Beyond Cloudfall (5)

60 3 0
                                        

Selama hari-hariku di sarang naga, Sylus dan aku mencapai keseimbangan yang rumit.

Aku tak dapat memikat matanya, dan dia tak pernah mengutarakan kesepakatan jahat yang dapat mengorbankan jiwaku.

Kami hidup seperti sahabat sejati, bersama-sama di sarang naga di atas Kota Tarus. Saat senja tiba, kami memberanikan diri untuk melakukan penyerbuan yang nekat dan kembali dengan barang rampasan kami sebelum fajar.

Pemandangan favoritku adalah menyaksikan pasukan Judicator, yang dengan kejam memeras orang-orang dengan peringatan akan datangnya malapetaka, berlutut di hadapan iblis sungguhan dan penyihir yang bangkit kembali.

Sensasi balas dendam membuat jiwaku bergetar. Dan setiap kali, dia akan bertanya padaku, "Apakah ada hal lain yang kauinginkan?"

Naga itu secara pribadi memelihara ambisiku saat ia menuntunku dari satu serangan ke serangan lainnya. Terlepas dari seberapa berbahayanya target itu, selama aku berkata, "Aku menginginkannya," ia akan memenuhi semua keinginanku tanpa gagal.

Takdir jatuh bagai manik-manik yang tak terkendali, menggelinding ke jurang tak berdasar.

Dengan kedok membantuku membalas dendam, dia memberi makan binatang buas di hatiku yang bernama 'Hasrat'. Aku tahu itu.

Namun perlahan... hatiku memperoleh keinginan baru.

"Tempat ini. Dan di sini... Kita sudah pernah ke tempat-tempat ini, kan?" Tanyaku

Aku duduk bersila di atas bantal baru. Aku makan beberapa buah dan menandai beberapa area di peta bintang.

Buah delima yang kulihat tadi diambil sebelum aku sempat menggerakkan tanganku. Mengabaikan tatapanku, Sylus mengetuk tepi peta bintang.

"Bukankah kau bilang kau menginginkan mineral dan kapal antariksa di sini?"

Nada bicaranya nyaris tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Di bahuku, bekas yang ditinggalkannya samar-samar terbakar dengan kilatan merah darah di matanya.

Aku menyentuh kulit yang terbakar dan teringat pada Tempat Suci yang kita serbu dua hari lalu.

Oracle sang Hakim, mengenakan jubah putih yang indah, ditopang oleh satu tangan. Kekejaman yang ganas dan biadab mendidih di mata sang naga.

'Dulu, bekasnya sangat sakit seperti ini...'

Aku menggelengkan kepala dan memutuskan untuk tidak memikirkan apakah rasa sakit itu pertanda hal-hal yang akan datang. Aku meletakkan daguku di tanganku dan berkata panjang lebar, "ohhh."

"Kamu ingat semua yang aku katakan."

Sylus mengangkat alisnya dan mengambil jeruk darah dari piring perak.

Aku segera menyambarnya. Saat dia lengah, aku melengkungkan punggungku seperti kucing dan menerkam. Aku menempelkan pisau perak ke lehernya.

"Jujurlah padaku. Apa keuntunganmu dengan menuruti keinginanku seperti ini?"

Aku menjepitnya ke bantal. Pisau dan luka berdarah itu menghilang menjadi partikel cahaya merah saat dia terkekeh.

Sylus menatapku. Kami bisa merasakan napas masing-masing. Saat dia mengangkat kepalanya, hidungnya menyentuh hidungku dengan lembut.

"Bagaimana denganmu? Apa untungnya bagimu untuk mencoba melakukan pembunuhan dengan tangan yang lemah seperti ini?"

Di balik tirai, pandangan kami bertemu. Cahaya senja terpantul di matanya yang memancarkan kehangatan yang tak nyata.

Jantungku berdebar kencang, dan tawa pelan keluar dari bibirku. Aku kembali ke tempat asalku sebelum mengupas dan menikmati buah delima.

"Kau tak perlu memberitahuku. Semakin rakus jiwa, semakin nikmat rasanya. Apakah aku salah? Bagaimanapun, mari kita berharap itu tidak menjadi bumerang bagimu."

Sylus's MomentsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang