Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
────୨ৎ────
"happy birthday, kak jemima!"
"terima kasih, sayang."
senyum lebar merekah di wajah heza saat jemima menunduk memberi kecupan lembut di pipinya.
"ayo, tiup lilinnya," ucap heza sambil mengangkat kue ke arah jemima, "tapi sebelum itu, make a wish dulu."
jemima terkekeh pelan. ia mengepalkan tangan di dada lalu menutup mata.
"terima kasih, tuhan, atas kebaikan-mu yang tak henti-henti. aku harap kami selalu bahagia terutama heza. jangan biarkan mendung menutupi cahaya hangatnya. tolong jagalah dia untukku, karena dia satu-satunya yang paling berharga dalam hidupku."
heza mendengar itu langsung cemberut, tapi tidak menyangkal rasa haru yang menggebu didadanya.
"ih kan yang ulang tahun kak jemi, kok doanya buat heza terus..." benar, setiap tahun. doa yang sama, permohonan yang sama.
"lalu, apa lagi yang bisa kakak minta? setiap kali kakak berdoa selalu bermuara pada satu nama dan itu heza. kakak ingin kamu sehat, hatimu tetap penuh cinta untuk kakak, dan langkahmu tak pernah menjauh dari sisi kakak. segala kebaikan lain biarlah datang mengikuti... asalkan heza tetap ada di sini, bersama kakak," ucap jemima lembut. jemarinya mengusap pipi heza penuh kasih, seolah ingin menegaskan bahwa doa itu bukan sekadar kata, melainkan janji. "mengerti, cantik?"
heza menunduk malu, pipinya merona, lalu mengangguk pelan.
"sekarang, kakak boleh tiup lilinnya?" tanyanya sambil tersenyum manis.
"um..." heza hanya mendengung gemas. begitu lilin padam, senyumnya kembali merekah. dengan penuh usaha ia berjinjit, menghadiahkan kecupan ringan di rahang jemima, seandainya pria itu tidak setinggi itu, mungkin bibir heza bisa sampai menyentuh pipinya.
jemima terkekeh kecil dan sadar. lalu merendahkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan heza. "silahkan."
heza menggigit bibir, malu. tapi menurut juga. ia menempelkan kecupan singkat di pipi jemima.
"sekali lagi," minta jemima.
"kakak..." heza merengek, wajahnya makin panas. namun bibir itu kembali menyentuh pipi jemima, kali ini lebih lama.
jemima tersenyum puas, tapi wajahnya tetap dekat, belum memberi jarak. "umm... gak cukup. satu lagi, tapi di sini, boleh?" bisiknya, sambil menunjuk sudut bibirnya.
heza sontak menunduk, kedua tangannya mengepal erat menahan gugup. "kak jemi..." rengeknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
"sayang, please?" jemima memohon dengan nada manja, matanya berkilat penuh cinta.