Paradisha dan Arvasatya. Dua manusia yang disatukan dalam ikatan pernikahan melalui sebuah perjodohan yang direncanakan oleh orang tua mereka. Perjodohan di kalangan mereka adalah hal yang biasa. Pasangan mereka ditentukan agar mereka memiliki pasan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jalanan sore hari di jam pulang kantor terasa lebih padat hari ini. Disha memandang keluar jendela mobilnya di kursi penumpang. Arva mempekerjakan sopir pengganti sementara waktu sampai Pak Edi bisa bekerja kembali. Bukan menuju rumahnya bersama Arva, kereta besi ini bergerak menuju rumah orang tuanya. Disha yakin papinya itu sudah berada di rumah. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengonfrontasi sang ayah. Ia harus berbicara dengan pria itu atas penemuan fakta yang ia dapat hari ini.
Saat tiba di sana, Kamala terkejut mendapati kehadiran putri sambungnya. Lebih daripada itu, Disha terlihat lebih dingin dari biasanya, tatapan matanya seolah sepenuhnya diliputi gelap. Kamala tidak bisa membantah apa-apa saat Disha meminta tolong padanya agar memberitahu suaminya mengenai kehadirannya hari ini. Disha hanya meminta dengan nada singkat, bahkan tidak ada senyum yang terulas saat perempuan itu berbicara padanya. Setelah Kamala kembali dan menyampaikan kepada Disha untuk menunggu papinya di ruang kerja, tanpa mengucap apapun Disha langsung berlalu.
Selama penantiannya menunggu papinya, gejolak emosi yang sempat diredamnya perlahan kembali memuncak. Ia menerka-nerka alasan seperti apa yang akan dilontarkan papinya itu. Apa dalih sang papi yang sudah mengabaikan kenyataan jika maminya meninggal karena dibunuh. Selama isi kepalanya sibuk dengan hal itu, akhirnya yang ditunggu-tunggu masuk ke dalam ruangan. Papinya berjalan gagah dan duduk di depan Disha tanpa ekspresi. Pandangan ayah dan anak itu terkunci satu sama lain. 5 menit lamanya Disha menatap lurus kepada pria yang dulunya ia nilai sebagai sosok pria yang penyayang –dulu, saat dirinya masih kanak-kanak. Saat dirinya mengira kedua orang tuanya diliputi cinta. Tapi sepertinya pemikiran Disha kecil itu tidak sepenuhnya benar. Maminya benar mencintai papinya, tapi papinya sepertinya tidak memiliki hal yang sama. Kalau cinta tidak mungkin setega itu mengubur kebenaran.
"Ada apa kamu meminta bertemu papi?"
Praba Baswara bertanya dengan datar. Tatapan mengintimidasi dari Disha tentu saja tidak berefek apapun padanya. Putrinya ini datang dan langsung meminta untuk menemuinya. Tidak ada pemberitahuan, sudah pasti ada sesuatu yang benar-benar penting untuk diutarakan.
"Kecelakaan mami disengaja. Mami meninggal bukan karena kelalaiannya sendiri. Mami dibunuh. Kenapa papi diam saja?"
Ah pertanyaan ini sudah datang rupanya. Tiba juga hari dimana dirinya mendapatkan pertanyaan ini.
Praba tatap putrinya yang sedang berapi-api di depannya ini. Jika saja salah satu tangannya tidak digips, sudah pasti kedua tangan itu terkepal kuat.
Di tempatnya, Disha mulai merasa kesal karena papinya masih terlihat tenang. Laki-laki itu memberikan jeda yang lumayan panjang sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan Disha, sampai Disha ragu apakah papinya ini memang berkenan untuk menjawab pertanyaannya.
"Kakekmu ingin semua dirahasiakan. Waktu itu Asara sedang dalam kondisi terbaiknya. Berita soal kematian mamimu hanya akan memburuk penilaian orang-orang kepada Asara dan Keluarga Baswara. Papi tidak bisa menentang kehendak kakekmu"