44

15.4K 900 22
                                        

Chapter - 44

Suasana hati Disha tentu saja sangat baik pagi ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana hati Disha tentu saja sangat baik pagi ini. Ia mendapatkan tidur berkualitas. Tentu saja karena rencana-rencana yang disusun berjalan lancar –dan berkat pelukan Arva yang memberinya kehangatan sepanjang malam. Disha tidak akan mengatakannya langsung kepada lelaki itu, bisa-bisa Arva besar kepala. Suaminya itu pagi ini juga tidak berhenti tersenyum hanya karena dirinya memasakkan nasi goreng mentega kesukaannya. Rasa-rasanya dinding yang pernah membatasi mereka di awal pernikahan sudah melebur sepenuhnya dan tidak tersisa sama sekali.

Arva sempat memaksa ingin mengantarnya ke kantor. Disha menolak, ia kasihan kepada Farhan jika atasannya terlambat datang ke kantor dan malah menambah banyak pekerjaan asisten suaminya itu.

Ia merasa ringan untuk menjalani hari panjangnya. Disha berangkat ke kantor diantar oleh Pak Edi. Tapi belum lama dirinya duduk di kursi, bahkan ia baru membaca satu laporan dari salah satu divisi, ada kegaduhan yang terjadi di area ruangan Disha. Perempuan itu bisa mendengar suara teriakan dan amukan dari balik pintu. Sepertinya Geya sedang berusaha keras untuk meredakan amukan dari seseorang yang memaksa untuk masuk ke dalam ruangannya. Di kursi kebesarannya, Disha bertopang dagu. Ia mengenal suara siapa yang sedang berusaha menerobos masuk ke dalam ruangannya.

Pintu ruangannya akhirnya terbuka lebar. Menampilkan wanita yang tampak terengah dengan dada naik-turun. Tangannya memegang handle pintu kuat-kuat. Di belakangnya ada Geya yang meringis kepada Disha.

"Maaf, Nyonya Adisti memaksa untuk masuk"

"Tidak apa, Ge. Kamu bisa lanjutkan pekerjaanmu"

Wajah merah Tante Adisti dan dadanya yang masih naik-turun mengatur napas menjadi pemandangan menarik untuk Disha. Tentu saja Disha sudah memprediksikan kedatangan tantenya ini ke sini. Pasti Tante Adisti tidak berhasil melakukan apapun untuk membebaskan Pragya. Itu menambah kemarahannya dab berujunglah wanita itu ke sini. Untuk meluapkan segalanya kepada Disha atau justru memohon kepadanya agar melepaskan putra tersayangnya itu.

"Ini pertama kalinya tante datang ke kantorku. Tante tidak datang bersama Om Prabu?"

Disha celingukan dengan sengaja, seakan-akan mencari keberadaan Om Prabu yang sudah pasti tidak ikut ke sini.

"Jangan main-main denganku, Disha"

Disha mendengus, sudut bibirnya masih terangkat sebelah. Disha menegakkan tubuhnya kemudian bersandar di kursinya. Matanya menatap lurus pada istri pamannya yang sedang menatapnya tajam dan penuh rasa benci.

"Apa maksud kedatangan tante ke sini kalau begitu?"

"Saya bilang berhenti bermain-main, Disha. Jangan usik Pragya"

"Putra tante dulu yang berani mengusikku"

Disha bisa melihat wanita di depannya ini mulai kehilangan kesabarannya. Dari yang Kairav sampaikan, tantenya ini sudah berusaha ke sana kemarin untuk membebaskan sang putra. Mencoba menyuap sana sini, sayangnya tidak ada satu pun yang berhasil. Pengacara yang mewakili juga tidak bisa berbuat banyak karena banyaknya bukti yang sudah terlampir. Ghadi Adinata juga tidak akan bisa membantu, suami Tante Praya itu sibuk dengan masalahnya sendiri.

Mengikat Hati [✓]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang