Part 3

1K 97 14
                                        

Sore hari, pukul empat lebih tiga puluh menit. Jungkook baru saja menyelesaikan kelas praktikumnya. Usai memasukkan jas putih; jas kebanggaan mahasiswa kedokteran; ke dalam loker, ia bergegas menuju kantin.

Haus sekali. Ia butuh minuman dingin yang dapat menyegarkan tenggorokan. Dua jam penuh berada di laboratorium agaknya membuat energi Jungkook terkuras.

"Jungkook!"

Tolehkan kepala menatap sesosok wanita yang merupakan sahabatnya. Jungkook memutar bola mata malas kala Lisa berjalan menghampiri.

"Aduh, kau ini gemar sekali meninggalkan kita" Tak lama, Bambam terlihat baru tiba di kantin. Menyusul.

"Salah sendiri terlalu lama. Aku hampir mati kehausan" Jungkook menyeruput minuman ice cappucino yang ia beli.

Rasanya melegakan.

Kemudian ia mengambil sebuah cermin dari dalam tas. Meneliti riasan wajahnya yang mungkin sudah sedikit luntur. Ia berniat untuk memperbaiki penampilannya yang sedikit kucel.

Poleskan liptint berwarna merah di bibir. Mencecap beberapa kali agar warnanya merata.

"Memang harus ya makeup sebelum pulang?" Bambam bertanya.

Jungkook memasukkan kembali liptintnya. "Iya. Ini adalah cara untuk memikat Taehyung"

"Genit"

"Terserah. Yang penting Taehyung tergila-gila pada ku"

Lisa tertawa. "Aku jadi ingat. Kau yang dulu berpura-pura jatuh saat orientasi supaya ditolong oleh kak Taehyung. Rela terlambat agar dapat hukuman. Dan bahkan berjualan risol agar bisa mampir ke fakultas teknik. Untung usaha mu tak sia-sia. Sekarang malah kak Taehyung yang seperti cinta mati pada mu"
   

Benar. Dulu ketika masa-masa awal menjadi mahasiswa. Di acara orientasi mahasiswa baru, Jungkook ingat sekali. Taehyung ada di sana. Menjadi salah satu panitia saat itu.

Dan untuk pertama kalinya, Jungkook dibuat terpesona. Lelaki yang memiliki tatapan sedingin kutub utara dan setajam elang itu berhasil memerangkap Jungkook.

Cara Taehyung berbicara di atas podium. Cara Taehyung berjalan. Dan cara Taehyung menegur beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang tidak taat aturan sungguh terlihat keren di mata Jungkook.

Seketika ia ingin mendekati kakak tingkatnya itu. Jungkook bertekad untuk mendapatkannya. Maka tepat di hari kedua orientasi, saat semua mahasiswa dan mahasiswi diharuskan berjalan mengelilingi kampus. Jungkook sengaja menjatuhkan diri hingga lututnya berdarah.

Beberapa panitia mendekat panik. Jungkook lantas berpura-pura menangis.

"Tae, tunggu sebentar. Ada yang jatuh" Jimin menghentikan rombongan mereka.

Taehyung segera mendekat. Berjongkok untuk mengecek keadaan Jungkook. "Sakit?"

"I-iya...hiks"

"Biar aku saja yang membawanya ke unit kesehatan. Kalian bisa lanjutkan perjalanannya. Jim, tolong dikoordinasikan ya?"

Spontan Jungkook melingkarkan kedua lengan di leher Taehyung kala kakak tingkatnya itu mengangkatnya dengan begitu mudah.

"Jisoo, tolong obati dia"

Baru saja Taehyung ingin melangkahkan kakinya pergi usai menyerahkan tanggung jawab kepada Jisoo. Namun dengan cepat, Jungkook menahan lengan Taehyung.

Menjadikan pria itu terdiam. Alis kanan terangkat tinggi, menatap Jungkook penuh tanya.

"Jangan ditinggal" Jungkook setengah merengek. Mata yang masih berkaca-kaca agaknya berhasil membuat Taehyung mengalah dan berakhir menemani pemuda itu selama di obati.
   

Jungkook tersenyum bangga mengingat hal tersebut. "Tentu saja, siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Jeon Jungkook?"

"Percaya diri sekali. Merinding aku" Celetuk Bambam.

Jungkook mendelik ke arahnya. Lalu bergegas beranjak dari tempat duduk setelah menghabiskan satu cup cappucino.

"Mau kemana?" Tanya Lisa.

"Menemui pacar"
  
    

.

.

.
  
  

Jungkook melihat Taehyung yang tengah mengobrol dengan seorang perempuan. Mereka tampak serius membahas sesuatu di dekat ruang kelas yang agak sepi.

Jika diperhatikan lebih detail, Jungkook dapat menangkap dengan jelas gerakan perempuan yang tidak diketahui namanya itu seperti tengah tersipu.
 

Apa-apaan itu?
  

Beberapa menit menunggu. Jungkook bersidekap seraya menatap objek di depan sana. Sesekali ia akan mendengus kesal tatkala perempuan itu sengaja melakukan sentuhan dengan Taehyung.

Kesabaran Jungkook sungguh habis ketika perempuan itu sengaja menjatuhkan penanya. Berpura-pura terkejut lalu berusaha menunduk. Hingga belahan di dadanya terlihat.

"Sialan" Jungkook berjalan cepat. Tanpa berkata apapun, ia menarik sang wanita hingga nyaris tersungkur.

"Jungkook?" Taehyung tak bisa menyembunyikan raut terkejutnya kala kekasihnya datang entah dari mana dan langsung melakukan serangan.

"Dasar wanita tidak tahu malu. Kau sengaja ingin menggoda kekasih ku? Hah!"

Meski wanita itu lebih tua, Jungkook tak segan memakinya di ruang publik.

"Bocah gila! Kau apa-apaan! Kurang ajar sekali dengan kakak tingkat"

"Jungkook, sudah" Taehyung mencoba menenangkan Jungkook dengan memeluknya. Berusaha menjauhkan sang kekasih dari teman wanitanya itu. "Jihyo, kita bahas nanti lagi saja bersama yang lain. Aku harus pergi"

Lalu Taehyung membawa Jungkook untuk pulang bersamanya.

Di mobil suasana begitu senyap. Jungkook seolah tidak ingin melihat wajah Taehyung. Pemuda itu mengalihkan pandang ke luar jendela seraya bersidekap.

"Marah?" Akhirnya Taehyung membuka suara kala mobil yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.

Jungkook tetap diam. Melirik pun tidak ia lakukan.

"Jungkook"

Masih tidak ada jawaban dari sang pemilik nama. Taehyung menghela napas.

"Sayang" Panggilnya lagi. Kali ini berhasil membuat Jungkook menoleh meski barang sejenak.

Taehyung tersenyum tipis. Pikirnya lucu sekali Jungkook yang sedang marah.

"Mau makan dulu atau langsung pulang? Atau mau ke rumah ku saja?"

"Ke rumah mu saja" Balasnya ketus.

"Mau menginap?"

Sontak Jungkook menoleh lagi. "Boleh?" Kali ini nada bicaranya lebih kalem.

"Tentu" Taehyung mengacak rambut Jungkook gemas. Yang dibalas dengan rengekan khas seorang Jeon Jungkook.
  

[  ]

 

jk itu posesif karna pacarnya ganteng!

met hari senin💜

Take Two || taekook (Discontinue) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang