Rinz memandangi layar ponselnya dengan tatapan kosong. Jemarinya terhenti di atas postingan Instagram Arlindya, BA dari Bigetron yang selalu tampil sempurna. "When you are young, they assume you know nothing'," begitu bunyi caption-nya, diiringi lagu Taylor Swift yang lembut.
Matanya bergerak ke bawah, tepat di bagian 'disukai oleh'. Nama itu muncul di sana. rrq_sutsujin.
Hatinya memanas. Ia tahu ini hal kecil, sepele. Tapi entah kenapa ada rasa tak nyaman yang menyelinap. Sutsujin, yang sekarang menjadi status pacar nya itu biasanya tidak peduli dengan hal-hal seperti ini. Jadi, kenapa sekarang dia menyukai postingan Arlindya?
"Aku berlebihan," gumam Rinz, mencoba menenangkan diri. Tapi pikirannya tidak mau diam. Ia terbayang senyum Sutsujin saat mereka latihan bareng, perhatian kecilnya saat ia merasa lelah. Semua itu membuatnya merasa istimewa. Dan kini, melihat Sutsujin menyukai postingan Arlindya, ia merasa seakan sesuatu telah direbut darinya.
"Kenapa, Rinz?" suara teman satu timnya memecah lamunan. Rinz buru-buru mengunci ponselnya. "Gapapa." Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Ini lebih dari sekadar 'Gapapa.'
Rinz mencoba mengalihkan pikirannya dengan berlatih. Suara klik mouse dan ketukan keyboard memenuhi ruang latihan. Tapi fokusnya buyar setiap kali matanya melirik Sutsujin yang tampak santai di kursinya, dengan senyum tipis saat men-scroll ponselnya.
'Masa sekarang dia ngelihatin postingan nya Arlindya?' pikir Rinz, meski ia tahu itu hanya spekulasi. Namun, bayangan itu terus menghantui.
Saat rinz selesai latihan, Sutsujin yang menyadari rinz sudah selesai dengan pekerjaan nya itu pun mendekat ke arah Rinz. “Capek?” tanyanya sambil menyerahkan sebotol air mineral.
Rinz mengambilnya tanpa banyak bicara. “Nggak terlalu,” jawabnya singkat. Sutsujin mengerutkan kening. “Kamu kenapa? Dari tadi diem banget.”
"Gapapa” Rinz menunduk, mencoba menghindari tatapan pria itu. Tapi Sutsujin bukan tipe yang gampang menyerah. “Serius?, pasti kamu mikirin sesuatu?”
Rinz akhirnya mendongak, matanya menatap tajam. “Kenapa kamu like postingannya Arlindya?” tanyanya langsung, tanpa filter. Sutsujin tampak kaget, lalu tertawa kecil. “Hah, gapapa sih. Lagipula, semua orang di tim Bigetron juga like, kan?”
“Tapi…” Rinz terdiam. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi takut terlihat terlalu emosional. “Rinz,” Sutsujin mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku gak tahu kenapa kamu bisa ovt soal itu, tapi kalau aku salah, maaf, ya. Jujur, aku nggak ada maksud apa-apa.”
Rinz menggigit bibirnya. “Aku… aku cuma ngerasa…” Ia menarik napas panjang. “Lupain, aku berlebihan.”
Sutsujin menatapnya dengan serius, kali ini tanpa senyum. “Kalau ini bikin kamu nggak nyaman, aku bakal lebih hati-hati. Aku nggak mau kamu ovt, terutama karena aku.” Kata-kata itu membuat dada Rinz menghangat, meski ia berusaha menyembunyikannya. “Kamu nggak perlu sampai segitunya.”
“Tapi itu kemauan ku sendiri,” jawab Sutsujin tegas. “Karena buat aku, kamu itu penting.”
Kata-kata itu menggantung di udara, membuat Rinz tertegun. Ia tak menyangka akan mendengar pengakuan seperti itu dari Sutsujin. Seketika, rasa cemburunya memudar, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih hangat dan berarti.
"jadi temenin aku makan nggak?” tanya Sutsujin santai, kembali dengan senyum khasnya. Rinz hanya mengangguk pelan, senyum kecil muncul di wajahnya. “Iya, ayo.”
Dan kali ini, hati Rinz merasa lebih ringan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bercanda || Rinz Sutsujin
Novela JuvenilHomopobic skip aja lah . . . . . . . JANGAN SALAH LAPAK‼️‼️
