintruksikan untuk diam dan menurut.

"Tapi, Tae—"

"Kalau kau banyak bicara lebih baik kau berangkat sendiri, Jihoon"

Mutlak. Jihoon tak bisa lagi berkilah. Seharusnya ia cukup tahu diri. Jika bukan karena Minyoung, Taehyung tak akan mau menjemputnya. Dan jika bukan karena Seulhee, Taehyung tak akan sudi membiarkannya duduk di kursi penumpang depan.

Taehyung bergegas turun. Lalu membuka pintu penumpang bagian belakang demi mengambil buah tangan untuk diberikan kepada keluarga dari kekasihnya.

Memencet bel rumah sebanyak dua kali. Pintu terbuka dan menampilkan presensi seorang lelaki berumur lima tahun lebih tua darinya.

Jeon Hoseok, kakak kandung Jungkook berdiri disana dengan tangan yang bersidekap. Menatap Taehyung penuh penilaian.

Meneguk ludah susah payah. Taehyung mencoba memberikan senyum paling ramah yang ia punya. Lama tak terlihat karena bekerja di luar kota, rupanya Hoseok sedang mampir ke rumah.

"Hallo, kak—"

"Pacar adik ku?" Tanyanya basa-basi. Padahal ia sudah tahu jelas siapa lelaki dihadapanya ini.

"I-iya"

"JUNGKOOK, PACAR MU DATANG!" Teriaknya memanggil sang adik.

Sembari menunggu, Taehyung lekas mengulurkan buah tangan yang ia bawa. "Ini, saya bawakan oleh-oleh dari Mama dan Papa"

"Hoseok, jangan menganggu Taehyung" Jungkook mengomel sesaat setelah ia menginjakkan kaki di lantai dasar rumahnya.

"Kak" Sahut Hoseok mengoreksi. Ia mengambil alih buah tangan yang Taehyung bawa. "Awas kalau kau macam-macam dengan adik ku" Sambungnya.

"Ish" Jungkook menggebuk lengan sang kakak. "Sudah sana pergi!"

Tak lupa Jungkook menutup pintu terlebih dahulu.

"Bibi tidak ada?"

Jungkook menggeleng. "Ibu sedang pergi ke pertemuan rutin"

Mereka berjalan ringan menuju range rover merah yang terparkir di depan pagar rumah keluarga Jeon. Taehyung hendak memberitahu Jungkook mengenai keberadaan seseorang di dalam mobilnya. Namun sepertinya terlambat.

Jungkook sudah menarik handle pintu hingga terbuka lebar. Matanya kontan melotot menemukan presensi Jihoon yang duduk di kursi penumpang depan.

Ia menoleh cepat ke arah Taehyung seolah meminta penjelasan.

"Jungkook, dengar dulu. Aku minta maaf" Taehyung tampak kalabakan. "Bukan maksud ku tidak memberitahu mu—"

"Ck, aku diantar Hoseok saja"

Taehyung bergegas mencegah Jungkook yang ingin berbalik menuju pagar rumah.

"Tunggu" Ia menahan lengan Jungkook supaya tak melangkah pergi. Lantas tatapannya bergeser pada Jihoon. "Jih, bisa kau pindah ke belakang?"

"Apa? Kenapa jadi begitu? Aku tidak mau. Aku tidak bisa duduk di belakang. Nanti aku pusing"

Berdecih kesal. Jungkook menyentak tangan Taehyung yang memegangnya. "Kau mau aku duduk di belakang?"

Taehyung menggeleng cepat. "Tidak"

"Kemarikan kuncinya" Perintah Jungkook seraya menengadahkan tangan.

Taehyung bimbang. Jika Jungkook yang mengemudi ia tak dapat memperkirakan apakah mereka akan selamat sampai tempat camping atau tujuan yang lainnya.

Masalahnya Jungkook yang sedang diliputi amarah itu bisa lebih nekat dari biasanya.

"Ju—"

"Kemarikan atau aku diantar Hoseok"

Maka Taehyung tak memiliki pilihan lain. Ia menyerahkan smart key mobilnya kepada Jungkook.

Perdebatan itu diakhiri dengan Jungkook yang mengemudi dan Taehyung duduk di kursi penumpang belakang seorang diri.
 

[ ]

 

jadii jh itu temennya th dr kicik...

Take Two || taekook (Discontinue) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang