CHAPTER 19

42 10 8
                                        

SEPERTI memutar ulang kejadian, ketika Jane Fletcher pergi dan menipunya. Satu hal lagi yang dirampas ialah ketenangan batiniah. Taehyung Rutledge tidak seharusnya merasa demikian. Terlebih hanya karena kehilangan Kim Jina.

“Apa itu yang menuntunmu mau pulang, Rutledge?” Itu bukan merujuk pada apa yang berada di hadapan mereka. Barangkali Na Haewon telah lebih mengenalnya sama seperti wanita itu mengenal putra kandungnya sendiri. Kehadiran wanita tersebut di sisinya sukses memberi cela pada pikiran satu arah. Ia sedikit memutar hadap; gestur memberi rasa hormat. Na Haewon belum tampak lebih tua dari terakhir kali Taehyung ingat. Kesan tegas, cerdas, sekaligus sisi lemah lembut yang hanya diperlihatkan pada waktu tertentu itu kini hadir. Menuntut penjelasan memang tidak tersuarakan kendati kalimat tanya tersebut mengharapkan jawaban tepat sejujur-jujurnya.

“Apa kabarmu, Mama?” Taehyung menggamit satu telapak tangan Haewon untuk dibubuhi kecup sekali. Kebiasaan kecil tersebut mengingatkan pada Anne; ia, Jimin dan Anne selalu melakukannya. Bukankah itu terlalu kejam jika dijadikan salah satu alasan Rutledge berhenti menemui wanita ini?

“Seperti yang sedang kau lihat, ditambah suasana hatiku membaik atas kedatangan putra keduaku setelah sekian lama.” Senyum Haewon tidak terlalu merekah tetapi pantas menunjukkan isi perasaannya. “Tetapi sepertinya hati putraku sedang tidak baik?”

“Hanya hal kecil yang mengganggu.”

Tindak-tanduk Haewon yang anggun memberi sapuan halus dari satu tangannya di lengan Taehyung. Wanita tersebut tersenyum lebih lebar sampai giginya yang rapi terlihat. Pahatan cantik membentuk wajah, disapu untai lembut rambutnya yang legam dikeriting. Dan kendati umurnya menua, ia tidak terlihat demikian. “Jika hal kecil itu hanya memengaruhi pikiran, ia akan secepatnya pergi. Tetapi jika hal kecil tersebut memengaruhimu hingga ke perasaan, ia memang berniat untuk tinggal.”

“Aku tidak menceritakannya padamu.”

“Tapi kau putraku, Rutledge, bagaimana pun hubungan kita bermula. Aku membiarkan suamiku menikahi ibumu bukan tanpa maksud. Aku menginginkanmu dan Anne menjadi milikku juga. Seharusnya kami bisa saling berbagi perasaan cemasku sekarang. Berkolaborasi sebagai seorang ibu untuk ketiga anaknya.”

“Kau sungguh wanita yang baik, Mama ....”

“Anne akan lahir tanpa ayah. Dan kau masih jauh dari cukup umur untuk mampu melindungi kedua perempuan berhargamu. Dia ....” Astaga, kematian ibu dari putranya yang satu ini akan selalu terasa segar. Ia tidak pernah lupa pada kepulangan suaminya dua puluh empat tahun lalu dengan membawa seorang anak laki-laki seusia putra mereka bersama istri Garth Rutledge yang dalam kondisi memprihatinkan. Haewon seorang dokter, ia tahu pasti kondisi saat itu akan berpengaruh buruk untuk kehamilannya. Sangat disayangkan, Ahn Seorin justru terlalu cepat menyusul Garth. Wanita yang tidak sama sekali dianggap sebagai saingan tersebut meninggal usai menghadirkan Anne Rutledge ke dunia.

“Kau terlalu mencintai Anne, sampai-sampai aku tidak mengerti kenapa kau tidak juga merestui mereka.”

“Jimin dan Anne?”

“Ya.”

“Anne putriku, dan Jimin putraku. Aku tidak ingin mengubah hubungan itu.”

Ketika Haewon memutar hadap pada apa yang semula Taehyung saksikan; harimau dalam kandang itu bangkit dari duduknya dan menghampiri kedua manusia di balik jeruji besi. Ia mengenali tuan pemelihara kendati lama tidak jumpa. Kepalanya bergoyang lembut ketika berjalan.

“Itu yang selalu kau katakan.”

“Dia selalu mengharapkan kehadiranmu.” Haewon mengubah arah pembicaraan seolah tengah menghindar, dan lagi pula Taehyung sedikit terhipnotis setelah menyentuhkan tangan membelai peliharaannya tersebut. Ia mengadopsi harimau itu sebab dulu melihat hewan tersebut bernasib buruk. Induknya meninggal, dan Anne menginginkannya secara naluriah.

𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang