"Tae, tolong kau antar Jihoon ke rumah sakit ya"
Taehyung lantas menoleh pada sang ibunda. "Ma, Jungkook juga terluka" Katanya dengan posisi memeluk sang kekasih yang agaknya masih terkejut.
Minyoung, ibunda Taehyung kembali menimpali. "Luka Jungkook tidak terlalu parah, Tae. Kau tidak lihat bagaimana Jihoon jatuh dan tertimpa gelas-gelas tadi? Lihat! Darahnya pun banyak menetes di lantai. Lebih baik cepat kau bawa Jihoon ke mobil dan antarkan dia ke rumah sakit"
Tak dipungkiri, hati Jungkook terasa berdenyut nyeri kala mendengar penuturan Minyoung yang seolah tidak menaruh kepedulian sedikit pun padanya.
Ia juga terluka. Meski tidak separah Jihoon seharusnya Minyoung tidak perlu berkata demikian.
Tanpa sadar kedua tangan Jungkook meremat jas bagian depan milik Taehyung. Bibir bawahnya ia gigit demi meredap rasa sakit di hati.
"Ma—"
"Sudah. Biar Papa yang mengantar nak Jihoon ke rumah sakit" Sahut Seungho.
"Jangan, Pa. Biar Taehyung saja. Jihoon 'kan sahabat Taehyung dari kecil. Pasti Jihoon lebih tenang bersama Taehyung" Minyoung menatap ke arah sang anak. Mengisyaratkan Taehyung untuk segera bergegas. "Ayo, Tae. Cepat! Biar Jungkook di sini bersama Mama"
Taehyung menunduk. Tatap sosok pemuda di pelukannya.
"Tolong, nak Taehyung. Bibi mohon, meskipun pertunangan kalian sudah batal, setidaknya berilah kepedulian pada Jihoon" Celetuk Seulhee. Ibu dari Jihoon itu tampak cemas. Wajahnya jelas menampilkan kekhawatiran.
"T-tunangan?" Spontan Jungkook mendongak. Alisnya menukik. Balas tatap Taehyung penuh tanda tanya. Ada raut keterkejutan yang terekam jelas di wajahnya. "Apa maksudnya, Taehyung?" Lirihnya pelan.
Jungkook tahu tentang Jihoon yang merupakan sahabat Taehyung sedari kecil.
Jungkook tahu tentang Jihoon yang menyukai Taehyung.
Jungkook tahu tentang persahabatan ibu Taehyung dan ibu Jihoon.
Namun Jungkook tidak tahu tentang fakta yang baru saja dicetuskan oleh ibu Jihoon.
Kapan mereka bertunangan? Dan kapan pertunangan itu berakhir? Kenapa Taehyung tidak menceritakan padanya?
Taehyung kelabakan. "Jungkook, dengar dulu—"
Jungkook melepaskan diri dari pelukan Taehyung dan secara sengaja memberi jarak.
"Aku ingin pulang" Suara Jungkook sedikit bergetar. "Permisi paman dan bibi" Pamitnya pada kedua orang tua Taehyung lalu langsung beranjak pergi.
"Jungkook!" Panggil Taehyung seraya hendak mengejar. Tetapi sang ibu buru-buru menahan.
"Tae, cepat antarkan Jihoon dulu. Biar Mama yang menemui Jungkook nanti"
Menghela napas berat. Taehyung melirik sang ayah yang mengangguk perlahan. Memberi keyakinan pada Taehyung. Maka tak ada yang bisa Taehyung lakukan selain mengantar sahabatnya itu ke rumah sakit.
.
.
.
.
"Jungkook, masuk dulu ayo nak"
Jungkook yang sedang berdiri menunggu jemputan dari taxi daring pesanannya pun menoleh. Mendapati ayah dari Taehyung yang tampak terengah sebab berlari menghampirinya.
