KIM Jina menjinjing tasnya lebih tinggi. Kaca mata hitam yang membingkai jelas tidak hanya membantu redam silau, terdapat tujuan tersendiri untuk tidak dikenali. Ia beruntung berhasil melewati uji paspor di bandara. Dengan menyerahkan identitas Jane telah mempermudah jalur. Ia pernah beberapa kali mengurus penerbangan Jane, tidak sulit untuk meniru cara Jane Fletcher bisa mendapat penerbangan kendati dalam waktu terbatas. Ia tidak memiliki paspor Jane, tentu saja. Ia membuat duplikatnya. Jung Jungkook pernah mengajaknya sekali ke tempat ilegal itu. Kesan terburu-buru diperjelas, dan wajahnya sangat membantu.
Ia berdiri di sini. Bersama keinginannya untuk mengenal seseorang pemilik nama yang terukir cantik di puncak gedung Galery; Anne Rutledge. Pembukaan galery berikut pameran seni baru saja dimulai, beberapa orang melewatinya untuk segera masuk. Ia baru tahu ternyata Anne Rutledge dikenal sebagai seniman berbakat. Karya-karyanya mengundang banyak atensi publik. Bukan hanya para penggemar dan pecinta seni, beberapa reporter menyambut di depan pintu masuk. Jina membenarkan kaca mata berlingkar besar itu, berharap untuk tidak dikenali siapa pun. Dengan langkah mantap, menerobos ke sebuah rombongan lebih dari sepuluh orang, karena media tidak boleh menyorot bagian mana pun dari tubuhnya. Ia menyelinap dengan keahlian baru. Ada tangga menuju ruang utama pameran; yang di dindingnya terdapat foto sang bintang acara; Anne yang cantik, wajah Asia-Amerika sempurna, sangat mirip Taehyung Rutledge. Rambutnya yang pirang emas dicat perak membuat percampuran unik. Senyumnya lebar menunjukkan satu gigi gingsulnya menambah kesan manis dipandang. Hidung tinggi dan mata indah berseri-seri menatap kamera. Ia yakin Jimin dan Taehyung ingin mengesankan adik perempuan mereka terasa hidup di sini.
Semakin Jina menjejak naik terdapat bingkai-bingkai biografi Anne Rutledge; tanggal ini tepat sama dengan tanggal kelahiran Anne yang tertera. Tepat diujung tangga terdapat sebuah foto dalam figura kecil yang memperlihatkan gadis Rutledge tersebut bersama seekor harimau kecil. Sebelum kemudian dalam nuansa putih elegan beberapa karya pajang menyambut. Cantik sekali, pengaturan ruangan yang berkelas. Seseorang di balik meja meminta setiap orang mengisi daftar kunjung. Memang tidak butuh tiket dan semacamnya, mereka yang datang hanya perlu mengisi nama, dan ucapan untuk sang bintang pameran. Jina mengisinya di sana, menulis kalimat pendek beserta inisial diri. Ia tidak mau Jimin atau Rutledge membaca namanya.
Ini pertama kali Jina mengunjungi sebuah pameran seni, bisa dibilang Kim Jina buta seni. Tetapi apa saja yang mata dari balik lensa hitamnya jangkau ketika kaki menjejak masuk serasa menghipnotis. Anne Rutledge benar-benar memukai. Ia mendatangi sebuah lukisan harimau yang hampir memenuhi dinding. Kesan hidup tumbuh dari isi lanskap. Lama hanya berdiri. Terdapat keterangan kecil beserta tanggal-tanggal yang mengidentitaskan bahwa lukisan diambil dari subjek nyata. Harimau itu benar-benar ada, dan diyakinkan dengan adanya foto kecil di tangga masuk tadi. Ia jadi berpikir, apakah mereka sungguh memelihara harimau? Atau hanya mengadopsinya? Karena ia sekarang berada di Washington, bahasa resmi yang digunakan adalah bahasa inggis. Tidak banyak kosa kata yang bisa Jina pahami, membuatnya tidak banyak dapat membaca keterangan-keterangan yang ada.
Ia meninggalkan lukisan harimau itu untuk menuju beberapa lukisan yang lebih kecil. Bukan sebuah subjek nyata, hanya sebuah coretan indah di kanvas yang memiliki arti tersirat. Anne seorang pelukis lepas. Jina berniat melanjutkan langkahnya menyisiri objek-objek lain, tetapi ketika ia mundur selangkah seseorang tanpa sengaja menabraknya. Orang berwajah Amerika asli itu segera meminta maaf secara sopan menggunakan bahasa inggis yang masih Jina mengerti, sebelum ia membalasnya secara baik-baik untuk mencegah siapa pun terdistraksi pada mereka berdua. Jina dengan cekatan mengambil kaca matanya yang jatuh dan memakainya segera. Mengamati sekitar seolah takut ada yang sempat melihat wajahnya keseluruhan. Ia bersyukur kekhawatiran itu timbul nyatanya hanya rasa lewat. Tidak ada atensi yang mengarah intens. Seseorang masih sibuk bersama sesuatu di hadapan mereka masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓
FanfictionKecelakaan tidak merenggut nyawanya melainkan identitas. Kim Jina bukan seorang baik hati hingga tidak turut menuai keuntungan atas kesalahan fatal Taehyung Rutledge; yang mengubah wajah Jina menjadi serupa Jane Fletcher. Namun, fakta bila keterliba...
