Beyond Cloudfall (3)

94 4 0
                                        

Malam itu, sang naga menempatkanku bersama semua harta karun yang dikumpulkannya. Seolah-olah aku adalah salah satu dari mereka. Tampaknya semuanya hadir, tetapi yang dapat kupahami hanyalah cahaya bulan yang turun ke sarang dari sebuah lubang.

Setiap kali aku menutup mataku, suara angin menderu di dalam gua membawaku kembali ke lembah merah darah itu. Yang bisa kudengar hanyalah teriakan naga. Saat bilah-bilah itu menembus dadanya, rasa sakit dan amarah yang sama juga mengalir dalam diriku.

Mungkin... sebagian jiwa naga benar-benar memasuki tubuhku saat aku mencabut pedang.

Saat itu, aku tidak mengerti implikasinya. Aku juga tidak tahu ini akan menandai dimulainya kutukan.

Saat fajar tiba, aku berbaring di atas tumpukan emas, menyipitkan mata ke permata-permata yang kusam. Aku memutar-mutar Fiendbane di tanganku untuk ketiga kalinya.

'Dia hanya akan menggemukkanku sebelum menikmati hasil buruannya... Aku tidak bisa membiarkan semuanya berjalan sesuai keinginannya...'

'Sumber kekuatannya ada di mata kanannya. Kalau saja aku bisa mengambilnya...'

Setelah semalaman memikirkannya, aku memutuskan-aku butuh mata itu.

Dengan mata itu, aku mungkin bisa lolos dari naga itu dan terhindar dari nasib musnahnya jiwaku.

Yang artinya... aku harus menyerang lebih dulu.

'Itu pasti butuh lebih dari satu kali percobaan, dan aku bahkan mungkin tidak dapat melukainya. Namun, menguji kemampuan tidak ada salahnya. Dia mengincar jiwaku. Dia tidak akan membunuhku begitu saja. Lagipula... Kalau dia memperlakukanku seperti kucing peliharaan, dia seharusnya tidak heran kalau dia dicakar.'

Saat menuruni tangga batu, aku mendapati diriku berputar mengelilingi pilar tengah yang rusak berulang kali...

Anak tangga itu perlahan menyatu dengan tanah dan meluas ke kedalaman di bawahnya. Naga itu beristirahat di sini.

'Aku menemukanmu.'

Belum sempat aku menyerangnya dia sudah menarikku dengan ekornya.

"Cih... Sudah kuduga."

"Langkah kakimu berisik. Dan napasmu berat. Anggaplah dirimu beruntung. Saat ini, aku sangat bosan."

"Bodoh sekali kalau kau mengira aku hanya membawa satu belati!"

Aku mengeluarkan senjataku yang lain dan ingin menikamnya tapi dia menangkap tanganku dengan cepat.

"Kau...!"

"Permainan anak-anak. Aku akui terkadang kamu memang pintar. Namun, keterampilanmu masih jauh dari kata memuaskan. Jika kau masih punya trik, sekaranglah saatnya menggunakannya, manusia fana. Aku butuh sedikit peregangan."

'Jika serangan langsung tidak berhasil, aku harus mencoba pendekatan yang lebih halus...'

"Aku tidak punya apa-apa lagi... Aku hanya bosan dan ingin bermain-main. Kau akan membiarkanku pergi, ya?"

"Sebelum kau mencoba membunuhku, apakah kau mempertimbangkan bahwa semuanya akan berakhir seperti ini?"

Saat bersikap lembut, aku mengambil kesempatan untuk mencekiknya.

Tapi naga berhasil menghindar.

"Aku mengerti. Rasa percaya dirimu yang berlebihan benar-benar membuatmu percaya bahwa aku akan berbelas kasih."

Naga itu mencengkram leherku

"Rasakan detak jantungmu saat ini."

Ekornya membelit tubuhku.

Sylus's MomentsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang