“Mari kita saling mengenal lebih dalam. Aku juga penasaran kamu ini orang yang seperti apa.”
Jennie tahu ini bukan hal bagus ketika dirinya setuju mengikuti Jimin, dipaksa lebih tepatnya. Pemuda itu mengatakan bahwa keadaan Taehyung cukup parah dan berhasil membuat Jennie tidak tenang hingga detik ini. Ketika ia berdiri di depan pintu kayu sebuah rumah kecil dengan satu kantung plastik apel merah di tangannya.
Jimin yang beli, tentu saja. Jennie tak mempersiapkan apa pun bahkan jika itu mentalnya. Sempat menolak, namun tidak tega melihat Jimin memohon padanya di depan banyak orang. Sengaja agar Jennie berkata 'ya' karena takut disebut kejam. Dan setelah Jennie setuju pun, Jimin memberinya banyak peraturan. Sekarang Jennie gugup.
Sekali lagi Jimin ketuk pintu itu. Sudah ke tiga kalinya dan masih tak ada tanda-tanda akan ada yang membukakan pintu untuk mereka. Lalu bagaimana keadaan Taehyung sekarang? Apa di dalam ia baik-baik saja?
Tak lama, keduanya sedikit terperangah ketika pintu di hadapan mereka akhirnya terbuka. Muncul seorang pria berwajah tampan menatap keduanya terlampau datar. Ketika Jimin membungkukkan tubuhnya, Jennie buru-buru mengikuti. Setelahnya ia sepenuhnya memperhatikan pria itu. Menebak apa hubungannya dengan Taehyung karena wajahnya terlihat masih muda.
“Paman, kami ingin menjenguk Taehyung.” Jimin menginterupsi.
Barulah Jennie mengerti. Sedikit terkejut. Jadi pria ini ayah Taehyung? Pantas dia begitu tampan. Ayahnya saja sesempurna ini. Namun entah apakah perasaan Jennie saja, ia merasa meskipun keduanya sama-sama tampan namun Taehyung tidak begitu mirip dengan ayahnya. Mungkin wajah ibunya lebih dominan di wajah Taehyung sehingga Jennie pun penasaran secantik dan setegar apa wanita yang memiliki putra sebandel Taehyung.
Jennie terkesiap. Terkejut bukan main ketika ayah Taehyung menatapnya. Mata mereka bertemu sedetik sehingga Jennie buru-buru menunduk. Ia tidak sering memperhatikan penampilan seseorang apalagi melakukan kontak mata. Jennie tidak pernah nyaman. Mungkin juga tatapannya mengganggu bagi ayah Taehyung. Bagaimana lagi? Ketika bertemu orang tampan, siapa pun pasti tersihir dan tak ingin melewatkan pemandangan indah itu bahkan untuk berkedip.
“Saya Jennie Kim, Paman. Saya datang atas perintah wali kelas untuk melihat keadaan Taehyung,” ujar Jennie gugup.
Setidaknya begitu kira-kira yang Jimin ajarkan untuk bicara pada ayah Taehyung meski pria itu nampak tidak begitu peduli. Padahal tak satu pun penghuni kelas peduli hadir atau tidaknya Taehyung. Kata Jimin, jangan sampai ketahuan ayah Taehyung kalau Jennie adalah pacar Taehyung. Padahal, siapa juga yang pacarnya Taehyung?
Tak lama, pria itu tersenyum. Seketika itu pula kecanggungan itu sedikit berkurang. Jennie membalas senyum itu canggung. Akhirnya Jennie menghela napas lega. Kegugupannya menguap pergi sebagian besar. Ia pikir ada beberapa orang yang memiliki wajah yang kerap kali disalahpahami orang seperti miliknya. Padahal ketika tersenyum ayah Taehyung terlihat sangat ramah.
“Masuklah Jimin, Jennie. Taehyung ada di kamarnya,” katanya ramah.
Pria itu lantas membimbing Jimin dan Jennie masuk rumah dengan sedikit pembicaraan basa-basi yang hanya ditanggapi oleh Jimin. Jennie hanya mengekori dari belakang dalam diam sementara netra beningnya menyapu setiap ruangan yang ia lewati.
Ia berharap mendapat penyambutan dari ibu Taehyung, tapi nampaknya wanita itu tak di rumah. Dinding semua ruangannya nampak bersih sampai pigura pun tak dipajang. Padahal Jennie pikir ada foto keluarga yang bisa ia lihat. Ia sungguh penasaran dengan wajah ibu Taehyung.
