Part 5

1K 114 16
                                        

Jungkook mendengus kesal. Terhitung lima panggilan ia lakukan tapi Taehyung tidak kunjung menjawab. Sekedar membalas pesannya pun tidak.

Ia total lelah. Sekarang sudah pukul 5 sore dan Jungkook masih berada di lingkungan kampus yang nyaris sepi. Hanya ada beberapa orang yang masih tinggal. Entah untuk berkumpul bersama anggota UKM atau sekedar mengerjakan tugas.

Ditiliknya langit yang mulai menggelap. Agaknya sebentar lagi akan turun hujan. Jungkook mengecek ramalan cuaca pada ponsel. Perkiraan sekitar pukul lima lebih tiga puluh terjadi gerimis ringan.

Hela napas untuk kesekian kali. Kemana perginya Kim Taehyung?

Tidak mungkin lelaki itu melupakan janji untuk mengantarnya pulang. Jika iya maka Jungkook akan marah besar.

Memutuskan untuk melangkah mendatangi fakultas teknik. Jungkook menemui teman-teman Taehyung yang masih berkumpul di gazebo.

"Permisi" Ujarnya membuat sekumpulan lelaki tersebut menoleh. "Apa kalian melihat kak Taehyung?"

Jungkook akan selalu memanggil Taehyung dengan embel-embel kak ketika berada di sekitar teman lelaki itu. Demi menghargai yang tua. Berbeda jika mereka hanya berdua saja.

"Bukankah Taehyung sudah pulang? Dia tidak menjemput mu?" Namjoon balik bertanya dengan raut keheranan.

Tuh, kan.

"O-oh, iya?" Jungkook juga tak kalah dibuat bingung bagaimana harus bereaksi.

"Aku tadi melihatnya di parkiran. Sedang bersama siapa namanya?" Jackson mencoba mengingat-ingat. "Kalau tidak salah Jihoon sepertinya" Lanjutnya, menyeletuk ringan tanpa menyadari perubahan raut wajah sang lawan bicara.

Jimin lantas merasa tak enak dan langsung menyenggol lengan Jackson seolah memberi isyarat untuk tidak bicara sembarangan.

Sementara Jackson yang tidak tahu menahu hanya kebingungan tidak mengerti.

"Kau mau aku antar pulang?" Tawar Jimin berusaha mengalihkan.

Namun Jungkook tak mengindahkan tawaran Jimin. Ia justru kembali melontarkan pertanyaan. "Jihoon anak ekonomi?"

Jackson mengendikan bahu sebab ia memang kurang tahu. "Mungkin? Maaf, aku cuma tahu namanya karena tidak terlalu kenal"

Pada dasarnya Jackson bukanlah sahabat dekat Taehyung. Dia hanyalah teman satu UKM saja. Berbeda dengan Namjoon dan Jimin.

Jungkook mengangguk. "Ya sudah. Kalau begitu aku permisi" Ia membungkuk sekilas lalu melenggang pergi.

"Sepertinya akan ada perang lagi" Gumam Jimin yang diangguki oleh Namjoon.
  
 

.

.

.
   
   

"Sial. Aku lupa"

Taehyung yang baru saja memegang ponsel sontak mengumpat pelan. Bisa-bisanya ia melupakan Jungkook. Sekarang langit sudah gelap. Taehyung harap semoga Jungkook tidak menunggunya.

"Ada apa nak Taehyung?"

Seorang wanita paruh baya yang duduk di seberang meja kontan bertanya sedetik setelah Taehyung menggumamkan suara yang tidak terlalu jelas. Namun dari raut wajahnya menggambarkan bahwa ia tengah dilanda kepanikan.

"Maaf, seperti saya harus segera pulang"

"Tae" Jihoon menahan lengan Taehyung yang hendak berdiri. "Makan mu belum habis. Setidaknya habiskan dulu. Ibu ku sudah memasak khusus untuk mu"

Park Seulhee yang merupakan ibu kandung dari Park Jihoon lantas tersenyum. "Benar, nak. Habiskan dulu makanan mu"

Sial. Taehyung semakin kebingungan. Jika bukan karena perintah langsung dari ibundanya, ia tidak akan mau mengantar Jihoon pulang sampai dipaksa untuk mampir, sekedar makan bersama.

