Part 8

1K 101 7
                                        

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu satu setengah jam. Berhasil ditempuh dalam kurun waktu satu jam. Lebih cepat tiga puluh menit dari perkiraan maps.

Dapat ditebak bagaimana cara Jungkook mengemudikan mobil milik Taehyung. Sang pemilik yang duduk di kursi belakang menghembuskan napas lega. Setidaknya mereka tiba dengan selamat.

Sementara Jihoon bergegas turun dari mobil dan berlari ke semak-semak demi memuntahkan isi perutnya.

"Kau gila ya!" Teriak Jihoon. Wajah pemuda itu tampak pucat. "Kau mau membunuh kita? Hah!"

"Jihoon!" Taehyung menegur. Tak suka melihat cara Jihoon berteriak ke arah Jungkook yang telah rela menyetir jauh-jauh. "Kau sebaiknya berterima kasih"

Jihoon menganga tak percaya. Pun tatapan intimidasi dari Taehyung buatnya tidak lagi mengeluarkan protes.

"Jung, kau lelah tidak?" Nada bicara Taehyung berubah melembut.

Tak kunjung menjawab. Jungkook justru membuang muka sebab masih merasa kesal pada Taehyung yang mengajak Jihoon tanpa sepengetahuannya.

Dan Taehyung tidak bisa membiarkan Jungkook marah terlalu lama. Ia mendekat. Raih tubuh yang lebih pendek darinya tersebut untuk dibawa ke pelukan. Mengabaikan eksistensi sepasang mata lain yang kini menatap ke arah mereka dengan tak suka.

Lengan Taehyung melingkupi pundak Jungkook. Sedangkan Jungkook balas melingkarkan lengan di pinggang Taehyung.

Agaknya Jungkook juga tidak bisa marah terlalu lama. Kepalanya mendusal manja di bahu lebar Taehyung. Tak memungkiri bahwa ia memang lelah.

"Kalau lelah istirahat dulu saja. Nanti aku bantu mendirikan tenda mu"

Dehaman keras yang berasal dari seseorang yang baru saja datang kontan melerai pelukan sepasang kekasih tersebut.

"Kau bisa melanjutkan mesra-mesranya nanti, Tae. Sekarang kita perlu barang yang ada di bagasi mobil mu"

Itu Namjoon yang datang bersama Jimin dan panitia lainnya. Mereka harus segera mengambil sebagian peralatan camping yang dititipkan di mobil Taehyung dan mulai mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam.



.

.

.


Pukul delapan malam, Namjoon, sang ketua kegiatan mengumandangkan pengumuman melalui speaker. Seluruh anggota diminta untuk segera berkumpul dan membentuk barisan di lapangan.

"Jadi, malam ini kita akan mengadakan permainan. Semua anggota akan dibagi kedalam kelompok secara acak. Caranya adalah masing-masing dari kalian mengambil nomor dari kotak yang dipegang oleh Jimin. Yang mendapat nomor sama maka akan berada dalam satu kelompok"

Oke. Permainan menyebalkan di mulai. Jungkook sebenarnya malas. Terlampau malas. Ia sama sekali tak minat bergabung dalam satu kelompok bersama orang-orang yang tidak dikenal.

Kalau saja bukan karena Taehyung, Jungkook tak akan mau mengikuti acara malam keakraban yang sungguh tidak berguna.

"Jung, kau dapat nomor berapa?" Lisa bertanya setelah mengambil nomornya. Ia mendapatkan nomor sembilan.

"Lima"

"Wah, kita sekelompok!" Bambam menjerit heboh.

"Tidak adil" Sungut Lisa tak terima lantaran tidak berada di satu kelompok bersama sahabatnya.

Jungkook hanya memutar bola mata menyaksikan Bambam yang mengejek Lisa dan Lisa yang mengomel kesal. Dari tadi ia terus celingukan ke kanan dan kiri mencari presensi sang kekasih.

"Silahkan baris sesuai kelompok masing-masing ya" Kata Namjoon yang langsung dijalankan oleh para anggota.

"Mmm, kak Namjoon" Jungkook berbisik kala teman dari kekasihnya itu membagikan sebuah kertas secara bergantian ke setiap kelompok.

