Kala itu senja di stasiun kota ketika rintik hujan turun amat derasnya. Airin seorang mahasiswa arsitektur dengaen sketsa di tentengan drafting tube nya yang selalu ia bawa kamanapun ia pergi, memilih berteduh dibawah kanopi toko roti tua. Theo, seorang pria dengan wajah tegas dan tatapan tajam yang penuh rahasia, berdiri tak jauh darinya tengah memainkan koin perak diantara jemari dan terlihat mendekat.
"Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Theo tiba-tiba.
Airin mengernyit tanda tak yakin, karena sejauh ingatannya, ia tak pernah berkenalan bahkan sekadar melihat pria aneh di depannya ini.
"Munkin anda salah orang," jawab Arin sekenanya.
Pertemuan pertama Airin dengannya, si pria aneh membawa pertemuan demi pertemuan selanjutanya dengan situasi yang cukup membingungkan. Ketika Airin mengunjungi perpustakaan kota, Theo sudah ada duduk dengan tenang diujung ruangan, dan membaca buku yang hendak Airin cari. Saat Airin berjalan di sekitaran taman kost untuk mencari inspirasi desain, Theo muncul di bangku bawah pohon dengan sebatang rokok dibelahan jarinya.
Seolah-olah dunia sengaja mempertemukan mereka dalam setiap peristiwa.
"Kau mengikutiku?" tanya Airin suatu hari.
Theo hanya terkekeh kecil, "Mungkin takdir dan semesta yang mengikutimu."
Pada awalnya Airin mencoba abai, tetapi hari berganti bulan ia merasakan hal yang menganjal. Setiap kali berpapasan atau beradu tatap dengan Theo, ada perasaan aneh di dadanya—bukan cinta, bukan pula rasa kagum dan sayang, lebih dari itu...
Airin merasakan suatu perasaan yang sulit dijelaskan.
Hingga semua kegundahannya terjawab, ketika Airin tak sengaja menemukan foto lama di rumah neneknya. Suatu bingkai yang menampilkan seorang pria yang sangat mirip dengan pria yang sering ia temui akhir-akhir ini dan dalam bingkai terlihat berdiri gagah di samping wanita yang berpostur wajah menyerupai dirinya. Sebuah tanggal tertera,
01 November 1982—tiga puluh tahun sebelum ia lahir.
Dengan tanpa aba-aba dadanya mulai sesak serasa terhimpit dan tanpa babibu, bergegaslah ia menuju sang lakon dalam foto. Berharap mendapat jawaban yang ia cari.
"Ini kau?" suaranya bergetar.
Theo menatapnya sejenak sebelum akhirnya mendesah. "Sebenarnya aku tidak berharap kau tahu."
"Tahu perihal apa? Siapa kau sebenarnya?"
Theo diam sejenak sembari memejamkan mata dan mulai bersuara,
"Aku adalah sesosok pria yang terjebak antara waktu rin, setiap beberapa dekade aku akan selayaknya terlahir kembali dan secara berulang bertemu dengan orang yang sama dalam wujud berbeda. Dan kau... kau adalah bagian terfavorit dari kisahku yang belum selesai, dan entah sampai kapan bisa menuju ending yang aku harapkan."
Airin hanya mampu terdiam, jauh dari lubuk hatinya terdalam sebenarnya ia mempercayai kisah semacam karangan itu, tetapi setiap keanehan yang terjadi membuatnya mulai berpikir bahwa hal tersebut terasa mulai masuk di akal. Wajah Theo yang terpampang nyata di bingkai foto usang, pertemuan yang terus menerus berulang dan tatapan yang seolah mengenal dirinya lebih dari dirinya sendiri. Semua nya terlalu nyata untuk kisah yang fana semata.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Airin.
"Aku tidak tahu rin," jawab Theo lirih.
"Tapi ada satu hal yang kutau dan kusenangi pasti, dalam setiap kehidupanku aku selalu dan akan terus bertemu denganmu... namun sayangnya aku selalu kehilanganmu" ucapnya lirih diakhir kalimat yang ia ucap.
Langit mulai kembari temaram, hujan pertama yang mempertemukan mereka kini turun kembali. Dengan keadaan berbeda, kali ini... Airin merasa seolah waktu berhenti, mereka berdua hanyut dalam takdir yang belum usai
Mungkinkah kali ini mereka bisa mengubahnya?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.