Part 17

1.5K 130 18
                                        

Flashback

"Jungkook, bisakah kau melepaskan Taehyung untuk Jihoon?"

"Ma" Seungho segera menyela obrolan keduanya ketika dirasa ucapan sang istri semakin memojokkan Jungkook. "Sudah. Kita sebaiknya tidak mencampuri urusan anak-anak. Cukup mendukung mereka bahagia dengan pilihannya masing-masing"

Seungho menatap Jungkook yang tidak berkutik barang sebentar. Kepalanya terus menunduk. Menjadikan Seungho tak enak hati melihatnya. "Jungkook, maafkan Bibi Kim, ya? Bukan maksudnya seperti itu"

"Tidak apa, paman. Aku mengerti. Bibi lebih memilih Jihoon dibandingkan diri ku" Ujarnya pelan.

"Jungkook" Minyoung menggenggam tangan Jungkook dengan hati-hati. "Maksud Bibi tidak seperti itu. Bibi hanya..."

"Bibi lebih sayang pada Jihoon, kan?" Sela Jungkook cepat. Ia memberanikan diri menatap kedua orang tua Taehyung.

Sorot matanya menampilkan bahwa ia kini tengah dikecewakan. Hubungannya dengan Taehyung sudah berjalan cukup lama. Pun orang tua mereka sudah saling mengenal pribadi masing-masing.

Tetapi kenapa justru baru sekarang ibunda Taehyung menyuruhnya mundur. Jika memang sedari awal tidak setuju, Jungkook tidak akan melanjutkan.

"Jungkook, Bibi hanya merasa kasihan pada Jihoon. Dia—kita tidak tahu bagaimana sel kanker itu bekerja di tubuhnya. Jihoon tidak mau lagi menjalani kemoterapi. Belakangan ini dia juga sudah jarang meminum obatnya. Bibi takut..."

"Bibi, aku turut sedih atas apa yang menimpa Jihoon. Tapi kalau untuk melepaskan Taehyung, silahkan Bibi bisa bertanya langsung kepada Taehyung apakah dia bersedia melepaskan saya?"

Jungkook melepas paksa genggaman tangan Minyoung. Buru-buru ia berdiri lalu menyambar tasnya yang tergeletak di meja.

"Saya permisi"

"Tunggu dulu" Seruan Seungho menghentikan langkah Jungkook. "Biar Paman yang antar ya, Jungkook?"

Namun Jungkook justru menggeleng. "Tidak perlu, paman. Taxi-nya sudah datang"

"Baiklah kalau begitu Paman ikuti kau dari belakang, ya?"

"Tidak perlu repot, Paman. Aku bisa sendiri"

"Tahu. Jungkook memang bisa sendiri. Tapi Paman tetap ingin memastikan Jungkook selamat sampai rumah. Boleh, ya?"

Percuma. Berkali-kali Jungkook menolak, ayah dari kekasihnya akan tetap memaksa. Maka, tidak ada lagi yang bisa Jungkook lakukan selain mengangguk. Menerima tawaran sebagai bentuk menghargai.


Flashback end.

.

.

.

.

 

Mentari sudah bersiap untuk tenggelam. Langit sedikitnya telah berubah gelap. Pukul lima lebih sembilan belas sore, Taehyung masih bermain di lapangan basket bersama kelompoknya.

Mengenakan jersey tanpa lengan bernomor punggung 1, Taehyung sibuk berlarian kesana dan kemari. Mengikuti bola yang di oper bergantian.

Mereka masih menyisakan satu babak permainan. Taehyung mengambil alih bola di daerah lawan. Satu lompatan ia berhasil memasukkan bola ke dalam ring.

"Yes!" Jimin berteriak kala timnya berhasil mencetak satu poin lagi. Ia berlari menghampiri Taehyung dan melakukan high five. "Good job, bro"

Taehyung menyisir rambutnya yang basah oleh keringat. Lidahnya terjulur sedikit demi membasahi bibir.

"Tae, itu Jungkook bersama siapa?" Tanya Jimin disela mengoper bola.

Take Two || taekook (Discontinue) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang