Hujan makin deras, tapi tanpa lelah sedikitpun Elang masih terus nyusuri jalan yang mulai sepi.
Sampai jam menunjukkan pukul dua belas malam pun, Mawar belum juga Elang temukan. Entah dimana perempuan itu.
Elang udah cari disekitar komplek, nanyain langsung ke Lisa dan tempat yang biasanya Mawar datangi.
Salah satunya pantai yang pertama kali ketemuin dia sama Mawar.
Elang kasana juga, berhenti untuk parkir. Sebetulnya ragu, karena pantai malem itu sepi akibat hujan mengguyur.
Keluar dari mobil, dengan modal payung kecil dan hp yang terus mencoba nelepon Mawar. Berharap perempuan itu jawab.
Warung tempat Elang ngopi waktu itu tutup, tapi Elang kesana. Berharap Mawar ada.
Nyatanya ngga.
Dengan perasaan cemas Elang natap pantai yang malam itu keliatan pasang. Dia menggeleng, gamau mikirin hal-hal mengerikan diluar kepalanya.
"Ga mungkin." Katanya meyakinkan.
Sebab pertama kali Elang ketemu Mawar adalah momen dimana perempuan itu tiba-tiba dibawa ombak menjauh.
Elang gak tau apa yang udah terjadi sama Mawar sampe perempuan itu hilang. Tapi Elang memohon, semoga apa yang ada dipikirannya ngga terjadi.
Elang yakin, Mawar masih waras buat ngga dekatin pantai pasang di malam yang deres ini.
"Gak mungkin." Katanya sekali lagi. Tapi dia terus gigit bibirnya cemas.
Elang terus ngecek hp, dia gak bisa lacak ponsel perempuan itu. Sambil mijit kepala frustasi, terus-terusan Elang telpon Mawar. Dan ujungnya tetep gak diangkat.
"Kamu cari aku?."
Sampai suara perempuan yang akhir-akhir ini jadi favoritnya, mengalun ke telinganya. Elang langsung noleh. Matanya terbelalak karena lihat perempuan yang dicarinya sekarang berdiri lima langkah dari tempatnya berdiri.
Elang langsung hampiri, dia tangkup perempuan itu yang bajunya udah basah kuyup. Sebelum akhirnya dia bawa Mawar kedalam pelukannya yang hangat.
Mawar dia peluk erat, masa bodo perempuan itu sesak. Yang penting Mawar bisa rasain khawatirnya dia dua jam lamanya.
"Kamu kemanaa? Ibu, saya, khawatir. Kamu tau gak?." Kata Elang, sekarang dia lepas pelukannya. Tapi tangannya masih megang dua sisi tangan Mawar.
"Maaf..." Mawar nunduk, bahunya naik turun dan perempuan itu terisak.
Elang ngehela napas, kembali dia peluk perempuan itu. Kali ini gak sampe buat Mawar sesak. Elang elus-elus punggung rapuhnya yang terus sesenggukan.
"Kamu lagi kenapa Mawar?." Tanya Elang pelan. Tapi hanya isakan yang dia dengar.
"Kalo ada masalah, cerita ke saya. Jangan bikin ibu khawatir. Saya takut--" Elang nelen ludah, gak lanjutin ucapannya.
Sementara Mawar yang udah kontrol emosinya, pegang erat baju Elang, natap laki-laki itu dengan sendu.
"Kamu takut aku kesana?." Mawar nunjuk pantai dengan dagunya.
Elang gak jawab, hanya menghela napas sambil dia elus rambut blonde Mawar yang lembab.
"Aku kan belum nikah sama kamu, bakal mati sia-sia kalo sekarang nyebur ke pantai. Rugi tau gak?!." Katanya, dengan mata sembab mendongak natap Elang sambil bercanda.
Elang toyor pelan dahi Mawar. "Itu tau!."
Keduanya terkekeh.
"Terus kamu darimana tadi?." Tanya Elang, masih penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
nikah random
FanfictionZaman sekarang orang-orang pada aneh. Masa Mawar tiba-tiba diajak nikah sama stranger yang dia temui di pantai tempat dia nge galau sore itu. Mana cowoknya ganteng lagi, kan jadi gak bisa nolak.
