JANTUNG Jina berdegup teramat kencang, saking kencangnya ia takut ini bukan reaksi yang normal. Ketika ia menangkis segala risiko yang bisa ditimbulkan atas keputusannya, pikirannya telah kacau balau. Apa yang bisa Jina lakukan tanpa Jimin? Menyelinapi kadang harimau sangat dibutuhkan keahlian juga taktik yang tidak dimiliki. Keterlibatannya telah disingkirkan, itu karena Rutledge mengekang.
Kedua pria itu telah pergi ke mana tempat dari yang Jina informasikan. Vila di mana Jane bersembunyi cukup jauh dari lokasi Tiger Bar ini.
Jina menyelinap melalui sela kecil yang Jimin beritahukan tempo lalu; jalur keluar cadangan milik Anne. Bahkan Rutledge sendiri sangkal mengetahuinya. Kamar Anne Rutledge dirancang penuh perhitungan, ketika Rutledge terlalu sibuk di Washington, Anne merancang gedungnya sendiri di sela-sela kencannya bersama Jimin. Tiger Bar.
Jina menekan tombol kecil tersembunyi yang lalu memberi perubahan pada sofa biru bergeser beserta lantainya. Melongok pada lubang selebar satu kali satu meter yang hanya tersorot lampu kamar, ia bergegas mencari sumber cahaya lain yang bisa dibawa. Ada senter kecil di laci dibawanya. Tidak ada tangga untuk turun, satu-satunya cara hanya terjun melompat kendati memang tidak tinggi, tangannya masih bisa meraih lantai di atas; mengangkut serta guci berisi abu kremasi ayahnya untuk dibawa serta. Saat tangannya meraba dan tanpa sengaja menekan tombol lain, lantai tersebut kembali menutup.
Ia bergegas mengikuti lorong, lantai dasarnya menanjak membawanya ke arah gerbong kecil yang muat di tubuh. Ia berhasil keluar di belakang gedung. Meski tahu tidak ada yang akan ditemui di luar, Jina merasa dentum jantungnya meningkat. Ia akan meninggalkannya; Rutledge bersama kehidupan pria itu.
Rutledge terlalu sibuk sekarang untuk mengetahuinya pergi.
Atmosfer dini hari memberi sunyi yang lantas Jina pecahkan dengan deru napasnya ketika berlari dengan tangan membopong guci sepenuh hati. Kaki melaju cepat-cepat menyisiri jalanan hingga lelah membawanya pada aliran sungai. Ia berhenti di tepi. Ada sebuah mobil disiapkan di sana. Tetapi sebelum Jina mendatanginya, ia membuka penutup guci dan melarungkan abu kremasi Ayah ke air dingin yang segera meresapnya.
“Tidak ada pilihan lebih baik untuk sekarang. Apa pun risikonya, hidup tidak akan terasa berbeda dengan mati.” Kaki-kakinya mundur bergantian; dari tempo lambat hingga ketika tubuh berbalik, ia bergegas menuju mobil. Kunci yang tertanam diputar dan ia tidak lagi peduli jika kendaraan dalam kendali justru membawanya pada jurang kematian sekalipun. Namun setidaknya, ia mesti menyeret seseorang untuk dibawanya ikut serta. Keputusan mengambil alih telah sekencang tangan menggenggam setir, juga semantap kaki menginjak pedal gas. Ia akan berusaha sampai sebelum nyawa justru melayang percuma. Tiada yang lebih kuinginkan selain kematiannya untukku.
Kaki Jina menginjak pedal gas penuh kemantapan tetapi kemampuannya dalam berkendara ialah nol persen. Kepala menghantam setir ketika rem terinjak spontan. Tidak, tidak, tidak. Ia tak akan menyerah di sini. Ia harus sampai di rumah Jane segera, untuk mengawasi sebelum menyelusup sebagai perempuan itu. Jung Jungkook akan kembali besok pagi, menurut informasi yang didengar dari pembahasan Jimin dan Rutledge. Akan baik jika ia bersiap. Jungkook tak akan menemukan Jane di Vilanya, tetapi akan menemukan Kim Jina di rumah.
Mengatur napas untuk lebih rileks, tangannya yang gemetar berada di roda kemudi. Ini mudah, Jina. Hanya perlu menekan gas perlahan, roda mobil berputar lambat, kemudian kakinya yang belum terbiasa justru menginjak rem mendadak. Ia sendiri terkejut dengan gerak tubuhnya yang tak terkendali. Jina mengatur napasnya kembali; masuk-keluar-masuk-keluar. Ia mencobanya, sekali lagi. Perlahan-lahan melaju dan memutar setir untuk terjun ke jalanan. Namun sebelum melanjutkannya, ia justru keluar. Menutup pintu hingga bunyi debumnya memecah hening. Teriakannya kemudian terlalu emotif. Menunjukkan kesan frustrasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓
FanfictionKecelakaan tidak merenggut nyawanya melainkan identitas. Kim Jina bukan seorang baik hati hingga tidak turut menuai keuntungan atas kesalahan fatal Taehyung Rutledge; yang mengubah wajah Jina menjadi serupa Jane Fletcher. Namun, fakta bila keterliba...
