Pemandangan naga yang mengamuk di kota dan terbang menuju Kota Tarus menghantui setiap jiwa hari itu.
Saat aku akhirnya terbebas dari kekacauan Legion dan bergegas keluar dari Sanctuary, yang kulihat hanyalah sosoknya yang menghilang di balik awan badai.
Jejak darah yang tertinggal di sepanjang jalur penerbangannya membuat orang menyadari bahwa Iblis ini terluka parah. Segera, setiap faksi Legiun dan setiap oportunis yang ingin mengambil untung dari kematian seorang kepala naga menuju Kota Tarus.
Aku mencuri baju zirah prajurit yang sudah mati dan membaur dengan barisan. Aku berjalan ke arah naga itu secepat yang kubisa.
Aku harus menghubunginya sebelum orang lain melakukannya, sebelum mereka mencoba mengakhiri hidupnya.
Bahkan jika takdir baru saja menunjukkan padaku-akulah satu-satunya yang benar-benar dapat membunuhnya.
Saat aku tiba di Kota Tarus, yang kulihat hanyalah kobaran api. Sarang naga di tebing telah hancur menjadi puing-puing.
'Bagaimana ini bisa terjadi...?!'
Legiun Justitia telah memasang banyak jebakan dan penyergapan di sepanjang jalan. Aku mendengar teriakan yang terbawa angin.
"Iblis itu terluka! Dia pasti belum pergi jauh. Teruslah mencari!"
'Tapi di mana dia berada... Dia tidak berada di Kota Tarus. Dan dia juga pasti tidak berada di Abyss. Di tempat mana lagi...'
Bekas luka di leherku terasa perih dari dalam jiwaku. Bekas luka itu menarik pecahan jiwa yang ditinggalkan naga di dalam tubuhku.
Pandanganku tanpa sadar beralih ke hutan yang layu dan mendarat di puncak menara obsidian yang sebagian runtuh.
"Tak lama lagi, sang iblis akan bertemu kembali dengan musuh bebuyutannya yang ditakdirkan untuknya. Di sebelah sana."
Aku tiba-tiba teringat dengan perkataan itu.
'Musuh bebuyutannya yang ditakdirkan...'
Aku memaksa seorang prajurit yang lewat turun dari tunggangannya, mengambil kudanya, dan berlari menuju kapel hitam.
Semakin dekat aku ke gedung itu, semakin jelas terlihat noda darah merah di sepanjang jalan pegunungan itu.
Bunyi terompet dan teriakan yang memanggil sang naga perlahan menghilang, hanya menyisakan derap kaki kuda dan detak jantungku yang gelisah mengisi keheningan.
Saat aku mencapai anak tangga obsidian, aliran kecil darah itu hampir mengering.
Saat aku mendorong gerbang kapel yang telah lama ditinggalkan, yang terletak jauh di dalam hutan, bulan yang dingin menggantung tinggi di langit malam.
Cahaya terang menyorot melalui puncak menara yang hancur. Bingung, aku melihat naga itu, nyaris tak bernyawa. Ia berbaring di tengah ruangan.
"...Sylus!"
Tak ada jawaban. Aku berlari ke arahnya dan tak menghiraukan Legiun Justitia yang telah tewas karena cakarannya.
Di panggung yang tinggi, mata sang naga terpejam. Tubuhnya basah kuyup oleh darah, tetesan-tetesan darah menetes dari tepiannya.
"Bagaimana ini bisa terjadi... Bukankah lukamu seharusnya sembuh dengan cepat?!"
Aku mencoba menghentikan pendarahan, tapi sia-sia. Dadanya-
'Ini... adalah luka yang kuberikan padanya...'
Semua lukanya tetap seperti itu. Tidak ada tanda-tanda penyembuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sylus's Moments
RomanceKumpulan-kumpulan moment dengan Sylus! Sumber love and deep space (game dating). Terjemahan pribadi. Naikin affinity dan update buat dapet moment2nya. MC: Natalie Gabriel
