Beyond Cloudfall (4)

52 2 0
                                        

Kota Tarus terletak di dekat kaki sarang naga.

Asal usul namanya hilang seiring waktu, tetapi dikatakan terhubung ke Abyss.

Dan tidak seperti kota-kota lain, pasar Kota Tarus adalah-

"Kios yang kita lewati... Kepala Wanderer dipajang disana."

"Kamu bereaksi dengan cepat. Haruskah aku ingatkan kamu bahwa aku sedang mengutak-atik paha Wanderer?"

"..."

"Apa? Apakah kamu ketakutan?"

"Tidak, aku hanya tiba-tiba teringat sesuatu. Lukisan yang kita lihat sebelumnya... Apakah kanvasnya terbuat dari kulit naga?"

Sylus hanya terdiam.

"Apa? Apakah kamu ketakutan?" Balasku

".. Aku tidak ingat suaraku pernah terdengar menyebalkan seperti ini." Jawabnya

Aku menyeret naga itu ke satu toko aneh demi aneh, meski aku tahu di sana tidak ada satu pun organ pipa yang dijual.

"Aku akan mengambil apa yang paling berharga di dunia ini"-itulah kesepakatan yang dia setujui dalam diam.

Tapi saat ini, aku hanya ingin melihat iblis yang tak terkalahkan terlihat gelisah.

"Apa kamu tidak punya niat untuk menyamar?"

"Tidak perlu. Tidak ada yang akan percaya ada iblis berkeliaran di pasar. Lagipula, setiap orang melihat iblis secara berbeda, ada yang melihat keburukan, yang lain melihat kengerian, kekejaman... Apa yang mereka lihat bukanlah aku. Mereka hanya melihat hati mereka sendiri."

Aku mengangkat cermin dari sebuah kios. Cermin itu memantulkan wajah sang naga.

"Dapatkah kamu menebak apa yang kulihat saat aku melihatmu?"

Dia menurunkan cermin seolah mendengar lelucon kekanak-kanakan. Dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

"Setidaknya, aku jauh lebih tampan daripada yang digambarkan dalam mural Dewa Pembunuh Iblis itu."

"Ku pikir pasar terkenal di Kota Tarus akan lebih menarik, mengingat pasar itu terkenal dengan barang-barang yang berhubungan dengan iblis. Ternyata itu hanya barang-barang biasa."

"Kamu tidak akan dapat menemukan lonceng angin yang terbuat dari tulang jari di tempat lain."

Aku mengambil sebuah patung obsidian kecil.

"Mereka bahkan memiliki amulet tulang kambing..."

Orang-orang di Sanctuary tidak menyukai hal-hal semacam ini karena mereka percaya tanduk melambangkan iblis. Namun, hal-hal seperti ini cukup populer di sini.

"Apakah kamu menginginkannya? Kalau begitu, kamu bisa membawa sendiri barang-barang ini nanti." Ujarnya

"...aku ingin sesuatu yang lebih kecil dan lebih rumit. Ada cincin tanduk iblis, kalung sayap iblis... Liontin batu vulkanik ini lumayan."

"Itu tidak buruk?"

Sylus menunduk untuk melihat. Namun, dia mencibir.

"Hitam pekat dan berbentuk seperti naga lumpuh."

Aku menaruh kembali liontin itu. Aku menoleh dan mataku kembali berbinar.

"Lihatlah gelang mata iblis ini. Bukankah ini lebih indah daripada harta karun di sarangmu?"

"Kamu melihat lapisan tipis yang murah sebagai sesuatu yang indah? Apakah retakannya istimewa? Apakah kamu datang ke sini hanya untuk ini?" Cibir Sylus

"...Aku tidak percaya aku hampir lupa betapa tajamnya lidahmu setelah kita menghabiskan begitu banyak waktu bersama. Mendapat kata-kata manis darimu itu seperti mencabut gigi."

Aku memainkan gelang di hadapanku.

"Karena seleraku tampaknya tidak sesuai dengan seleramu, mengapa kamu tidak memberitahuku tentang benda paling berharga dalam koleksimu?"

"Lampu minyak yang dicat terbuat dari emas murni dan kalung rubi itu. Kamu tidak akan menggunakannya jika aku memberikannya kepadamu. Mengapa kamu tertarik pada barang-barang murah?"

"Kamu benar-benar mengukur nilai berdasarkan nilai moneter?"

