SAAT itu adalah hari pertama musim panas yang benderang, waktu di mana hatinya untuk pertama kali memandang Jung Jungkook secara berbeda. Dari debaran jantung membara lantas menumbuhkan mimpi yang terasa mustahil. Jina tujuh belas tahun itu cukup sadar diri untuk mengekang perasaan hingga sampai pada titik kebodohan tanpa memandang curiga sama sekali. Ia bodoh, sangat bodoh untuk menaruhkan hati pada sosok yang tidak benar-benar baik. Memang Jina berharap apa? Jung Jungkook tidak pernah sama sekali bersuara untuk memberinya harapan.
Barangkali Jina menyenangi hanya dari ia dapat berada di sisi Jungkook walau itu di luar cakupan relasi romansa. Akan tetapi, waktu itu rasanya tak pernah menjadi masalah. Jina sedikit terbiasa dengan kehadiran Jane Fletcher di sisi Jungkook; kendati rasa terbakar sering kali menghanguskan.
Dan hari pertama musim panas ini, Kim Jina memandang Jung Jungkook penuh intensif mendendam; yang termodifikasi sebaik mungkin.
Hatinya tak pernah seyakin ini, tanpa kontradiksi. Ia telah terlalu dibuat hancur. Apa yang diberikan Jung Jungkook mengalahkan sesuatu yang dulu membuatnya memuja-muja.
“Jane.”
Jina memutar kursi bar tempatnya duduk. Ketika sosok itu menatap dengan binar kepedulian tingkat tinggi, pun kemarahan timbul berkat kekhawatiran meradang. Hati Jina sedikit teriris berkat perasaan jujur Jung Jungkook kepada Jane. Kendati, Jina sendiri merasa kecemburuan akan perasaannya pada Jungkook telah hilang; ia hanya marah. Bukankah alasan utama ia menggantikan peran Jane menjadi korban salah sasaran Taehyung Rutledge adalah sebab buah cinta mereka?
Sangat tidak adil.
Kim Jina berhak untuk marah.
Jung Jungkook tampak sedikit berbeda dari terakhir kali ia temui. Potongan rambut, serta piercing baru di alisnya yang tebal. Pria tersebut masih berpakaian seperti biasanya; celana jins dan jaket kulit hitam dengan kaos di dalamnya. Sepatu botnya membawa tungkai mendekat. Jantung Jina hampir meloncat, ketika ia tengah berusaha menetralkan diri.
Jungkook akan dengan mudah mengenalinya segera. Kendati ia telah mengubah warna rambut kembali hitam seperti Jane, dan memakai pakaian milik perempuannya Jungkook, tidak menutup kemungkinan ia benar-benar serupa Jane di mata pria itu. Kedua tangan di atas pangkuan saling meremas sebab gugup. Matanya terpaku pada gerakan Jungkook hingga kehadirannya kini persis di hadapan. Kursi bar tinggi membuat ia setara pundak kokoh itu sehingga tanpa perlu banyak merunduk, Jung Jungkook telah memberikan penyatuan labium.
Terkejut, tetapi jika menolak mungkin akan memberi tanda tanya di kepala Jungkook sesegera mungkin. Dan Jina, belum cukup siap bersuara sekarang. Ia merasai hasrat bercampur amarah. Sesapannya terlalu membuai dan gerakan tangan sembarangan. Tanpa sadar mengerang, hampir Jina akan menggumamkan nama ‘Rutledge’ sebelum kewarasan merusak bayang-bayang dalam kepala. Di hadapannya adalah Jung Jungkook. Cahaya keemasan dari lampu lampion yang menggantung beri nuansa terlalu indah bila saja perasaan Jina masih sama, tetapi kini remang-remang justru membuat kegelapan hati bersemayam terlalu nyaman.
Ia diangkat dari kursi bar yang tinggi ke meja panjang berbentuk melingkar di belakang. Jungkook bertindak cekatan dengan menyingkap bagian bawah dress Jina. Melawan rasa dejavu, bayang-bayang Taehyung Rutledge segera disingkirkan, dan tangannya mencegah tindakan lanjutan Jung Jungkook. Tangan pria itu terhenti di pahanya yang terekspos hampir keseluruhan. Tatapannya membara menuntut penjelasan lebih logis; sebab Jane Fletcher dipastikan tidak akan pernah menolak Jung Jungkook.
“Kau kembali tanpa mengatakan sesuatu sebelumnya. Apa telah terjadi sesuatu?”
Benar. Terjadi sesuatu kepada Jane Fletcher yang tidak Jungkook tahu. Secara kasar Jina menyingkirkan tangan pria tersebut dari atas pahanya. Ia mengambil gelas wine yang tersisa untuk ditenggak cepat-cepat. Kim Jina harus menyingkirkan sisa-sisa Rutledge dari kepalanya. Bagaimana mungkin ..., ia harus fokus pada Jung Jungkook sekarang, dan Taehyung Rutledge tidak berhak memberi distraksi.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐓𝐀𝐑𝐆𝐄𝐓 ✓
FanfictionKecelakaan tidak merenggut nyawanya melainkan identitas. Kim Jina bukan seorang baik hati hingga tidak turut menuai keuntungan atas kesalahan fatal Taehyung Rutledge; yang mengubah wajah Jina menjadi serupa Jane Fletcher. Namun, fakta bila keterliba...