Mau tak mau, Jungkook terpaksa menampilkan senyum. "Tidak perlu, paman. Sebentar lagi taxi-nya sampai"
"Sebentar saja, Jungkook. Nanti biar paman yang mengantarkan mu pulang, ya?"
Lagi. Mau tak mau Jungkook kembali dipaksa. Berakhir dengan ia yang mengikuti permintaan ayah dari kekasihnya.
.
.
.
.
"Jungkook" Minyoung menghampiri sang suami dan kekasih dari putranya yang baru saja memasuki kediaman mewah keluarga Kim.
Ia langsung menggeggam tangan Jungkook yang terdapat luka. Mengeceknya sebentar lalu menuntut Jungkook untuk duduk di sofa ruang keluarga.
"Ahjumma, tolong ambilkan kotak p3k" Ujarnya dengan volume yang sedikit keras.
Dengan ketelatenan Minyoung mengobati luka Jungkook yang memang tidak terlalu parah. Usai membalutnya menggunakan perban ia lantas tersenyum dan membereskan perlengkapan yang tercecer.
"Sudah. Kau pasti sangat terkejut, ya?" Tanya Minyoung. Nadanya lembut seperti biasa. Tetapi entah mengapa Jungkook menjadi kurang nyaman.
Ada hening yang tercipta selama beberapa detik sebelum Minyoung kembali bersuara. "Maafkan Bibi, Jungkook"
Ia memperhatikan bagaimana raut wajah Jungkook yang tampak sedih dan mungkin kecewa atas situasi yang terjadi.
Pasti pemuda itu merasa sakit hati lantaran sikap Minyoung.
"Jungkook" Panggilnya.
"Kau tahu bagaimana Taehyung dan Jihoon bisa bertunangan?" Lanjutnya lagi.
Tubuh Jungkook menegang seketika. Tak ingin mendengar lebih jauh, namun ia juga ingin tahu. Barangkali penjelasan Minyoung dapat sedikit saja meredakan hatinya yang berantakan.
"Seperti yang kau tahu. Mereka berteman sejak kecil. Taehyung adalah anak yang patuh. Dia selalu menurut. Suatu ketika ayah Jihoon kecelakaan. Sebelum beliau meninggal dunia, beliau berpesan supaya Taehyung bisa menjaga Jihoon. Maka dari itu, kami memilih untuk menggelar pertunangan mereka"
Jungkook setia mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulut Minyoung. Sambil sesekali ia akan menahan napas tatkala ada kalimat dari Minyoung yang membuat hatinya sesak.
"Saat itu Taehyung setuju. Sampai suatu hari Taehyung sendiri yang meminta kami untuk membatalkan pertunangan" Jeda. Minyoung menarik napas sebelum kembali melanjutkan. "Dia—anak kami jatuh cinta. Taehyung jatuh cinta kepada seorang pemuda yang ia temui di kampusnya"
Minyoung tersenyum hangat seraya memandang jauh kedalam mata Jungkook. "Dan orang itu adalah kau, Jungkook. Adik tingkat yang berhasil membuat anak kami jatuh cinta"
"Bibi Kim—"
"Jung" Minyoung lantas menggenggam kedua tangan Jungkook. "Sekali lagi, Bibi minta maaf. Mungkin ini akan terdengar kejam untuk mu. Tetapi saat ini Jihoon sedang sakit. Sudah tiga bulan ini kondisi kesehatannya menurun. Dia mudah lelah dan terkadang sampai pingsan"
Dahi Jungkook mengernyit. Berusaha mencerna apa yang ingin Minyoung sampaikan.
"Jungkook" Minyoung menundukkan kepala. Bibirnya menekuk kedalam lalu dengan nada yang cukup ragu-ragu ia bertanya. "Bisakah kau melepaskan Taehyung untuk Jihoon?"
[ ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Take Two || taekook (Discontinue)
FanfictionPada dasarnya sebuah hubungan tidak akan menjadi baik ketika salah satunya menyimpan rahasia. Top! Tae Bott! Jk Started 15/11/2024 End -
