Saat ini Adel sedang duduk di sofa ruang keluarga, menikmati segelas susu hangat sambil membaca buku panduan tentang persiapan menjadi orang tua. Perutnya yang semakin besar membuat setiap gerakan terasa sedikit lebih lambat, tapi ia tetap semangat menjalani harinya.
Zean, yang baru saja menyelesaikan panggilan kerja, keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri istrinya. "Sayang, kamu butuh sesuatu? Atau mau jalan-jalan di taman sebentar?"
Adel menggeleng sambil tersenyum. "Nggak Mas. Aku lagi nyaman duduk di sini. Tapi kalau bisa, bikinin aku roti isi cokelat deh. Tiba-tiba kepengen."
Zean tertawa kecil. "Oke tunggu sebentar ya sayang."
Tak butuh waktu lama, Zean kembali dengan sepiring roti isi cokelat dan segelas jus jeruk. Ia duduk di samping Adel, memerhatikan istrinya yang menikmati makanan itu dengan wajah puas.
"Mas" panggil Adel tiba-tiba.
"Hm? Ada apa Sayang?"
"Mas siap nggak nanti kalau anak kita lahir? Mereka kan kembar, pasti bakal ribet banget" ujar Adel sambil memandang Zean dengan sedikit cemas.
Zean tersenyum, meraih tangan Adel dan menggenggamnya erat. "Mas siap kok. Lagian, mas udah kebayang gimana serunya punya dua bocil yang nanti bisa mas ajak main bola."
Adel tertawa kecil, meski masih ada kekhawatiran di matanya. "Tapi Mas, aku takut. Gimana kalau aku nggak bisa jadi ibu yang baik buat mereka?"
"Sayang, kamu itu bakal jadi ibu terbaik buat anak-anak kita. Mas yakin. Mereka bakal punya ibu yang penyayang, sabar, dan selalu ada buat mereka" ujar Zean penuh keyakinan.
Adel tersenyum lega. Kata-kata Zean selalu berhasil menenangkannya.
Siang harinya, Adel mulai merasa sedikit tidak nyaman. Ada rasa nyeri di bagian bawah perutnya, tapi ia mencoba mengabaikannya. Mungkin hanya kontraksi biasa, pikirnya.
Namun, semakin sore, nyeri itu semakin sering datang. Adel mulai merasa gugup, tapi ia tidak ingin membuat Zean panik. Ia memutuskan untuk beristirahat di kamar sambil memantau rasa nyerinya.
Saat Zean masuk ke kamar untuk mengajak Adel makan malam, ia langsung menyadari perubahan di wajah istrinya. "Sayang, kamu kenapa? Kok wajah kamu pucat?"
Adel mencoba tersenyum, meski jelas rasa sakit mulai mengganggu. "Aku nggak apa-apa Mas. Cuma... perutku agak sakit."
Zean langsung duduk di sampingnya, memegang tangan Adel dengan cemas. "Sakitnya gimana? Apa kita harus ke rumah sakit sekarang?"
Adel menggeleng, mencoba menenangkan suaminya. "Belum Mas. Mungkin ini cuma kontraksi palsu. Aku baca di buku, itu normal kok."
Tapi Zean tidak mudah tenang. Ia segera menelepon dokter untuk berkonsultasi. Setelah mendengar penjelasan Zean, dokter menyarankan agar mereka segera ke rumah sakit jika rasa sakit semakin sering datang atau semakin parah.
Malam itu, rasa nyeri Adel semakin sering. Setiap beberapa menit, ia harus berhenti melakukan apa pun untuk menahan rasa sakit. Zean, yang semakin khawatir, akhirnya tidak mau menunggu lebih lama lagi.
"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya. Mas nggak mau ambil risiko" ujar Zean tegas.
Adel hanya bisa mengangguk, merasa lelah karena menahan rasa sakit. Zean segera menyiapkan tas yang sudah mereka kemas sebelumnya, berisi baju ganti, perlengkapan bayi, dan dokumen penting.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Zean terus menggenggam tangan Adel sambil mencoba menenangkan istrinya. "Sabar Sayang. Kita hampir sampai. Kamu yang kuat ya"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Soulmate (ZeeDel) ✔
أدب الهواةDi balik kemegahan gedung kantor yang menjulang, ada satu sosok yang berdiri di puncak kesuksesannya, Zean Alvaro. Namanya dikenal sebagai CEO muda yang berprestasi, pemimpin yang disegani, dan figur yang dihormati. Di usia tiga puluh tahun, ia suda...
