CHAPTER 23 [END]

171 10 30
                                        

BERKECAI, kaca-kaca itu menghantam wajah bagai serangan merawak rambang. Panas api menyudutkannya pada kematian. Denging di telinga hasil ledakan memberi kompleksitas pola pikir, memperlambat refleks tubuh. Ia terlambat, andai pintu mobil terkunci. Tetapi ia berhasil keluar. Ia di luar, kesakitan. Kepanasan karena terbakar. Dan sembari merasakan perpaduan itu, dalam berbaring ia menatap langit yang menaburkan salju. Lanskap berwarna kelabu, kabut pekat musim dingin. Badai belum berakhir, kecuali ini mungkin caranya untuk pergi dari kehidupan.

Tidak. Seseorang datang. Berdiri menjulang, tetapi tangan itu terlalu jauh untuk digapai. Itu karena ia tidak bisa. Ia bukan keluar, mungkin terlempar atau melemparkan diri dan berguling dari aspal sebelum sempat mobil ikut meledak. Akan kutunjukkan bahwa aku masih hidup. Napasnya memburu. Bersama tarikannya yang panjang, kesadaran justru lenyap.

"Hai, open your eyes."

Maniknya terlihat begitu kelopak mata tersingkap spontan. Dahi penuh peluh. Napas memburu seolah dikejar kematian sungguhan. Apa yang terjadi? Ia harus tenang.

Tenanglah.

"Hai, I'm here, Ji." Pelukannya kemudian bagai beban yang lembut menyambut. "It's just a dream. You're safe with me." Bukan sebuah proteksi yang mengancam sebenarnya, Rutledge tampak terlalu tenang dan meyakinkan-dan juga tulus. Namun mimpi atau bayangan samar tadi mendoktrin untuk ia menjauh, melepaskannya.

Malam terasa panjang ketika Jina menilik nuansa luar lewat pintu kaca balkon, belum ada cahaya matahari menerobos. Itu berarti tidurnya belum lama. Taehyung meraihnya lagi, kali ini memegangi lengan. Dan Jina menepisnya terlalu halus, "Maaf." Ia justru bangkit dari tempat tidur. Meninggalkan kebingungan pada sosok yang kini hanya mampu diam di atas ranjang. Dalam beberapa jam situasi berubah. Taehyung Rutledge bahkan terlalu yakin tidak melakukan sesuatu yang membuat Jina menjadi segan atau merasakan kebencian. Wanita itu tidak sedang membenci, ya, bahwa Jina hanya butuh waktu. Mimpi itu pasti sangat mengguncang. Ia bisa keluar untuk mengambilkan minum; karena mereka memutuskan mode jangan ganggu semalam, tidak ada pelayan yang datang untuk meninggalkan air di meja kamarnya.

Taehyung kembali tepat ketika Jina keluar dari balik pintu kamar mandi. Di leher masih berkilau oleh keringat yang terkena cahaya lampu, dan wajahnya tersorot agak pucat.

"Sudah lebih baik? Minumlah dulu." Sembari menuntun Jina dan mereka duduk di sofa, ia mengamati wanita tersebut minum. Tangan itu tampak gemetar memegang gelas yang dibawa ke pangkuan.

"Maaf membuatmu bingung," ucapnya. Mata Jina berpendar dalam sinar lampu kamar yang terang. Kabut rasa takut dapat serta Rutledge rasakan. Apa yang telah menghantui wanita ini? Mimpi buruk yang seburuk apa itu?

"Apa sering terjadi?" Jika Jina sering terbangun dengan ketakutan sebesar ini, bagaimana wanita tersebut bisa bertahan sejauh ini? Andai Rutledge tahu Jina menderita ....

Namun perempuan itu justru menggeleng, "Baru kali ini," imbuhnya. "Waktu lalu aku tidak terlalu mengingat detailnya. Kaca-kaca itu, aku merasakannya lagi, terlalu nyata. Dan apinya ...."

Taehyung merampas gelasnya untuk disimpan di meja dekat mereka, sebelum lalu mencium Jina untuk memberi atau mendapat suatu ketenangan. Barangkali. Kim Jina terluka, biarpun bukan pada fisiknya lagi yang telah disembuhkan berbulan-bulan lalu. Ketika pagutan terlepas, Rutledge tidak cepat memberi jarak, jemarinya mengusap bekas luka di pipi Jina. Sebelum adanya luka itu yang belum sempat ia tanyakan, wajah ini bahkan telah dipenuhi luka bakar berikut kaca-kaca kecil menusuk. Itu merupakan akar masalahnya. Ia lah penyebab atas mimpi buruk Jina. Bagaimana ia dapat mengatasi permasalahan ini adalah dengan mengalah pada tuntutan egoistis. Mungkin mengatakannya tidak akan membuatnya tewas di tempat. Tidak ada kepura-puraan di sana menjadi umpan untuk memancing. Jina menatapnya tanpa meminta apa pun.

𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang