14.

1.2K 80 17
                                        




Di sofa ruang tamu gh, Sutsujin sedang bermain hp nya, matanya sudah terlihat lelah sehabis main berjam-jam. Rinz, yang duduk di lantai, tiba-tiba berbicara. “Sayangg, ayo keluar.”Sutsujin ngelirik malas. “keluar? Ke minimarket buat beli camilan?”

“Bukan. Ke taman.”

Sutsujin mendadak berhenti scrolling. “Ke taman? kenala tiba tiba ke taman?”

“gapapa. aku cuma ngerasa pengap di sini. Lagian kamu butuh udara segar juga,” jawab Rinz santai, meski ada nada nggak biasa di suaranya. “Udara segar aku itu AC, Rin. Udah cukup,” Sutsujin bercanda. Tapi Rinz tetep ngeliatin dia, nggak kalah santainya.

“Jangan bikin aku tarik kamu paksa. Udah, lima menit lagi kita jalan,” kata Rinz sambil berdiri. Sutsujin mendesah, tapi akhirnya menaruh HP-nya. “Oke, oke. aku mau tapi kamu beliin aku minum.”

“Deal.” Tapi saat mereka jalan keluar, ada sedikit rasa penasaran di wajahnya. Sesekali, perubahan kecil nggak buruk juga.

Sutsujin duduk di taman kecil, menunggu Rinz yang sedang mencari minuman. Udara sore itu dingin, tapi hati Sutsujin rasanya hangat  karena Rinz. Baru beberapa minggu mereka jadian, tapi semua terasa terlalu sempurna.

“Kenapa bengong?” Rinz tiba-tiba muncul, duduk di sebelahnya sambil memberi kaleng soda. Senyumnya lebar, bikin Sutsujin tambah deg-degan.

“Nggak apa-apa, cuma... seneng aja.”

“Seneng?” Rinz melirik sambil ketawa kecil. “Seneng kenapa?”

“Ya... seneng akhirnya kita barengan gitu.”

Rinz diem sebentar, terus senyumnya berubah. Entah kenapa itu terlihat berbeda. “Kamu percaya banget ya sama aku?”

Sutsujin bingung. “Maksudnya?”

Rinz ngakak kecil, tapi kali ini tawa itu tidak nyaman didengar. “Kamu kira aku serius pacaran sama kamu?”

Sutsujin langsung kaget. "maksudmu,?, jadi kamu ga serius?”

“Yah, aku cuma bercanda. Nggak ada yang serius kok.” Rinz berdiri, tersenyum sambil melirik ke arah Sutsujin yang masih terpaku di duduk nya. “Santai aja, jangan baper. sorry wkwk”

Dunia Sutsujin kayak berhenti sejenak. Kata-kata Rinz sangat menyakitkan, seperti ada yang menusuk tepat di dadanya. “Rinz... ini nggak mungkin bener kan?” Sutsujin mencoba berbicara, denga suara gemetar.Tiba-tiba semuanya gelap. Rinz menghilang begitu aja.































Sutsujin baru saja terbangun dari mimpi buruknya. Napasnya berat, pikirannya masih teringat apa yang barusan ia alami di mimpi itu. Mimpi di mana Rinz bilang kalau semua hubungan mereka cuma bercanda. Beberapa menit kemudian rinz datang menemui sutsujin di kamar nya, "Lagi apa, koo? Aku kangenn."

Bukannya lega, Sutsujin malah tambah kesal. Dia tidak mengerti kenapa mimpi itu membuat hatinya panas, tapi sekarang dia merasa semua kata-kata Rinz jadi terdengar palsu.

"Kangen? Kayak aku bakal percaya itu." balas Sutsujin dengan cepat. Rinz kebingungan karena jawaban dari sutsujin itu "Hah? Maksudnya? Kamu kenapa sih?"

Sutsujin pun menjawab dengan emosi kepada rinz yang masih terpaku di depan nya
"Apa aku cuma mainan buat kamu, Rinz? Kayak di mimpi ku.... Kamu bilang semuanya cuma bercanda. Aku capek kalau kamu cuma main-main."

Rinz terkejut mendengar apa yang barusan sutsujin katakan, "Mimpi?, itu cuma mimpi loh koh. Aku serius sama kamu. Kamu kenapa tiba-tiba gini?"

Tapi sutsujin tidak ingin mendengarkan alasan itu entah mengapa sutsujin sekarang sedang tidak mood kepada rinz hanya karna mimpi itu
"Mimpi juga ada artinya, Rinz. Jangan-jangan hatimu beneran nggak tulus ke aku."

Bercanda || Rinz SutsujinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang