Tiga tahun telah berlalu sejak hari pertama Zayden, Azlan, dan Zalea datang ke dunia ini. Kehidupan keluarga mereka kini dipenuhi dengan kebahagiaan yang tak ternilai. Setiap harinya dipenuhi dengan rutinitas yang tak pernah sama. Meskipun rumah ini penuh dengan keributan oleh ketiga anak kembar mereka, tapi yang terpenting adalah kebahagiaan mereka.
Hari itu, rumah Zean dan Adel kembali dipenuhi dengan keributan yang tak terhindarkan dari dua anak kembar mereka yang semakin aktif. Zayden dan Azlan yang sekarang sudah berusia tiga tahun, telah belajar berjalan, berbicara, dan tentu saja bermain bola. Zean baru saja pulang dari kantor dan masuk ke rumah, tapi belum sempat mengucapkan selamat datang pada keluarganya, ia langsung disambut dengan suara gaduh di ruang tamu.
Di sana, Zayden dan Azlan sedang bermain bola mini, berlarian dengan cepat di ruang tamu yang luas. Bola yang mereka mainkan memantul ke sana kemari, menggulingkan kursi-kursi dan beberapa mainan yang ada di sekitarnya. Meja yang biasanya rapi kini sudah dipenuhi dengan tumpukan mainan dan buku yang terjatuh. Zean melongo melihat kekacauan yang terjadi.
"Zayden! Azlan! Hati-hati!" seru Zean dengan nada yang agak kaget, berusaha mengejar bola yang hampir jatuh ke arah meja kaca yang sudah penuh dengan barang-barang.
Tapi Zayden dan Azlan tidak menggubrisnya, malah semakin berlari mengejar bola dan tertawa riang. "Yuhuu, Ayah! Kami main bola!" teriak Zayden dengan penuh semangat.
Adel yang sedang di kamar, sedang sibuk mendandani Zalea, anak perempuan mereka yang bungsu. Zalea dengan rambut yang masih terikat dua pita kecil di sisi kepala, terlihat begitu lucu mengenakan gaun mini berwarna merah muda. Adel dengan sabar mengikatkan pita di rambut Zalea. Meskipun Adel sedikit terkejut mendengar keributan yang datang dari ruang tamu, ia tetap fokus mendandani anak perempuannya.
"Nah, sekarang anak Bunda udah cantik" puji Adel sambil menyisir rambut Zalea, senyum manis tersungging di wajahnya.
Zalea mengangguk dengan semangat. "Zalea mau main sama Kak Zayden dan Kak Azlan boleh Bunda?" tanyanya dengan penuh semangat.
Adel menyentuh pipi Zalea yang masih bulat itu dan mengangkatnya ke pangkuannya. "Tunggu sebentar ya. Bunda mau siap-siap dulu, baru kita keluar" ujar Adel sambil tersenyum, meskipun dalam hati ia merasa sedikit cemas mendengar suara keributan di luar.
Sementara itu, Zayden dan Azlan tidak berhenti berlarian. Bola yang mereka tendang hampir saja menghantam beberapa benda di ruang tamu, tetapi mereka terlalu sibuk mengejar bola dan tidak memperhatikan barang-barang di sekitarnya.
Zean yang melihat itu akhirnya menghela napas panjang dan mencoba menenangkan anak-anaknya. "Aduh, boys hati-hati ya! Jangan terlalu keras, nanti kena kaca bisa pecah!" Zean mencoba berbicara tegas, tetapi tidak bisa menahan tawanya. Keduanya memang sangat enerjik, dan meskipun berantakan, Zean merasa sangat bahagia melihat mereka berdua bermain bersama.
Tak lama kemudian, Zalea yang sudah selesai didandani Adel datang ke ruang tamu dan melihat kekacauan itu. Zalea dengan tatapan polosnya, ia menatap kedua kakaknya yang sedang berlarian dengan bola, dan tak sengaja melontarkan sindiran. "Kak Zayden, Kak Azlan, kok lumah jadi belantakan gini sih?" katanya dengan suara cadel yang khas, membuat Zean yang mendengarnya tidak bisa menahan tawa.
Zean yang menyadari sindiran Zalea langsung tertawa. "Gak apa-apa, biar nanti Bunda marahin, ya?" kata Zean sambil tertawa, mencoba menenangkan Zalea yang tampaknya masih kesal karena rumah berantakan.
Adel akhirnya keluar dari kamar dan menuju ruang tamu. Saat ia melihat sekeliling, ia langsung terkejut. Rumah yang tadi pagi rapi kini sudah berantakan, penuh dengan mainan, bola, dan barang-barang yang tergeletak di lantai. Sebuah lampu hias yang biasanya terletak rapi di meja kini terjatuh dan pecah. Sepertinya Zayden dan Azlan sangat asyik bermain tanpa peduli dengan kekacauan yang mereka buat.
"Zayden Alvaro dan Azlan Alvaro!" panggil Adel. Meskipun begitu, ia mencoba untuk tetap sabar, tahu bahwa ini adalah masa kecil mereka.
Zayden dan Azlan yang mendengar seruan ibunya langsung berhenti sejenak dan berdiri mematung, sedikit merasa bersalah. Mereka menggaruk kepala, seakan bingung harus berkata apa.
"Maaf, Bunda!" seru Zayden dengan senyum lebar.
"Iya, Bunda! Kita cuma main bola bentar kok" jawab Azlan polos, tampak tak mengerti kenapa ibunya bisa marah.
"Main bola bentar? Kan udah Bunda bilang jangan main bola di dalam rumah!" Adel mengingatkan mereka, meskipun ia tahu mereka masih kecil.
Zalea yang melihat situasi itu segera memberi komentar dengan suara cadelnya. "Tuh, Kak Zayden sama Kak Azlan... lumah jadi belantakan... Ayah sih bialin meleka main di lumah..." katanya sambil menunjuk mereka berdua dengan jari kecilnya.
Zean hanya bisa tersenyum, mencoba mengatasi rasa malunya. "Ya, Sayang... Maafin ayah ya?" kata Zean sambil mengelus rambut Zalea yang masih lembut.
Adel memandang mereka dengan senyuman. "Ayo, kita beresin rumah sekarang. Jangan ada yang main dulu, baru nanti setelah rumah rapi, kalian boleh main bola lagi! Tapi diluar" Adel berkata dengan tegas, meskipun senyuman di bibirnya tak bisa disembunyikan.
Zayden dan Azlan segera ikut membantu meskipun mereka lebih tertarik untuk bermain. "Ayo, Zayden, Azlan, Zalea, bantuin Ayah dan Bunda. Kita beresin rumah, baru nanti main lagi" Zean berkata sambil mulai menyusun beberapa barang yang tergeletak di lantai.
Zalea yang merasa kesal akhirnya mengeluh, "Kenapa sih gak Kak Zayden dan Kak Azlan aja yang belesin lumah? Kan yang bikin lumah belantakan banget tu meleka!" kata Zalea dengan nada sedikit kecewa.
Adel mencoba menenangkan Zalea, "Gak apa, biar lebih cepat selesainya ya?" Adel berkata lembut sambil mengelus kepala Zalea, berusaha menenangkan anak bungsunya yang masih sedikit kecewa.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka berhasil beres-beres rumah meskipun masih ada sedikit mainan yang tercecer di sana-sini. Zean dan Adel duduk di sofa, dan Zayden, Azlan, dan Zalea ikut duduk di sekitar mereka. Rumah yang tadinya berantakan kini kembali rapi, dan mereka semua duduk bersama menikmati ketenangan setelah kegaduhan tadi.
"Udah rapi, kan?" tanya Zean dengan senyum lebar.
"Udah, Ayah! Tapi nanti jangan main bola lagi di dalam rumah, ya!" jawab Zayden, yang tampaknya sudah belajar dari kesalahan mereka.
"Iya, iya, nanti nggak main bola di dalam rumah lagi. Kita main di luar aja, ya," jawab Zean sambil mengacak rambut Zayden dan Azlan.
Adel memandang keluarganya dengan senyuman bahagia. "Aku bersyukur banget punya mereka dan kamu, Mas" kata Adel sambil tersenyum manis, memandang suami dan anak-anaknya yang masih sangat kecil, namun penuh dengan kebahagiaan.
Zean memeluk Adel dengan hangat. "Iya, Sayang. Selama kita bersama, nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Keluarga kita lebih penting dari apapun."
Dengan tawa dan kebersamaan yang mengisi rumah mereka, hari itu berakhir dengan penuh kebahagiaan. Rumah mereka memang selalu dipenuhi dengan kejutan, tetapi selama mereka memiliki satu sama lain, kebahagiaan itu jauh lebih penting. Keberadaan satu sama lain adalah yang terpenting dan itu membuat rumah mereka menjadi tempat yang penuh cinta dan kebahagiaan.
***
END
KAMU SEDANG MEMBACA
My Soulmate (ZeeDel) ✔
FanfictionDi balik kemegahan gedung kantor yang menjulang, ada satu sosok yang berdiri di puncak kesuksesannya, Zean Alvaro. Namanya dikenal sebagai CEO muda yang berprestasi, pemimpin yang disegani, dan figur yang dihormati. Di usia tiga puluh tahun, ia suda...
