Sore hari di gaming house RRQ Hoshi. Rinz sedang bersiap untuk pergi keluar. Ia mengenakan jaket hitam kesayangannya sambil memeriksa ponsel. Di meja makan, Sutsujin duduk dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia memperhatikan Rinz yang tampak bersemangat, tetapi dalam hatinya ada rasa ganjil.
Sutsujin menatap Rinz dengan alis sedikit terangkat. "Mau ke mana? Kok rapi banget?"
Rinz menoleh dengan senyum santai. "Oh, aku mau keluar. Anak-anak Liquid ngajak nongkrong. Cuma makan-makan biasa kok, gak lama."
Sutsujin mengangguk pelan, mencoba menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Beneran ga lama?" Rinz tertawa kecil sambil mengambil kunci mobil dari meja. "Kan cuma nongkrong biasa, sayang. Gak penting banget kok, paling nanti pulang jam 8 an"
Mata Sutsujin sedikit menyipit, merasa ada yang aneh. "Tapi kamu pergi sama anak-anak Liquid? Gak ada siapa pun dari tim kita?" Rinz mengangkat bahu. "gatau sih, nanti siapa aja yang ikut, soalnya aku di ajak gugunn, sebenernya bisa ngajak idok, tapi idok nya kan ada di aceh"
Sutsujin terdiam sejenak, menundukkan kepala. "Oh, gitu..." gumamnya, nyaris tak terdengar.
Rinz menyadari perubahan sikap Sutsujin, tapi tidak terlalu memperhatikannya. Ia hanya berpikir mungkin Sutsujin sedang lelah setelah latihan kemarin. "Oke, aku pergi dulu ya. Jangan lupa makan. Kalau butuh apa-apa, kabarin aja ya."
Saat Rinz melangkah menuju pintu, suara Sutsujin menghentikannya. "Rin!"
Rinz menoleh. "Ya?"
Sutsujin berdiri, menatap Rinz dengan mata yang sedikit dalam. "Jangan lupa, ngabarin, kalo ada apa apa gimana?" Rinz tersenyum tipis, merasa perkataan Sutsujin terdengar lebih serius dari biasanya.
"Iya, Santai aja, aku gak akan kenapa-kenapa kok, bye love you" Sutsujin hanya bisa melihat Rinz pergi. Ia kembali duduk, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi jauh di dalam hati, ada rasa tak nyaman yang sulit dihilangkan.
Pukul 10 malam. Hujan mulai turun di luar gaming house RRQ Hoshi. Sutsujin duduk di ruang tamu dengan ponselnya, menatap layar yang menunjukkan pesan terakhirnya ke Rinz beberapa jam lalu. Tidak ada balasan. Kekhawatirannya semakin tumbuh, tapi ia berusaha menenangkan diri.
Sutsujin menarik napas panjang. "dia lupa kalo ada hp atau gimana ya?, daritadi ga aktif." gumamnya, mencoba berpikir positif. Tapi pikirannya terus bertanya-tanya. Sudah lewat waktu yang dijanjikan Rinz, dan tidak ada kabar sama sekali.
Ia mencoba menelepon lagi, tapi seperti sebelumnya, panggilannya tidak diangkat. Kekhawatirannya berubah menjadi sedikit kesal. "Seseru itu?, sampe lupa waktu gini, dia kenapa kenapa ga ya?"
Pukul 11 malam, suara pintu depan akhirnya terdengar. Rinz masuk dengan langkah santai, jaketnya sedikit basah terkena hujan. Ia terlihat ceria, seolah tidak sadar bahwa ada seseorang yang mengkhawatirkannya sejak sore.
"sayangg!" sapanya dengan senyum lebar. "Aku pulang."
Sutsujin berdiri dari sofa, menatap Rinz dengan tatapan campur aduk antara marah dan lega. "Rin, kamu tahu jam berapa ini?!"
Rinz terlihat bingung. "Hah? Ya, aku tahu kok. Tadi hujan, makanya agak lama."
"Hujan?" suara Sutsujin meninggi. "Aku telepon, aku chat, ga kamu baca sama sekali, katanya pulang jam 8, aku khawatir tau ga?"
Rinz terdiam, mulai menyadari bahwa ia telah membuat Sutsujin khawatir. "Maaf.... hpku tadi aku taruh di tas, jadi gak megang hp samsek."
Sutsujin menggigit bibir, mencoba menahan emosinya, tapi air mata mulai menggenang di matanya. "Kamu gak sadar ya, Rin? Aku di sini nungguin dari tadi, mikir yang enggak-enggak karena kamu gak kasih kabar. Apalagi hujan hujan gini"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bercanda || Rinz Sutsujin
Teen FictionHomopobic skip aja lah . . . . . . . JANGAN SALAH LAPAK‼️‼️