Rumah itu nampak kurang terawat. Maksud Jennie cukup bersih, tapi seperti ada yang kurang. Terasa dingin seperti tak ada sentuhan dari wanita di rumah ini. Hingga akhirnya mereka sampai di depan pintu yang Jennie yakini ruangan Taehyung, ayah Taehyung menghentikan langkah muda-mudi di belakangnya. Membalik badan pada mereka sebelum berujar.
“Kalian temanilah Taehyung. Aku harus kembali bekerja. Kalau haus atau lapar cari saja di dapur. Kau tahu di mana dapurnya ‘kan, Jim?” katanya.
“I-iya Paman. Aku tahu,” sahut Jimin buru-buru.
“Kalau begitu aku pergi dulu. Jennie, anggaplah rumah sendiri.” Pria itu tersenyum pada Jennie sekali lagi membuat perempuan itu gugup.
Jennie belum pernah bertemu orang tua teman-temannya dan ayah Taehyung jelas sangat tampan serta masih muda. Atau mungkin awet muda. Orang-orang jelas akan percaya kalau saat keduanya jalan bersama mengaku sebagai kakak beradik.
“Baik, Paman.”
Setelah kepergian pria itu Jimin segera membimbing Jennie memasuki kamar Taehyung yang jauh dari perkiraan Jennie. Baginya Taehyung adalah berandal, jadi seharusnya keadaan kamarnya wajar jika seperti kapal pecah. Tapi ini terlalu rapi untuk ukuran anak laki-laki. Apalagi Kim Taehyung.
Tak ada satu pun kertas berhamburan di lantai. Semua buku ada di meja belajar. Juga tak ada pakaian kotor diletakkan sembarangan. Nampaknya semua telah masuk lemari kecil di sudut ruangan. Bahkan tempat sampah pun nampak bersih.
Tidak mungkin ‘kan Taehyung membersihkan kamarnya karena tahu Jennie akan datang? Jimin tidak nampak seperti seorang tukang adu. Terbukti Taehyung terlihat kaget begitu sadar Jimin tidak datang sendirian. Taehyung yang sebelumnya tengah tidur-tidur ayam di ranjangnya sontak terjingkat dan dengan panik menarik selimut untuk menutup tubuhnya hingga hidung. Matanya yang menatap Jennie melebar. Dia panik dan tak mau menunjukkan wajahnya meski itu terlambat. Jennie sempat melihatnya dan ketika menatapnya lebih jeli, ia lihat ada perban di pelipis sebelah kanan Taehyung. Tertutup poni namun masih nampak jelas.
“Jimin, kau yang membawa Jennie kemari?” tanyanya setengah menggerutu.
“Ya,” sahut Jimin. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya santai. Padahal jelas sekali Taehyung menyumpahinya di balik selimut.
“Hei! Aku sedang jelek, Sialan!” umpatnya lirih.
Jennie yang melihat tingkah kekanakan Taehyung mendecih lantas mendekat ke ranjang pemuda itu. Taehyung masih kukuh menutup sebagian wajahnya. Kini matanya pun mencoba menghindari pandangan Jennie.
“Kata Jimin kau sakit. Sakit apa?” tanya perempuan itu membuat Taehyung akhirnya menyerah.
Ketika selimutnya ia turunkan, nampaklah wajah tampannya yang begitu pucat. Ada luka sobek di sudut bibirnya. Setidaknya dia tidak memiliki banyak memar seperti biasanya. Hanya saja dia memang nampak sakit. Matanya sayu. Bibirnya juga pucat sekali.
“Hanya demam, kok,” jawabnya.
“Pasti karena hujan-hujanan kemarin, ya?”
“A-apa?”
“Kau sudah makan?” Jimin menginterupsi membuat Taehyung membuat gestur mengusirnya.
“Kalau begitu aku pulang sebentar. Tae, kuambilkan makanan, ya,” katanya bersiap pergi membuat Jennie memperhatikannya.
“Rumahku di seberang rumah ini, kok. Tak perlu takut. Taehyung tidak akan macam-macam karena sedang sakit. Kalau pun dia berani menyerang, tendang saja selangkangannya,” kata Jimin padanya seolah tahu kekhawatiran yang melanda perempuan di hadapannya itu.
Lalu tubuh mungil anak lelaki itu menghilang di balik pintu. Setelahnya keadaan kamar Taehyung menjadi aneh luar biasa. Baik Jennie maupun Taehyung mendadak malu-malu layaknya kura-kura. Yang keluar dari mulut hanya deheman dan desahan. Benar. Kalau gugup tenggorokan tiba-tiba kekeringan.
“Jimin membelikanmu buah.” Jennie menginterupsi seraya mengulurkan kantung buah di tangannya ke depan wajah Taehyung sementara wajahnya sendiri berpaling. Dia malu.
“Kau tak membawa apa-apa untukku?”
Pertanyaan itu sontak membuat Jennie terjingkat.
“A-apa?” Dia gugup.
Maka wajahnya mendadak merah begitu ia melihat Taehyung menertawakan reaksinya. Pipi Jennie sungguh panas sekarang. Mungkin wajahnya sudah serupa pantat monyet.
“Bercanda. Kedatanganmu saja sudah membuatku senang. Aku tahu kau khawatir. Terima kasih,” kata Taehyung lagi.
“A-aku tidak—“
“Mau makan apel bersama?” Taehyung mengulurkan sebuah apel pada Jennie membuat perempuan itu tak kuasa melanjutkan kata-katanya.
Dengan jantung berdegup kencang ia menerima apel merah itu. Taehyung kemudian nampak menepuk kasur di hadapannya. Memberi isyarat agar perempuan itu duduk karena ia ikut pegal melihat Jennie berdiri sedari tadi.
“A-aku berdiri saja,” tolak Jennie.
Namun ia tak bisa berkata-kata lagi ketika Taehyung langsung menarik tangannya membuat Jennie sontak terhempas duduk di dekat kaki Taehyung. Canggung luar biasa membuatnya semakin tidak sanggup menatap wajah lelaki itu.
“Makanlah. Apelnya enak.” Taehyung menginterupsi lagi.
Maka Jennie gigit apel itu perlahan. Manis. Apa karena ia memakannya sambil bertatapan dengan Kim Taehyung dan dicucuri senyuman manisnya berkali-kali? “Oh, ya tadi aku bertemu ayahmu—“
“Tampan, bukan?” sela Taehyung.
“Eh? Iya.”
Sebenarnya bukan hal itu yang ingin ia bagi pada Taehyung. Ia hanya merasa gugup dan lebih penasaran dengan ibunya. Namun setelah dipikir lagi, ia hanya bermaksud basa-basi meski pada akhirnya suasana aneh yang datang pada mereka.
“Namanya Kim Seokjin.”
Jennie mengangguk-angguk. Sungguh ia tidak berharap untuk diberi tahu.
“Lalu di mana ibumu?” tanya Jennie lagi. Ia merasa sudah terseret cukup dalam dan ingin menyelam sekalian. Lagi pula Taehyung tidak nampak keberatan.
Namun Taehyung yang terdiam sesaat tidak Jennie antisipasi. Sibuk mengunyah apelnya dengan bersemangat, namun dia nampak berpikir cukup lama untuk memberi Jennie jawaban. Yang Jennie tak sangka, Taehyung kemudian menatapnya dengan tampang berandalnya. Wajah yang akhirakhir ini telah hilang dari Taehyung sehingga Jennie sedikit gugup.
“Sudah meninggal,” Jawabnya membuat mata Jennie melebar. Ia sungguh tidak mengharapkan jawaban demikian sebab ia pun tak tahu bahwa lelaki ini tak lagi memiliki ibu. Sebagai sopan santun, Jennie bermaksud meminta maaf, ia sungguh tak bermaksud mengorek luka, namun Taehyung menahan kalimat Jennie dengan pernyataan yang kian membuat perempuan itu terkejut.
“Aku yang membunuhnya.” Taehyung bilang, dan seringai di bibirnya terbit kian lebar di kala sorot kesedihan membidik mata Jennie begitu kuat.
Tangan Jennie mengepal gemetar. Sepertinya ia salah dengar.
Chapter selanjutnya bisa kalian baca di Karyakarsa atau ebook, ya!
Liu_
KAMU SEDANG MEMBACA
TAINTED CINDERELLA (Available On Karyakarsa)
FanficSpoiler E-book TreeLiu yang sudah terbit.
