IA barangkali hanya beruntung.
Tidak, ia seharusnya tidak mendapat keberuntungan lebih dari sekali dalam menghadapi kematian. Namun dirinya masih hidup bukanlah lelucon, kendati omong kosong. Kim Jina tidak berharap akan bertahan hidup kali terakhir. Bukankah laras pistol Laurie sudah menodongnya? Kematian serasa terlalu dekat. Tidak seharusnya wanita itu pergi menyisakan ia bersama kekosongan yang tersisa. Menjadi dugaannya, membunuh Kim Jina jelas bukan prioritas di atas terlacaknya Jane Fletcher yang terancam nyawa. Kendati hanya perlu satu saja gerakan jari, pada dasarnya Laurie tidak membutuhkan lebih dari tiga detik.
Beberapa pria masuk seperti menyergap acara ancam-orang-orang milik Rank Fletcher--sebelum bisikan membuat Laurie melupakan segala hal yang berada di hadapnya; termasuk todongan pistol itu yang segera pergi bersama tungkai membawa tubuh.
Kaki membawanya berlari menerobos hutan. Dan ia sempat sedikit berharap akan jatuh kemudian mati, tetapi itu pun tidak terjadi. Atau justru ia memang tidak berniat dengan sungguh-sungguh? Dengan ranting dan dahan pohon merobek gaun Jane di tubuh, semak-semak menggores kaki. Perih; seperti pipinya yang masih berdarah. Ia terus berlari. Entah untuk pelarian dari apa. Tidak pernah ada yang mengejar. Ia tahu hanya seorang diri menembus hutan, dan matahari menyorot silau dari atas rimbunan pohon-pohon tinggi yang mengelilingi.
━━━
Jina tahu, begitu terbangun ia hanya akan mendapat kekosongan belaka. Cahaya matahari menembus daun-daun rimbun hingga menerobos dari sela-sela gorden arang kondominiumnya. Aroma sisa hujan semalam tercium, masuk lewat ventilasi kecil di atas jendela kaca. Masih dalam pejam dan menggeliat, sedikit beruntung ia jauh dari deru lalu lintas yang bising.
Delapan minggu berlalu Jina selalu mengulang hari dengan cara sama, yang terlalu kejam. Tidak pernah ingin menikmatinya. Ia bangkit dan menyetel radio barang untuk mengetahui dunia masih baik-baik saja. Sengaja tidak membuka gorden. Kelembapan dalam atmosfer suram melatarbelakangi kehidupan Kim Jina tanpa arah. Tersiar berita pagi yang tidak penting-penting amat. Mengambil sebotol susu dan roti berikut selai stroberi untuk dikonsumsi. Ia masih tidak mengerti mengapa harus mengisi perut sedangkan bertahan hidup saja rasanya telah sungkan. Jina bisa memilih mati kelaparan dalam kondominium sempit ini. Namun kematian seperti itu pasti akan terasa menyiksa.
Di cermin yang retak di dalam kamar mandinya yang juga minim udara, terpampang wajah Jane Fletcher terlalu nyata. Kesan teror masih serasa menyekik. Ada segaris bekas luka memanjang di pipi. Jina tidak sama sekali mengobatinya, tetapi luka itu sembuh dengan sendirinya. Kenangan dalam berbulan-bulan terakhir terkadang masih terus membayang seperti terputar di cermin kerap kali ia pandangi wajah. Refleksinya terkesan dramatis. Ia ingat saat baru tiba di hunian lawas ini, yang menyambut ialah reka-reka lampau masa kecil ketika hidup masih terasa damai. Ada ibu, ada ayah, juga ada kedamaian nyata. Harapan sekecil ia bisa merasakannya lagi. Yang itu telah menjadi tidak mungkin.
Lama di sana hanya berdiri, Jina mulai putar badan pergi ke bawah pancuran, mengguyur tubuh; mengamati wajah menjadi terlalu sering dilakukan setiap ada kesempatan. Atau jangan-jangan ia masih banyak berharap wajah yang dulu dapat kembali secara spontan. Kendati Jina tahu harapan itu telah pupus. Seperti sekali kejapan dan dunia kembali. Ia tidak menyayangkan bekas luka di sana, sebab itu dapat mengingatkan pada Jung Jungkook yang menggelepar di bawah kakinya tanpa nyawa. Sebuah kepuasan yang tidak stabil.
Barangkali ia hanya beruntung.
Jina mengambil handuk lalu mengenakannya. Ia memang tidak berniat keluar dari kondominium kumuh ini. Seperti yang dilakukan dalam delapan minggu lebih terakhir. Persediaan makan masih bisa menyambung hidup selama beberapa minggu ke depan. Itu ia lakukan semata tidak ingin tampakkan diri, terlebih dalam identitas berwajah Jane. Biarpun ia sangkal orang sekitar akan peduli. Namun keputusan untuk mengisolasi diri tidak bisa dibatalkan. Dan mau sampai kapan? Belum ada jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓
Fiksi PenggemarKecelakaan tidak merenggut nyawanya melainkan identitas. Kim Jina bukan seorang baik hati hingga tidak turut menuai keuntungan atas kesalahan fatal Taehyung Rutledge; yang mengubah wajah Jina menjadi serupa Jane Fletcher. Namun, fakta bila keterliba...
