Part 15

858 93 20
                                        

Pintu kamar yang diketuk lambat lantas membuat Jungkook membuka kedua matanya. Melirik pada jam beker di atas nakas yang belum berbunyi sebab belum menunjukkan pukul tujuh.

Menguap sebanyak dua kali sebelum memutuskan untuk bangkit dari ranjang dan berjalan malas ke arah pintu.

"Jungkook, Taehyung menunggu mu di bawah" Ujar sang ibu yang mana sontak menjadikan Jungkook mematung di ambang pintu.

Otaknya memutar kembali ingatan mengenai percakapannya dengan ibu Taehyung kemarin malam. Tentang Jihoon yang sedang sakit.

Pun Jungkook menjadi banyak mengerti penyebab Jihoon yang mudah kelelahan.

Kanker adalah sebuah penyakit yang Jungkook tahu pengobatannya tidaklah mudah dan tergolong mahal.

Tak pernah terpikir olehnya bahwa penyakit tersebut akan hinggap pada seseorang yang ia benci. Pantas saja ibu Taehyung selalu memperlakukan Jihoon dengan hati-hati seolah dia adalah barang yang mudah rapuh.

Sebenarnya bukan maksud Jungkook tidak mau berempati, tetapi ini masalah hati. Jungkook menyayangi Taehyung. Begitu pula sebaliknya.

"Kau kenapa melamun seperti orang dungu?"

Mendelik kesal. Spontan kerutan di dahi Jungkook muncul tatkala Hoseok—sang kakak berdiri di hadapannya seraya bersidekap.

"Sejak kapan kau di sini?" Tanya Jungkook seraya menatap Hoseok skeptis.

"Sejak kemarin malam. Aku melihat mu turun dari taxi semalam. Kemana kekasih tercinta mu itu? Kenapa tidak mengantar mu?"

"Cih, ingin tahu saja urusan orang" Ujar Jungkook singkat lalu beranjak pergi. Meninggalkan Hoseok yang mencibir kesal pada sang adik.
  
 

.

.

.

.





"Tae" Panggil Jungkook sesaat setelah ia menapaki lantai dasar rumahnya. Ia berjalan pelan ke arah Taehyung yang sedang duduk sendirian menunggu dirinya di sofa ruang tamu.

"Jungkook"

Tanpa ragu, Taehyung lekas berdiri kemudian menyambut sang pujaan hati dengan sebuah pelukan yang teramat erat.

"Taehyung, sesak" Katanya seraya memukul-mukul kecil punggung Taehyung.

"Maaf-maaf" Taehyung menyudahi namun kedua tangannya masih setia bertengger di pinggang ramping Jungkook. "Aku minta maaf tentang kejadian semalam. Karena terpaksa meninggalkan mu. Dan juga tentang aku dan Jihoon. Sumpah mati, aku tidak bermaksud menutupi masa lalu. Aku sungguh—"

Satu kecupan Jungkook beri di bibir Taehyung. "Aku tahu, Tae" Lalu tersenyum setelahnya. "Jujur aku sempat kecewa pada mu tapi sekarang aku mengerti. Bibi Kim sudah menceritakan semuanya"

Taehyung terdiam memandang Jungkook cukup lama. Tatapannya mengisyaratkan rasa takut akan kehilangan. Peluk sekali lagi sang pujaan hati. Taehyung lantas berbisik pelan. "Ayo menikah. Aku akan menikahi mu tahun depan"

"Tae—"

Belum selesai Jungkook berbicara, suara deheman seseorang yang baru saja datang lantas mengalihkan perhatian dua sejoli yang tengah sibuk berpelukan.

"Ayah" Sapa Jungkook.

Jeon Daesung berdiri tak jauh dari keduanya. Ditangan kanannya menenteng satu buah papper bag yang sepertinya berisi kue.

"Selamat pagi, Paman Jeon" Taehyung membungkuk penuh kesopanan. Lalu tersenyum dengan sedikit kikuk setelahnya.

Layaknya telah tertangkap basah, mendadak Taehyung menjadi sangat malu.

Take Two || taekook (Discontinue) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang