PILIHANNYA memang salah. Ketika ia memutuskan untuk menghirup udara lebih segar ketimbang dari ruang kondominiumnya yang sempit dan pengap, itu mengandung konsekuensi. Salah satunya memungkinkan ia berakhir pada situasi ini.
Tiada faktor penambah kesan dramatis. Pencahayaan terang menyorot tubuh membuatnya begitu terekspos. Ia menggigil, dalam dekap kain pakaian rapat. Kaki berbalut sepatu bot tampaknya lebih lengket ketimbang sebelum. Kim Jina berdiri kaku. Berharap ini hanya sekadar mimpi? Kendati hati banyak berharap pada kenyataan. Pikirannya runyam, bila saja ini bukan kehendak Tuhan Sang Maha Baik. Ia bisa menyalahkan diri lebih banyak andai Taehyung Rutledge di belakangnya justru tidak mengharapkan pada pertemuan tak disengaja seperti ini. Seharusnya Jina memang tidak perlu keluar, apa pun yang dapat memancingnya.
Sedikit pemikiran untuk menolak, dengan kabur atau segala cara lain, tetapi sebelum sempat ia betindak Taehyung telah mencengkeramnya; bukan secara harfiah. Ia di peluk, dari sisi belakang. Dan tangan-tangan Taehyung yang mendekap terlalu erat. Kim Jina berdiri kaku. Kendati tungkai serasa akan longsor, dan keinginan segera untuk berbalik barang melihat sosok di belakang lebih jelas.
Haruskah ia bersuara, "Anda mungkin salah mengenali orang." Akan tetapi, Taehyung Rutledge tidak pernah salah. Ia yang mengubah Kim Jina menjadi lain, dan kemudian mengenalinya jauh lebih baik. Jina ingin berkelit, dan reaksinya justru jauh lebih kuat menahan.
Lebih banyak hanya dipikirkan, badannya kini diputar. Dari balik lensa hitam yang menyamarkan mata, Jina memandang raut Taehyung yang mengindikasikan suatu ekspresi asing. Bukan marah. Dan bukan juga sedih. Kendati sedikit berkabut. Cemas atau justru tidak merasa senang menemukannya di sini? Dan pelukan atas dasar apa ini?
Lengannya kemudian di genggam. Ekspresi di sana berubah, menuntunnya untuk mengikuti.
Taehyung menariknya dan mereka menuruni anak tangga. Bukan untuk keluar lewat pintu masuk gedung, melainkan ia justru dibawa semakin masuk melalui lorong. Pencahayaan menyusut bersama bising keramaian menjadi redam. Mereka berhenti di sisi pintu entah mengarah ke ruangan apa, dan ia disudutkan. Tembok putih bersih di belakang menjadi tempat punggung Jina bertumpu. Rutledge menatap dengan ekspresi berubah-ubah dari yang dapat Jina amati lewat lensa. Sebelum kemudian kaca mata hitam tersebut ditarik dan mereka telah bersitatap secara langsung.
"Apa sekarang kau membacanya?" Mata Rutledge yang memukau itu menantang. Merangkap untuk tidak terlewatkan. Mendorong serta Jina pada kedalaman lebih menyesatkan.
Apa? Apa yang bisa ia baca dari seorang Taehyung Rutledge?
Jina belum bersuara, tetapi Taehyung tidak tengah menunggu-nunggu itu. "Aku tidak pernah menyuruhmu pergi. Tidak waktu itu, bahkan kapan pun." Suara Taehyung terdengar lebih lirih, kendati terlalu jernih masuki pendengaran. Bahkan terkesan sungguh-sungguh tanpa sama sekali sisi ragu itu hadir. Ia berbisik lagi yang masih terlalu jelas, "Caraku mungkin terlalu buruk."
"Rutledge ...." Jina hendak menyanggah, sebelum menyadari labium mereka terlalu dekat untuk tidak menyatu. Namun penyatuan itu masih belum diberlakukan. Ada penghalang. Dan itu barangkali sebuah rasa yang begitu menggebu. Tangan Taehyung menangkup sebelah pipi, sapuannya lembut Jina rasakan. Bahkan reaksi sendiri terlalu berdebar-debar, membuat kata-katanya justru tersangkut. Ia kesulitan berbicara, selain mendapati tindakan pria ini jauh dari angan-angan yang selama beberapa bulan mengganggu. Jina tidak menduga bahwa Taehyung akan merasa; seperti senang.
Apakah mungkin Taehyung senang menjumpainya lagi? Sekeras apa ia ingin menyangkal, karena begitulah dari yang dapat dibaca.
Taehyung menekan dirinya lebih rapat, menyentuh Jina untuk sekadar merasai nyata. Detik berikutnya ia memejam, menyembunyikan matanya yang berkilat-kilat ungkap kejujuran hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓
FanfictionKecelakaan tidak merenggut nyawanya melainkan identitas. Kim Jina bukan seorang baik hati hingga tidak turut menuai keuntungan atas kesalahan fatal Taehyung Rutledge; yang mengubah wajah Jina menjadi serupa Jane Fletcher. Namun, fakta bila keterliba...