"Ya? Ada apa, Jungkook?"

"Lihat kak Taehyung tidak ya?"

"Oh, Taehyung menjaga pos tiga malam ini" Namjoon membuka gulungan kertas di tangannya. Lalu menyerahkannya pada Jungkook. "Kau bawa satu untuk kelompok mu"

Jungkook mengangguk. Tak lupa mengucapkan terima kasih. Pantas saja, sejak bangun tidur ia tidak melihat keberadaan Taehyung. Ternyata lelaki itu lebih dulu meninggalkan area tenda untuk berjaga disalah satu pos yang nantinya akan mereka sambangi.

.

.

.



"Jung, kau yakin sudah benar jalannya?"

Bambam mengedarkan mata ke sekitar. Semakin mereka berjalan semakin lebat pepohonan. Dimana-mana gelap, mereka hanya mengandalkan cahaya dari bulan dan dua lampu senter.

"Sepertinya kita salah jalan" Sahut Yugyeom yang berada di barisan paling belakang.

Kelompok mereka berisikan lima orang. Jungkook, Bambam, Yeri, Dahyun, dan Yugyeom. Jungkook berada di barisan paling depan memegang peta yang diberikan oleh Namjoon. Mereka sudah melewati pos dua dan sekarang harus menuju ke pos tiga.

"Benar kok. Ke arah sini" Jungkook menunjuk ke kiri yang mana semakin banyak tanaman-tanaman yang lebat.

"Yang benar saja, Jung. Aku takut ke sana" Yeri yang sejak tadi merasakan hawa tak mengenakan bergidik ngeri kala matanya mengikuti arah pandang Jungkook. "Lebih baik kita kembali ke pos dua"

Jungkook berdecak. "Nanti kita semakin lama sampainya"

"Dari pada tersesat? Kau mau tanggung jawab kalau kita tersesat?"

Memejamkan mata sejenak. Jungkook menarik napas panjang. Mencoba tidak turut melibatkan emosi lantaran Yeri yang meninggikan vokalnya.

"Terserah. Kalau kau mau jalan ke sana silahkan. Aku mau jalan ke sini"

"Jung, serius? Jangan mengada-ngada. Nanti kau tersesat sungguhan" Bambam menimpali. "Benar kata Yeri, sebaiknya kita kembali ke pos dua dulu"

Lantas Jungkook merampas lampu senter yang berada di tangan Bambam. "Silahkan bagi kalian yang ingin kembali ke pos dua. Aku tetap akan berjalan ke sana"

"Jung" Segera Bambam menahan lengan Jungkook agar tak beranjak.

Namun memang dasarnya keras kepala, Jungkook langsung menepis tangan Bambam. Ia hanya ingin cepat sampai dan menyelesaikan permainan.

Bukan semata-mata karena kelompok Jihoon sudah lebih dulu menuju pos tiga. Bukan.

Jungkook yakin bukan karena itu.

"Ya sudah. Silahkan kau ke sana sendiri. Aku akan kembali ke pos dua" Ucap Yeri lalu berbalik arah dan melenggang pergi.

"Yeri, aku ikut kau!" Imbuh Dahyun yang kemudian menyusul langkah Yeri.

"Kenapa jadi rumit begini?" Yugyeom mengacak-acak rambutnya frustasi. "Bam, aku susul mereka dulu. Kasihan mereka wanita"

Kini tinggal mereka berdua. Bambam melirik Jungkook yang sibuk membaca peta. Seperti sadar sedang diperhatikan ia kontan menyeletuk tak pikir panjang.

"Kau ikut mereka saja jika tak ingin bersama ku"

Bambam terhenyak. "B-bukan begitu, Jung. Kau kan tahu aku takut gelap" Cicitnya.

Hela napas berat. Jungkook menatap Bambam dengan serius. "Aku tidak memaksa mu. Terserah kau saja"

Setelahnya Jungkook berjalan penuh percaya diri mengikuti insting. Memantapkan diri bahwa ia bisa menyelesaikan permainan dengan baik.


[ ]





selamat hari minggu semwa.

Take Two || taekook (Discontinue) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang