18. tanda

504 76 14
                                        

Mawar nunggu Elang dengan penantian yang panjang. Harus lewatin hari-hari beratnya dulu, dengerin gosip ibu-ibu setiap hari, cibiran bibinya belum lagi. Dan ya, akhirnya penantian itu sekarang usai.

Benar kan? Perihal jodoh memang sudah ada yang atur. Bukan tentang siapa yang datang lebih cepat, tapi tentang siapa yang datang dengan tepat.

Selama dia jomblo, Mawar selalu mengkhayal sedang tidur dengan sosok suami. Sekarang ngga lagi. Karena beneran di sampingnya ada laki-laki yang masih tidur, suaminya. Siapa lagi. Hehe

Elang itu, lagi tidur aja gantengnya gak hilang. Napasnya yang teratur dan mulutnya yang sedikit terbuka ngebuat Mawar gemes pengen cubit.

Perempuan itu anteng tidur menyamping sambil memandangi pahatan sempurna di sampingnya. Mawar rasa semua perempuan bakal iri sama dia, karena pemandangan Mawar di pagi hari, mulai hari ini dan seterusnya bakal indah banget. Bahkan mau langit mendung pagi-pagi pun, pemandangan pagi hari Mawar bakal tetep indah.

"Elang..." Mawar mencoba buat bangunkan, tapi suaranya ragu.

Memang sih, hari ini keduanya masih cuti kerja. Tapi masa mereka gak sarapan? Pasti keluarganya juga udah nunggu.

"Elang bangun..." Sekarang Mawar coba goyangin bahu Elang, sedang Elang mulai terusik.

Laki-laki itu berdehem, terus matanya perlahan terbuka.

Tiba-tiba aja Elang terkekeh begitu lihat pemandangan pertamanya di pagi hari sekarang adalah Mawar. Rasanya seperti mimpi tapi ini nyata.

Makanya karena gemes, Elang pindahin pergelangan tangan Mawar yang berada di bahunya buat dia taruh di pinggangnya. Lalu dia tarik pinggang perempuan itu biar lebih dekat dan bisa dia peluk.

Hangat.

Rasanya hangat dan jantung Elang berdegup kencang sekali.

"Sekarang bantal guling saya hangat ya?." Katanya bercanda.

Sementara Mawar langsung mendorong pelukannya. "Saya lagi??." Alisnya menukik tajam ke Elang.

Elang merutuki dirinya. Masih pagi udah buat kesalahan. Laki-laki itu nyengir. "Maaf ya?."

"Di maafin gak ya??." Mawar pura-pura berpikir.

Elang cuma tersenyum miring lihatnya, lagi-lagi gemes sama perempuan yang ada disampingnya itu. Kali ini spontan dia kecup bibir Mawar.

"Sebagai permintaan maaf." Katanya enteng, setelah ngebuat Mawar jantungan.

"Sana mandi!!." Mawar dorong Elang saking gak bisa nahan saltingnya.

Sementara Elang terkekeh sambil turun dari kasur.

.
.

"Gak papa Mawar, santai aja..." Kata Nala, mencoba buat nenangin Mawar yang datang-datang ke dapur minta maaf karena terlambat buat bantu-bantu bikin sarapan.

Ibu disana yang lagi tata meja makan tersenyum, nyamperin menantu barunya. "Kamu pasti capek semaleman gak tidur kan? Bener kata Nala, santai aja ya? Gak akan ada yang marahin kok..."

Andai Mawar bisa cerita kalo semalem dia tidur nyenyak banget di pelukan Elang. Alasan ibu berpikir Mawar gak bisa tidur semalaman tuh apa ya? Mawar gak ngerti.

Ekhem. Pura-pura gak ngerti sih..

"Capek kah Mawar? Tapi kayaknya belum resmi jadi milik Elang deh..."

Suara itu mengalun pelan di telinga kanan Mawar. Gak perlu buat Mawar tengok, sebab dia udah tau kalau yang ngomong itu Devi.

Perempuan itu datang dari arah dapur bawa-bawa nasi. Wajahnya meremehkan waktu Mawar noleh, sementara Mawar yang udah terlanjur noleh cuman natap sinis.

nikah randomTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang