15.

906 75 2
                                        


*disclaimer*
ini chap nya aku loncatin pas mereka udah pulang M6 ya, soalnya klo aku buat chap pas M6 nanti ngerasa kelamaan, dan juga M6 kan udah lama selesai jadi langsung aku loncatin gapapa yyaa. happy reading all (⁠◠⁠‿⁠・⁠)









Apartemen RRQ hoshi terasa lebih sunyi dari biasanya. Kekalahan mereka di M6 masih segar di ingatan semua orang. Skylar, sang kapten, memilih untuk mengurung diri di kamar, sementara Idok dan Dyrenn sibuk dengan ponsel mereka, mungkin mencoba melarikan diri dari rasa kecewa.

Di kamar, Rinz duduk sendirian, memainkan mouse dan keyboard tanpa benar-benar memulai permainan. Pikirannya masih terpaku pada momen-momen kecil di pertandingan terakhir-kesempatan yang hilang, tekanan yang begitu besar, dan akhirnya, rasa hampa saat mereka harus menyerahkan trofi pada tim lain.

Sutsujin masuk tanpa suara, membawa sekotak biskuit yang ia letakkan di meja Rinz.

"Kamu belum istirahat?" tanyanya sambil menarik kursi di sebelah Rinz.

Rinz menggeleng, menatap layar monitor kosong. "Nggak bisa tidur. Rasanya... ada yang salah. Kalau aku main lebih baik, kalo aku ga blunder mungkin hasilnya beda."

Sutsujin menghela napas, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Rin, kalau kamu terus mikirin itu, kamu nggak akan maju. Kita semua bikin kesalahan, nggak cuma kamu."

"Tapi aku bisa lebih baik. Aku bisa lebih fokus... aku..." Rinz berhenti, menggigit bibirnya sendiri untuk menahan emosi.

Sutsujin menepuk bahu Rinz pelan. "Kamu tau?, Skylar bilang sesuatu tadi sebelum masuk kamar. Dia bilang, 'Kita kalah bukan karena satu orang, tapi karena kita tim yang masih harus belajar. Dan itu nggak apa-apa.'"

Rinz mendongak, menatap Sutsujin. "Dia bener-bener bilang gitu?"

Sutsujin mengangguk. "Aku tau dia kapten, dan beban dia pasti lebih besar. Tapi dia nggak nyalahin siapa pun, Rin. Kamu juga nggak perlu nyalahin diri sendiri."

Rinz terdiam sejenak, lalu mengambil biskuit dari kotak di meja. "Aku cuma nggak mau ngecewain kingdom yang percaya sama kita."

"Kamu nggak ngecewain siapa pun," jawab Sutsujin dengan suara tegas. " kingdomtahu kita udah kasih yang terbaik. Kekalahan ini cuma sementara. Kita masih punya banyak kesempatan buat buktiin diri."

Rinz tersenyum kecil. "Kamu selalu tau harus ngomong apa, ya?"

Sutsujin tertawa kecil, mencoba meringankan suasana. "Itu karena aku nggak mau liat kamu terlalu serius. Kalau kamu terus begini, kita semua bakal makin tegang."

Rinz akhirnya tertawa kecil, meskipun masih terasa berat. "Makasih, ko..."

Malam itu, mereka berdua berbicara panjang lebar, tentang pertandingan, mimpi, dan harapan mereka ke depan. Kekalahan di M6 memang menyakitkan, tapi mereka tahu itu bukan akhir dari segalanya.

Dan di tengah keheningan malam, sebuah tekad baru mulai tumbuh dalam diri mereka. Mereka akan kembali lebih kuat, bukan hanya sebagai individu, tapi sebagai tim yang kompak.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Langit Kuala Lumpur sore itu dipenuhi semburat jingga, seolah menyambut perjalanan pulang RRQ Hoshi. Kekalahan di lower bracket beberapa hari lalu sempat menjadi pukulan berat, tetapi kini suasana tim terasa jauh lebih ringan. Mereka menerima kekalahan sebagai pelajaran, dan keyakinan untuk bangkit semakin kuat.

Skylar berjalan paling depan sambil menggenggam boarding pass-nya. "Kita memang kalah, tapi aku nggak pernah lihat kalian main sekompak ini sebelumnya," katanya dengan nada yang penuh optimisme.
Idok, yang berjalan di sampingnya, tertawa kecil. "ya, walaupun gameplay gw juga kurang bagus, tapi yang kita capai juga uda bagus"

Bercanda || Rinz SutsujinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang