Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⋆꙳•❅*°⋆❆.࿔*:・*❆ ₊⋆
warn: •bxb content • FIKSI❗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"ck,"
tanpa sadar genggaman diponsel mengerat.
kegemasaan ini ilegal. seharusnya tidak boleh ada manusia seimut kekasihnya itu.
kang chan-he ingin memanggil 911, serta ambulance sekalian. penenangan pertama saat ini ia butuhkan untuk jantung nya yang bersorak gila tanpa bisa ditahan.
merdunya nada sapaan sampai telinga membuat chani naik level yaitu menegang. pikiran pria itu membeku dengan beberapa umpatan dalam hati saat menyadari betapa lancangnya jemari menekan tombol bergambar gagang telpon tanpa berpikir dampak gelombang tsunami yang meluluh-lantah semua kewarasannya.
begitu lembut, ceria, rindu, abstrak. rata menyiram suasana hatinya yang akhir-akhir ini begitu gersang.
chani melamun dalam hening panjang. nafas pria itu memberat. dada nya juga perlahan sesak. mungkin karna rindu yang juga ikut meradang. berlebihan, hanya untuk hubungan jarak jauh untuk jangka bulan.
tapi siapa yang peduli?
"y-ya?"
siapapun yang melihat pria ini sekarang sudah dipastikan akan mengembangkan sebuah tawa mengejek.
hei, ia kang chani. penyandang gelar stecu (setelan cuek) dengan lisan setajam panah dari teman-temannya.
nada gugup itu sungguh diluar karakter.
"kakak gimana kabarnya?"
sangat tidak baik karna gak ada kamu.
inginnya menjawab seperti itu namun gengsi nama tengah pria kang ini.
jadi ia hanya berkata, "baik," tanpa embel-embel lain dibelakangnya.
"syukurlah. kakak makan dengan benar kan disana?"
makan ya?
sekeliling meja kecil yang sudah menemani nya dalam beberapa waktu dicermati dengan alis mengerut. makanan yang benar, huh? apakah bungkus cemilan yang berserakan, beberapa botol soda juga kopi yang terenggok dan mie instant bisa disebut makanan yang benar?
helaan nafas lembut diujung sambungan membawa chani kembali dalam kesadaran. pria itu mengusap tengkuk nya yang terasa pegal.
"tentu saja. kopi–"
"kopi, soda, junk food bukan jawaban yang haechanie ingin dengar."
chani meringis. tawa hambar dengan suara berat menjadi isyarat bendera putih. mengelak dan membuat perdebatan ditelpon bukan keahliannya. apa lagi sang kekasih hati sudah terlalu hafal tabiat dirinya.
"kakak harus jaga kesehatan," suara sang kekasih mengecil terasa begitu khawatir. chani menutup mata nya. "kakak sendirian disana. kita berdua terhalang jarak bahkan ponsel kakak pun bisa tidak aktif selama seminggu dengan begitu gimana bisa haechanie mengingatkan?"
omelan tegas bersama nada lembut itu membuat mata nya memberat.
tanpa sempat disadari chani terlempar dari waktu sekarang.
dalam indra gelapnya, rentetan kisah berharga yang mereka lalui memutar kembali tanpa bisa ia cegah.
visual dengan bibir ranum yang biasa ter-pout jika ada yang menggangu atau membuat nya kesal. mata bulat secoklat daun maple yang selalu menatapnya kagum. dan kedua pipi kenyal bersama rona buah persik yang segar.
tertawa, tersenyum, menangis, merengek, semua ekspresi indah itu bergantian menghujam seorang kang chani tanpa ampun.
cantik, mempesona. sederhana, menggoda. sial, hanya karna sebagian kecil itu saja chani kembali jatuh cinta.