Di tengah arena, pertarungan semakin intens. Neji dengan cekatan menyerang titik-titik vital Naruto menggunakan Jūken, membuat chakra Naruto kacau dan melumpuhkan beberapa tenketsu di tubuhnya. Setiap serangan Neji begitu cepat dan akurat, membuat Naruto kesulitan untuk bertahan.
Namun, meskipun terus terdesak, Naruto tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah. Terengah-engah, dia bangkit setiap kali terjatuh, tatapan birunya penuh determinasi.
"Kenapa kau terus berdiri, Naruto?" seru Neji, sedikit frustrasi karena lawannya tidak juga menyerah. "Kau sudah kalah. Takdir telah menentukan hasilnya."
Namun, Naruto hanya tertawa pelan. "Kau benar-benar tidak mengerti, ya, Neji? Selama aku masih bisa bergerak, aku belum kalah!"
Di sudut arena, diruang tunggu peserta, Naruko menyaksikan dengan mata yang tajam. Meskipun ekspresinya tenang, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di hatinya. Dia tahu bahwa Neji sangat berbahaya dengan kemampuan Byakugan-nya, dan jika Naruto tidak berhati-hati, dia bisa terluka parah.
=====
Naruko Uzumaki mengepalkan tangan, meremas baju bergarisnya tepat di tempat di mana panas segel terasa membakar kulitnya. Akhirnya Naruto memilih menggunakan kartu As si*lan itu, Kyuubi yg pasti memanipulasi si pirang yg semua gen terbaik dari mendiang orang tua mereka jatuh semua ke Naruko, begitu pemikiran asal Naruko yg kesal tapi mau bagaimana lagi jika Naruto tak menggunakan sedikit chakra kyubi--sedikit tapi dasyat-- di saat Kritis Naruto melawan Neji.. Naruto bakal mati. Tapi... Apapun itu satu hal yg pasti, kesungguhan Uzumaki sangat kuat.
Dalam hati rambut merah, ia bersumpah, 'Benar, kami Uzumaki yang akan mengubah semuanya. Takdir ini... akan kami hancurkan.'.
Pandangannya beralih ke adik kembarnya, yang tubuhnya kini dilingkupi oleh chakra Kyuubi yang mengamuk. Aura merah menyala itu melingkari tubuhnya, memancarkan intensitas yang membuat udara di sekitar mereka terasa berat. Namun, Naruko tetap berdiri tegak, meski chakra serupa mendesak keluar dari dalam dirinya, berusaha mendominasi. Ia menarik napas panjang, menahan luapan kekuatan itu dengan tekad besi.
Tak ada kata kalah, apalagi menyerah, dalam kamus kembar Uzumaki ini. Mereka adalah dua sisi kekuatan yang sama, saling melengkapi untuk menghadapi apapun yang mencoba menghalangi jalan mereka.
Naruko kembali mengingat hasil penyelidikan yang ia lakukan begitu mengetahui lawannya, Neji Hyuga. Ia menatap lurus ke depan, pikirannya sibuk mencerna fakta-fakta yang berhasil ia kumpulkan. Klan Hyuga, salah satu klan paling terkemuka di Konoha, menyimpan hierarki yang bagi Naruko terasa absurd dan tidak adil.
Di balik kemegahan dan reputasi mereka sebagai penguasa Byakugan, tersembunyi sistem yang disebut "Hyuga Atas" dan "Hyuga Bawah"—sebuah struktur yang membagi klan menjadi dua cabang utama: Keluarga Utama (Sōke) dan Keluarga Cabang (Bunke).
Keluarga Utama memegang kendali penuh atas seluruh warisan dan keputusan klan. Mereka hidup dengan hak istimewa, bebas dari segala kewajiban selain memimpin. Sedangkan Keluarga Cabang, meski berbagi darah yang sama, diperlakukan seperti bawahan. Mereka dianggap ada hanya untuk melindungi Keluarga Utama, bahkan dengan nyawa mereka.
Yang membuat Naruko benar-benar muak adalah keberadaan Segel Kutukan yang dikenakan pada setiap anggota Keluarga Cabang sejak kecil. Segel ini adalah alat pengendali mutlak, mampu melumpuhkan atau bahkan membunuh pemiliknya jika Keluarga Utama menghendakinya. Itu tidak hanya digunakan untuk melindungi rahasia Byakugan, tetapi juga sebagai alat penindasan.
'Jadi ini alasan dia begitu penuh kemarahan,' pikir Naruko, ingatannya melayang pada pertarungan brutal Neji melawan Hinata di arena Ujian Chūnin.
Naruko ada di sana, menyaksikan bagaimana Neji menyerang Hinata tanpa ampun, setiap pukulan Jūken dipenuhi oleh dendam yang terpendam bertahun-tahun. Naruko dapat melihat bahwa pertarungan itu bukan sekadar tentang membuktikan siapa yang lebih kuat, tetapi luapan rasa sakit dan kemarahan Neji terhadap sistem yang telah merampas segalanya darinya.
Hinata, yang berasal dari Keluarga Utama, dianggap Neji sebagai simbol dari ketidakadilan klan Hyuga. Namun, meskipun Hinata lemah secara fisik, ia tidak menyerah. Naruko masih ingat dengan jelas bagaimana Hinata terus berdiri meskipun tubuhnya penuh luka, menolak menyerah hingga akhir. Keberanian itu meninggalkan kesan mendalam di hati Naruko.
Naruko mengepalkan tangannya lebih erat. 'Neji tidak membenci Hinata sebagai pribadi,' pikirnya. 'Dia membenci sistem. Membenci ketidakadilan yang mengikatnya pada posisi yang tidak bisa ia lawan. Tetapi Hinata... dia membuktikan bahwa seseorang bisa melawan takdir, meskipun kelihatannya mustahil.'
Kyuubi dalam dirinya mendesak, aura merah yang memancar dari tubuhnya semakin liar. Tapi Naruko tetap fokus, menolak tunduk pada kekuatan itu. Ia menatap lurus ke depan, napasnya berat namun penuh tekad.
'Kami Uzumaki. Kami adalah mereka yang akan mengubah segalanya. Takdir bukan sesuatu yang ditentukan oleh tempatmu lahir, bukan juga oleh sistem yang mengikatmu. Aku akan membuktikan pada Neji—dan semua orang—bahwa takdir bisa diubah.' batin Naruko Dengan semangat yang membara,
'Aku..mungjin akan mencoba perubaha takdir ini... Dengan menghancurkan sistem hyuga itu suatu saat nanti begitu mendapat cara Hyuga atas membuat segel pada Hyuga bawah'. Naruko menatap ke depan, tidak hanya untuk menghadapi Neji, tetapi juga untuk menantang dunia yang dipenuhi dengan ketidakadilan ini.
=====
KAMU SEDANG MEMBACA
Naruko Uzumaki_ [slow Up]
FanfictionLanjutan/sambungan dari fanfic Naruko Uzumaki. Karena kayaknya udah kebanyakan disana, makanya saya lanjut ceritanya disini. Chapter 108
![Naruko Uzumaki_ [slow Up]](https://img.wattpad.com/cover/354089082-64-k185449.jpg)