Merutuk dalam hati tentang sikap sang ibu yang senantiasa selalu bersikap tidak enak kepada ibu Jihoon hanya karena berteman. Padahal ibu Taehyung tahu bahwa sang putra telah memiliki kekasih hati.

"Saya mohon sekali. Ada keperluan yang tidak bisa saya tunda karena ini sangat penting"

Iya. Penting karena menyangkut Jungkook.

"Urusan apa kalau boleh tahu, nak Taehyung?"

Agaknya Taehyung ingin berdecak kesal lantaran wanita di hadapannya terlalu banyak bertanya. Seperti ingin tahu sekali tentang kepentingannya.

"Kegiatan kampus, Bibi"

Kendati demikian, Taehyung harus tetap bersikap sopan dengan orang tua. Maka, terpaksa ia berbohong.

"Bukannya sudah selesai rapatnya, Tae?" Jihoon menimpali.

"Belum. Ini beda" Taehyung buru-buru bangkit. Masa bodoh akan pandangan kurang menghargai. Nyatanya Taehyung sudah cukup bersabar. Ia juga sudah memberi tahu alasan kenapa ia begitu tergesa. Rasanya itu sudah lebih dari cukup.

"Saya pamit ya, Bibi Park"

Seulhee pun tidak bisa melarang Taehyung untuk pergi. Ia hanya mengucapkan kata hati-hati lalu memandang Jihoon yang berubah murung usai kepergian pria itu.
  
 

.

.

.
 
 

Sebelum ke rumah Jungkook, Taehyung menyempatkan diri mampir ke salah satu toko yang menjual buket bunga dan boneka. Ia juga membeli dua lusin donat dengan varian yang berbeda-beda karena Jungkook sangat menyukai makanan manis. Satu untuk calon mertua dan satu untuk Jungkook.

Taehyung harus mengajukan permintaan maaf yang layak. Ia cukup merasa bersalah. Hatinya tidak tenang jika Jungkook belum memaafkannya. Pesan yang Taehyung kirimkan beberapa saat lalu pun tidak ada balasan. Telepon juga tidak diangkat.

Andaikata Jungkook tidak memaafkannya, bisa-bisa Taehyung jadi gila.

Bel rumah Jungkook ditekan untuk yang ke empat kali sampai akhirnya pintu berwarna putih tulang itu terbuka.

"Nak Taehyung?"

Agaknya Jeon Heesun terkejut mendapati kekasih dari anaknya sudah berdiri di depan pintu dengan membawa boneka melody berwarna merah muda, buket bunga mawar merah dan dua papper bag yang dipastikan berisi makanan.

"Hallo, Bibi Jeon" Taehyung sedikit kesusahan untuk membungkuk sebab barang yang ia bawa lumayan menyusahkan. "Apa Jungkook ada?"

"Ada. Sejak pulang anak itu mengurung diri di kamar tidak tahu kenapa. Makan malam pun tidak mau. Mungkin nak Taehyung bisa langsung naik saja ke atas ya?"

Mendengar tersebut kontan buat Taehyung merasa tak enak hati. Pasalnya ia adalah penyebab utama Jungkook menjadi seperti itu.

"Boleh, Bibi Jeon" Taehyung mengangguki. Lalu mengulurkan tangan kanan yang memegang papper bag berwarna coklat muda. "Saya bawakan ini untuk Bibi Jeon"

Heesun tersenyum. "Aduh, repot-repot sekali nak Taehyung"

"Tidak repot kok, Bibi"

"Ya sudah. Ayo masuk"

Usai mendapat ijin, Taehyung bergegas menaiki anak tangga rumah keluarga Jeon. Kamar Jungkook berada di lantai dua. Pintunya memiliki cat berwarna putih dengan hiasan kelinci merah muda yang tergantung di depannya.

Rapalkan doa dalam hati. Semoga Jungkook tidak memukulnya atau lebih parah membunuhnya nanti.
 
 

[ ]

 
 
 
jadi jh siapanya th?

˚‧º·(˚ ˃̣̣̥⌓˂̣̣̥ )‧º·˚

Take Two || taekook (Discontinue) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang