Di sebuah kedai kopi yang sunyi dengan jendela besar yang memantulkan sebrang jalan dari sisa lelehan salju. Wanita itu duduk di pojok ruangan, membaca buku dengan jemari lentik yang sesekali membalik halaman. Ada sesuatu dalam caranya menyentuh kertas, menghela napas dan menyesap kopinya yang membuat sebagian dalam diri Vander bergejolak.
Awalnya ia hanya mencuri pandang. Lama semakin lama matanya enggan beralih, wajah wanita itu asing tapi terasa sangat hangat layaknya musim semi. Seolah-olah ia telah mengenalnya sejak lama.
Sejak kala itu, sebuah perasaan ingin memiliki terus bertumbuh, berakar dan mulai membuat Vander gelap mata.
°°°
Vander mulai mencari tahu siapa wanita berparas ayu itu. Bertanya pada barista, mengamati kebiasaanya, bahkan menguntitnya dari kejauhan. Namanya Irin yang berarti kedamaian dalam faham Yunani, nama yang indah untuk sesosok manusia yang parasnya nyaris sempurna. Seorang illustrator yang sering memilih menyelesaikan pekerjaannya di kedai itu. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan Vander, mengantarkannya pada hasrat untuk memiliki Irin sepenuhnya.
Vander mulai menyesuaikan jadwalnya dengan kebiasaan Irin, datang ke kedai lebih awal, memesan menu yang sama, bahkan memilih meja dengan sudut pandang terbaik untuk mengagumi sang pujaan. Lama-kelamaan tanpa Vander sadari bahwa Irin mulai menyadari kehadirannya. Bermula dari sekadar tatapan singkat, berlanjut pada senyuman kecil hingga pada tahap sapaan ringan.
Bagi Irin sosok Vander hanyalah pelanggan yang secara kebetulan berada pada tempat dan waktu yang sama dengan kondisi berbeda. Tetapi bagi Vander, lebih dari pada itu. Irin adalah takdirnya, pertemuan yang ia rangkai adalah takdir yang semesta ciptakan.
°°°
Vander ingin lebih dekat, namun ia tau ia tak boleh tergesa. Layaknya macan memburu rusa, kehati-hatian yang utama. Ia menggali lebih dalam mengenai Irin—dimulai dari semua akun media sosialnya, lingkaran pertemanan, background keluarga, hingga alamat apartemen yang ia ketahui sudah Irin tempati sejak Irin mulai bekerja. Vander berusaha agar memastikan dirinya akan selalu hadir di kehidupan Irin tanpa disadari oleh Irin sendiri, layaknya bayangan yang senan tiasa mengikuti.
Suatu malam, Vander menyambangi unit apartemen Irin. Ia memasukinya dengan perlahan dengan rentetan kode sandi yang sejak lama ia ketahui, memandangi Irin terlelap masuk dalam list kebahagiaanya mulai saat ini. Menghabiskan waktu dengan hanya memandanginya sudah cukup menuntaskan haus hasratnya untuk sekarang, entahlah tak menjamin untuk kedepannya.
Oh yaa, tak lupa selalu ia tinggalkan jejak. Sekadar satu tangkai bunga mawar merah yang berarti cinta menggebu tanpa catatan dan clue apapun. Ia hanya ingin Irinnya merasakan kehadirannya setiap malam sehingga Irin tak merasa kesepian, keinginannya.
°°°
Entah takdir atau rencana Tuhan, suatu malam ketika Irin hendak meninggalkan kedai dan kembali pulang, langit menurunkan hujannya amat deras. Vander yang selalu siap sedia untuk Irin tentu merasa senang bukan kepalang. Segera ia tawari sang pujaan untuk melangkah menyusuri hujan dengan payung yang ia tawarkan dengan alibi unitnya berada di gedung apartemen yang sama, padahal tak Irin ketahui bahwa Vander memang satu gedung dengan dirinya, bahkan selalu dalam satu unit yang sama.
Pada awalnya Irin ragu, hingga senyuman yang Vander hadirkan mengubah segalanya. Dengan mantap ia ikuti tawaran sang adam, menembus hujan dengan berpayung ringan diselingi celotehan sederhana. Vander amat menikmati momen ini, ia amat berhati-hati dalam setiap kata maupun gestur, memastikan Irin merasa nyaman dan tak akan pergi adalah prioritasnya.
Sejak malam itu, Irin mulai terbuka. Pertemuan mereka menjadi lebih intim, mulai memilih meja yang sama dan dengan tanpa sadar sering berbincang santai di kedai, bahkan sesekali bertukar pesan dan saling mengabari. Namun memang benar adanya pepatah "lapar mata tak pernah kenyang", Vander mengharap lebih, lebih dari sekadar bertukan sapa dan berbincang. Ia ingin Irin hanya melihatnya, membutuhkannya dan menyerahkan dirinya secara penuh dalam kuasa Vander.
