41

15K 855 65
                                        

Chapter - 41

"Ayah nyuruh aku buat diam? Bagaimana aku bisa diam? Saat ternyata kematian istriku sudah direncanakan?!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ayah nyuruh aku buat diam? Bagaimana aku bisa diam? Saat ternyata kematian istriku sudah direncanakan?!"

Praba berteriak dengan kesal kepada ayahnya yang terlihat tenang di kursi kebesarannya. Ia langsung menuju ke ruangan sang ayah begitu mendengar laporan dari Brata terkait kecelakaan Mustika. Ternyata istrinya itu bukan lalai mengemudi, tapi memang mobil yang ditumpanginya sudah disabotase. Awalnya ia mengira istrinya yang sedang kacau memang berkemungkinan besar tidak bisa fokus saat menyetir. Kendati demikian, ia menyuruh Brata untuk memastikan sebab kecelakaan Mustika. Dan benar saja, firasatnya tidak salah. Ada sesuatu yang janggal pada kecelakaan sang istri.

Kepala Praba benar-benar penuh. Berhari-hari ia tidak bisa tidur meratapi kepergian Mustika. Istrinya yang selalu pengertian kepadanya. Sayangnya ia harus menorehkan tinta hitam dalam pernikahan mereka dengan membawa Kamala. Praba tidak punya pilihan. Keadaan memaksanya untuk membawa Kamala masuk ke rumahnya dan Mustika. Ia menyesal sekali tidak menghadang Mustika kala itu saat perempuan itu pergi begitu saja membawa mobil sendiri.

Ia berhasil mencegah skandal tentang dirinya dan Kamala merebak luas, sayangnya ia tidak bisa mencegah kematian istrinya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa istri kakaknya bisa berbuat sekotor itu. Berniat melenyapkan istri dan putrinya. Atau lebih tepatnya target utamanya adalah sang putri. Dia dengar dari sopir, hari itu harusnya Mustika dan Disha akan pergi jalan-jalan bersama. Jika mereka tetap pada rencana, Disha sudah dipastikan juga menjadi korban. Mungkin ini secuil yang bisa Praba syukuri. Ia masih memiliki putrinya.

"Aku harus bilang ke Mas Prabu kalau istrinya sudah gila!"

Pembicaraan dengan ayahnya tidak membuahkan hasil. Lebih baik ia mencoba memberitahu kakaknya jika istri kakaknya itu tidak lebih dari seorang penjahat. Ia tidak bisa membiarkan kakaknya hidup bersama perempuan monster.

"Diam di tempatmu, Praba. Hanya kita yang tahu kebenaran ini. Dan harus seperti itu untuk selamanya. Kamu tahu kan perusahaan keluarga Adisti sudah banyak membantu bisnis kita. Kalau berita ini sampai bocor, reputasi kita juga dipertaruhkan"

Praba menggeram. Dadanya sudah terasa begitu panas mendengarkan setiap kata yang dikeluarkan oleh ayahnya. Ayahnya memang tidak pantas untuk disebut manusia yang seharusnya punya hati nurani.

"Lupakan saja yang kamu tahu. Anggap saja istrimu memang meninggal karena kelalaiannya sendiri. Jika orang-orang tau masalah ini, Asara akan terkena imbasnya. Orang-orang akan menilai buruk keluarga kita. Itu akan membuat reputasi Asara menurun"

Praba menyemburkan tawa getir. Yang terpenting bagi Prama Baswara memang selalu bisnis, bisnis, dan bisnis. Ayahnya itu bisa melakukan apapun untuk melindungi kerajaan bisnisnya. Termasuk menyembunyikan fakta tentang kematian menantunya yang disebabkan oleh menantunya yang lain.

Mengikat Hati [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang