Hari itu, Zean baru selesai menghadiri rapat penting di kampus tempat perusahaannya akan bekerja sama untuk program magang. Sebelum meninggalkan gedung, ia memutuskan untuk mampir ke kantin kampus, berharap bisa menyegarkan pikiran dengan kopi sebelum kembali ke kantor. Namun, tak disangka, matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tidak asing.
Di depan pintu ruang dosen, berdiri seorang gadis yang sedang melihat ke sekeliling, sepertinya sedang menunggu seseorang. Itu Adel! Zean terdiam sesaat, menatapnya dari kejauhan, memastikan bahwa ini bukan sekadar perasaan sesaat. Kali ini, pertemuan itu terjadi begitu saja, benar-benar di luar rencananya. Namun, kesempatan seperti ini tidak akan dia sia-siakan.
Dengan cepat, Zean berjalan mendekatinya. Adel yang awalnya tidak menyadari kedatangan Zean, akhirnya menoleh ketika ia semakin dekat. Ekspresi kaget tampak di wajahnya, tetapi segera berganti dengan senyum ramah.
"Hai kak Zean!" sapa Adel dengan nada riang. "Ngapain di sini?"
"Hei Adel!" Zean tersenyum lebar, sedikit tidak percaya dengan keberuntungan ini. "Saya ada urusan kerja sama di sini. Ngomong-ngomong, kamu sendirian lagi nunggu siapa?"
"Oh, aku nunggu dosenku, Pak Chiko. Beliau lagi ke toilet sebentar. Ada hal yang harus dikonsultasikan dengan beliau" jawab Adel sambil menghela napas, menunggu dengan sabar.
Zean mengangguk, dan melihat ini sebagai kesempatan emas untuk mengobrol lebih banyak dengan Adel tanpa terganggu oleh orang lain. "Ah, gitu. Kalau gitu, lumayan kita bisa ngobrol bentar ya?"
Adel tertawa kecil. "Iya, kayaknya dosenku belum balik. Eh gimana kerjaan kakak? Kelihatan sibuk banget ya?"
Zean merasa sedikit tersipu mendengar perhatian Adel, meskipun ia sudah terbiasa dengan orang yang menanyakan pekerjaannya. Namun, mendengar Adel yang menanyakan hal itu membuatnya merasa dihargai. "Iya, cukup sibuk sih. Tapi kalau kerjaan memang selalu gitu kan?"
Adel mengangguk sambil tersenyum. "Iya aku ngerti. Kakak kelihatannya sangat serius dan sibuk banget sama kerjaan kakak"
"Ya, saya cuma berusaha melakukan yang terbaik" jawab Zean sambil menatap Adel dengan penuh perhatian. Dalam hatinya, Zean mulai merasa bahwa pembicaraan ini adalah langkah awal yang nyata untuk mengenal Adel lebih jauh.
Setelah beberapa detik mereka berdua terdiam, Zean akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan pembicaraan, "Adel, ngomong-ngomong, saya merasa kalau kita sering ketemu secara kebetulan. Kalau nggak keberatan, boleh nggak saya minta nomor kamu? Siapa tahu kita bisa ketemuan dan ngobrol lebih sering."
Adel terkejut sejenak, tetapi ia mengangguk sambil tersenyum. "Oh, boleh aja kak. Ini nomorku" kata Adel sambil mengeluarkan ponselnya dan menyebutkan nomornya. Zean segera mencatat nomor itu, merasa sangat puas karena ia sudah mendapatkan nomor Adel.
Sambil memasukkan ponselnya kembali, Adel berkata, "Nggak nyangka ya kak, kita bisa ketemu lagi di sini."
"Iya, saya juga tidak menyangka" balas Zean, tersenyum penuh arti. "Kadang-kadang hidup memang suka ngasih kejutan ya?"
Keduanya tertawa kecil, dan obrolan di antara mereka semakin terasa santai. Namun, momen itu terputus ketika seorang pria muda, berkacamata, dengan postur tubuh yang tegap mendekati mereka. Pria itu adalah dosen muda yang ditunggu Adel, Pak Chiko.
Chiko menyapa Adel dengan senyumnya. "Maaf, Del, saya membuatmu menunggu," ucapnya, kemudian ia melirik Zean dengan sedikit penasaran. Wajah Chiko tampak tenang, tetapi Zean merasa ada yang menantangnya dalam tatapannya.
"Oh, nggak masalah, Pak," sahut Adel dengan santai. "By the way, kenalkan, ini kak Zean," lanjut Adel memperkenalkan Zean pada Chiko. "Kak Zean ini CEO perusahaan yang lagi kerja sama sama kampus kita pak."
"Oh, jadi ini Zean, CEO yang terkenal itu?" Chiko menatap Zean dengan pandangan menilai, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Saya Chiko. Saya dosennya Adel, kebetulan lagi bimbing dia untuk proyek akhir semester."
Zean menyambut perkenalan itu dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda, Pak Chiko. Saya hanya menjalankan pekerjaan sih. Tapi senang sekali bisa berkolaborasi dengan kampus ini" jawabnya dengan nada ramah.