"Ada cara lain?" Tanya dia balik

Aku mendesah dramatis dan mendecak lidahku, berusaha untuk terlihat bijaksana dan berwibawa.

"Kamu tentu sesuai dengan stereotip tentang naga yang rakus akan harta karun... Namun, nilai sebenarnya datang dari sesuatu yang sedikit lebih hangat. Ambil contoh gelang ini. Mungkin tampilannya tidak mengesankan, tetapi gelang ini memiliki makna yang sangat dalam."

Mengabaikan tatapannya yang gelap dan merenung, aku meraih tangan naga itu dan, tanpa menunggu izin, memasangkan gelang itu ke pergelangan tangannya.

"Ini. Lihat kata-kata yang terukir di sana."

" 'Iblis akan selalu melindungimu'? Betapa hangat dan menenangkan." Cibirnya lagi

Naga itu melirik gelang itu namun tidak langsung melepaskannya.

Pedagang tanpa pupil itu merasakan sesuatu dan segera menghadap kami. Dia mengetukkan pipa tembakaunya dengan sangat akurat pada gelang itu.

"Sepotong informasi atau tiga puluh koin emas untuk gelang." Ujar pedagang

"Untuk gelang tulang ini? Paling banter, itu sepadan-"

Aku hendak mulai menawar, tetapi ketika aku mendongak, naga itu sudah membuka kantongnya. Setumpuk koin emas tumpah dari tangannya ke meja kasir.

Pedagang buta itu tidak bergerak untuk menghitungnya. Telinganya hanya bergerak sedikit.

"Anda sudah memberi terlalu banyak. Aturan adalah aturan - Saya akan menyimpan emasnya dan memberi Anda dua informasi. Pertama-tama, Iblis telah kembali. Legiun Justitia akan segera berbaris menuju Kota Tarus. Kalian berdua harus berhati-hati."

Sylus dan aku saling berpandangan. Pedagang itu, tanpa ekspresi, menoleh ke arahku.

"Adapun yang kedua... Tak lama lagi, sang iblis akan bertemu kembali dengan musuh bebuyutannya yang ditakdirkan untuknya. Di sebelah sana."

Dia memiringkan pipanya, dan mataku mengikutinya. Di kejauhan, di balik hutan tandus, aku melihat menara obsidian menjorok keluar.

Aku melingkarkan lenganku di leher sang naga, berdiri berjinjit, dan berbisik di telinganya.

"...Bukankah itu tempat di mana kau mencoba memakanku untuk pertama kalinya?"

"Apakah kamu ingin kembali untuk bernostalgia?"

"Aku tidak mengerti mengapa tidak. Siapa tahu? Mungkin sesuatu yang tidak terduga akan terjadi di sana."

"Sebuah kapel yang terbengkalai dan bobrok tidak akan menawarkan sesuatu yang sepadan dengan perjalanan tersebut. Jangan lupa mengapa aku ada di sini bersamamu."

Aku melepaskan leher naga itu dan berpura-pura tidak senang.

"Bukannya kamu baru tahu kalau aku tidak pernah puas. Kalau aku tidak bisa mendapatkan organ, aku akan mengambil beberapa barang lain sebagai hiburan. Ini, ini, dan ini... Bukankah semuanya cocok untukmu?"

Aku segera mengambil beberapa aksesori berdesain rumit dan menyodorkannya ke lengan naga itu. Kemudian, aku berjinjit untuk menggantungkan lonceng angin dari tulang di tanduknya.

"Kamu-!"

"Apa?" Tantangku

Tatapan kami bertemu. Aku mengerjapkan mata padanya saat aku masih berdiri berjinjit.

Langit sore memancarkan cahaya lembut kemerahan di atas sang naga. Ia menatapku sejenak, lalu meletakkan kantong koin di atas meja.

"...Karena kamu menginginkan semuanya, jangan tinggalkan satu pun. Ambil semuanya. Kita pergi."

Aku membuka tanganku ke arah naga itu dan dia mengangkatku. Dia menggendongku dan harta karunku saat kami terbang di atas Kota Tarus.

.

.

Sylus mau versi manusia atau naga tetap kaya raya yaa 💸💸💸💰💰💰

Berarti Bond mereka tentang lagu di tender moments: continuous symphony itu dari sini ya..

Sylus's MomentsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang