Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"sayang, lagi di mana?"
"d-di apart kakak, kenapa, ugh?"
"kamu lagi apa? kok suaranya kayak gitu?"
haechan menggigit bibirnya, matanya memanas. netra indahnya yang berair bertemu dengan sosok di atasnya, menyiratkan emosi yang sulit diungkapkan.
"c-chanie sakit... perutnya hiks..."
"astaga! chanie makan pedes lagi ya? sayang, kakak ke sana ya?"
haechan tidak langsung menjawab. napasnya tersengal, kata-kata sulit untuk keluar. lalu suara lembut berbisik di telinganya, membuat tubuhnya menegang sesaat.
jari-jarinya mencengkeram kuat, menggantungkan diri pada sosok yang kini menguasainya. tatapan memohon itu tak luput dari perhatian-begitu memesona, membuat si pemilik tubuh di atasnya semakin ingin melahapnya.
sebuah tangan mengusap poni haechan dengan lembut. "jawab, cantik. enak banget ya sampai nggak bisa ngomong?"
"haechanie?"
haechan menelan ludah, berusaha mengatur napasnya. dengan tangan sedikit gemetar, ia meraih kembali ponselnya yang tadi sempat terlepas.
"b-boleh, kak. maaf, merepotkan."
"nggak kok. kalau butuh sesuatu, bilang aja, ya."
setelah sambungan terputus, suara rengek kecil kembali terdengar.
"u-udah..."
sebuah dorongan lemah mendarat di dada bidang yang menahannya. namun, bukannya melambat, justru sebuah tarikan halus membuatnya kembali terperangkap dalam ritme yang mendebarkan.
"k-kak gyu, pelan-pelan..."
mingyu tersenyum samar, jari-jarinya menghapus jejak peluh di dahinya sendiri. sensasi yang begitu memabukkan melihat bagaimana sosok kecil di bawahnya begitu erat bergantung padanya.
sebuah kecupan singkat jatuh di hidung haechan, seolah menjadi tanda kepemilikan. wajah yang biasanya dipenuhi senyuman kini ternodai jejak air mata dan ekspresi rapuh, menciptakan pesona tersendiri yang tak bisa diabaikan.
jari-jari haechan mencengkram erat seprai di bawahnya, sementara tubuhnya masih bergetar menyesuaikan ritme yang dimainkan oleh sosok di atasnya. napasnya berat, sesekali terselip rengekan kecil yang hanya membuat lawannya semakin bersemangat.