Chiko tersenyum, tetapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan sesuatu. Zean merasa ada sedikit ketegangan di balik tatapan itu. Chiko memandangnya bukan sekadar sebagai seseorang yang baru dikenalnya, tetapi lebih seperti saingan.
"Adel ini salah satu mahasiswa paling berbakat di kelas saya" ujar Chiko, pandangan matanya tetap pada Zean, seakan sengaja menekankan kedekatannya dengan Adel. "Dia punya banyak potensi yang sayang kalau tidak dikembangkan."
Adel tersipu mendengar pujian itu. "Ah Pak Chiko suka berlebihan deh" ucapnya, mencoba meredakan suasana yang mulai terasa sedikit canggung.
Namun, Zean bisa merasakan bahwa pujian itu mengandung makna lebih dari sekadar kata-kata profesional. Ia bisa melihat bahwa Chiko menaruh perhatian khusus pada Adel, dan tampaknya Chiko sadar akan ketertarikan Zean pada gadis itu. Zean tetap menjaga ekspresi tenangnya, meskipun di dalam hatinya dia mulai menyadari bahwa hubungan ini mungkin akan lebih rumit dari yang dia bayangkan.
"Ya, saya yakin Adel bisa mencapai apapun yang dia mau" ucap Zean, menatap Adel dengan penuh penghargaan. "Dan saya akan senang sekali melihatnya berkembang."
Adel tersenyum, berterima kasih dengan anggukan kecil. Tetapi tatapan Chiko pada Zean tidak berubah, tatapan yang menunjukkan ketegasan dan sedikit tantangan. Meskipun Zean adalah seorang CEO yang terbiasa menghadapi berbagai macam karakter, kali ini ia merasa bahwa pria di depannya memiliki pandangan yang lebih dari sekadar seorang dosen yang mengagumi bakat mahasiswanya.
Menyadari bahwa suasana sedikit canggung, Adel akhirnya bertanya, "Pak Chiko, mungkin kita bisa mulai diskusi proyeknya?"
Chiko mengalihkan pandangannya kembali pada Adel, senyumnya kembali lembut. "Tentu saja, Adel. Silakan masuk dulu ke ruangan saya. Saya akan menyusul sebentar lagi."
Adel berpamitan pada Zean dengan senyuman, mengucapkan terima kasih atas obrolan singkat mereka. Zean membalas dengan senyuman hangat, lalu menatap Adel yang melangkah pergi bersama Chiko yang mengikuti dari belakang.
Namun, sebelum Chiko benar-benar pergi, ia berhenti sejenak dan menoleh pada Zean. "Oh ya, pak Zean, terima kasih atas kerjasamanya dengan kampus kami. Saya harap kita bisa terus bekerja sama dengan baik." Meskipun kata-katanya terdengar sopan, nada suaranya mengandung pesan yang jelas bagi Zean, mereka bukan sekadar dua pria yang baru berkenalan, tetapi dua orang yang mungkin akan bersaing untuk sesuatu yang lebih dari sekadar proyek kerja sama.
Zean membalas dengan anggukan dan senyuman yang sama sopannya. "Saya juga berharap begitu, Pak Chiko. Saya yakin kerja sama ini akan berjalan lancar."
Setelah Chiko benar-benar pergi, Zean berdiri sejenak, terdiam dengan yang baru saja terjadi. Dia tahu betul bahwa Chiko melihatnya sebagai saingan. Tatapan pria itu jelas menunjukkan bahwa ketertarikannya pada Adel bukan hanya sekadar perhatian seorang dosen pada mahasiswanya. Zean tidak bisa menahan senyum tipis.
Dalam hatinya, Zean merasa semakin tertantang. Ini bukan hanya soal pertemuan tak terduga dengan Adel, tetapi juga awal dari sesuatu yang baru, sebuah perjalanan yang mungkin akan penuh dengan persaingan dan ketegangan, tetapi juga sebuah kesempatan untuk lebih mengenal Adel.
Saat melangkah keluar dari kampus, Zean merasakan semangatnya yang semakin membara di dalam dirinya. Pertemuan dengan Adel, nomor telepon yang kini tersimpan di ponselnya, dan tatapan penuh persaingan dari Chiko, semuanya menjadi bahan bakar bagi perasaan yang mulai berkembang di hatinya. Zean merasa bahwa perjalanan ini baru saja dimulai, dan dia tidak akan mundur.
Di dalam mobilnya, Zean menatap layar ponsel, melihat nomor Adel yang baru saja dia simpan. Jempolnya sedikit ragu, tetapi kemudian dia mengetik pesan sederhana: "Hai, Adel. Terima kasih buat obrolan singkat tadi. Senang bisa ketemu kamu lagi."
Setelah mengirim pesan itu, Zean bersandar dan tersenyum kecil. Dia merasa bahwa ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang lebih berarti.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Soulmate (ZeeDel) ✔
FanfictionDi balik kemegahan gedung kantor yang menjulang, ada satu sosok yang berdiri di puncak kesuksesannya, Zean Alvaro. Namanya dikenal sebagai CEO muda yang berprestasi, pemimpin yang disegani, dan figur yang dihormati. Di usia tiga puluh tahun, ia suda...
