Rinz berjalan dengan langkah cepat meninggalkan ruang latihan, tapi hatinya terasa semakin berat di setiap langkah. Nafasnya masih memburu, dada terasa sesak oleh amarah yang belum sepenuhnya mereda. Namun, begitu ia sampai di kamar nya, angin AC di kamar nya, membawa sedikit ketenangan.
Ia berhenti dan duduk di kursi, ia memikirkan kejadian yang barusan terjadi, tangan gemetar sambil menggenggam kepalanya. Wajah Sutsujin yang menangis terbayang jelas di pikirannya, membuat hatinya bergetar.
"Aku... Aku kasar ke Arthur..." gumamnya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata, mengingat setiap detail apa yang baru saja terjadi. Tangannya mendorong tubuh Sutsujin, suaranya yang penuh amarah, dan terakhir, tatapan pasrah serta air mata di pipi Sutsujin. Mengingat sutsujin tidak bisa menerima kekerasan seperti itu
"Yang aku lakuin tadi salah. Aku gak cuma marah..., aku sampai kasar..."
Rinz mengusap wajahnya dengan kedua tangan, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu, amarahnya memuncak karena rasa cemburu yang ia pendam terlalu lama. Tapi itu bukan alasan untuk kehilangan kendali seperti tadi.
"Aku cuma pingin dia ngerti perasaanku... Tapi emang harus sampe kasar? Emang dengan kekerasan bisa nyelesain masalah?, Rinz tolol" ia menayakan dan menyalahkan diri sendiri
Perasaan bersalah mulai menggerogoti hatinya. Meski ia merasa terluka oleh tindakan Sutsujin yang terus-menerus menyukai postingan Arlindya, Rinz tahu bahwa reaksinya tadi adalah sesuatu yang seharusnya tidak terjadi.
Angin dari AC semakin dingin, tapi Rinz tetap duduk di sana, menatap kosong ke arah lantai. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ia pantas marah seperti tadi? Apakah ia terlalu keras pada Sutsujin?
"Dia gak pernah bermaksud jahat.. aku tau itu. Tapi aku yang nggak bisa ngendaliin diri ku sendiri."
"Kalau aku nggak segera ngomong, semuanya bisa jadi makin parah..." pikirnya dalam hati.
Namun, di saat yang sama, ia juga merasa takut. Takut menghadapi Sutsujin setelah apa yang ia lakukan. Ia tahu, kata-katanya tadi mungkin telah melukai Sutsujin lebih dalam daripada yang ia sadari.
Rinz duduk di tepi tempat tidur. Ia memandangi ponselnya, berharap ada pesan dari Sutsujin. Tapi tidak ada. Ia mendesah panjang, meletakkan ponsel di meja, dan merebahkan diri di kasur, memandang langit-langit kamar yang terasa begitu sepi.
"Besok... Besok aku harus bicara sama dia. Aku gak bisa biarin terus terusan kek gini."
Namun, malam itu, seperti halnya Sutsujin, Rinz juga sulit memejamkan mata. Penyesalan terus menghantuinya, membuat waktu terasa berjalan begitu lambat.
Pagi itu, Rinz bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Ia menghabiskan waktu di kamarnya, berlatih apa yang akan ia katakan kepada Sutsujin. Kata-kata seperti "Maaf," "Aku nyesel," dan "Aku nggak akan ngelakuin itu lagi," terus terulang di pikirannya.
Namun, rasa takut masih menyelimuti hatinya. Bagaimana jika Sutsujin tidak mau memaafkannya? Bagaimana jika kejadian semalam meninggalkan luka yang terlalu dalam?
Dengan tangan gemetar, Rinz mengetuk pintu kamar Sutsujin.
"Thur... ini aku," ucapnya pelan. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. "kamu di dalem kan?. Aku mau ngomong baik baik, bentar aja, bisa?"
Dari dalam kamar, Sutsujin duduk di atas tempat tidur, memeluk lututnya. Mendengar suara Rinz membuatnya merasa cemas dan takut. Ia teringat kejadian tadi malam, tatapan penuh amarah, suara keras, dan sentuhan kasar yang membuatnya merasa kecil dan tak berdaya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bercanda || Rinz Sutsujin
Teen FictionHomopobic skip aja lah . . . . . . . JANGAN SALAH LAPAK‼️‼️
