Silahkan di lihat-lihat PDFnya. Dan baca2 cuplikannya.
jika berminat silahkan hubungi saya ^~°
Some PDF titles are available in English ^_^
No : 082214419735 (Whatsapp dan Telegram)
081353681726 (Whatsapp & Telegram)
Pembayaran Via : Bri/Shoppepay/D...
Pdf baru 😇 Alurnya ringan. 359 halaman 22 chapter 25k Langsung hubungi saya jika berminat 😇 082214419735 Terimakasih ❤
Cuplikan singkat
Wang Yibo merupakan seorang presdir dari perusahaan Wang Grup yang terkenal.
Hari ini dia pergi ke bandara untuk menjemput kakaknya yang baru saja kembali dari amerika.
Wang Yibo mendengus dengan malas karena harus menunggu, sebab kakaknya memaksanya untuk harus menjemputnya.
Saat Wang Yibo hendak mengambil ponselnya, dia merasa seperti ada kehadiran lain di sampingnya.
Pria Wang itu menoleh dan dahinya sedikit berkerut saat melihat seorang anak laki-laki dengan kacamata hitam yang berdiri dengan santai sembari melipat tangannya disana.
Anak laki-laki yang juga merasa seperti di perhatikan, langsung menoleh ke sampingnya. Ia membuka kacamatanya dan dengan angkuh berkata.
“Kenapa? Tidak pernah melihat pria tampan kah?”
Wang Yibo semakin mengerutkan dahinya dengan ekspresi bingung karena melihat anak kecil yang begitu narsis.
“Tidak! Aku sendiri sudah tampan,” jawab Yibo. Dia sendiri merasa heran karena meladeni anak itu, padahal biasanya dia hanya akan cuek saja.
Bahkan sekretaris di sampingnya membelalakakan matanya karena tuannya yang selalu dingin dan cuek, sekarang menyahut bualan anak kecil.
Anak lelaki itu berbalik menatap Yibo dengan senyum yang mengejek, “Heh, sangat sombong! Paman, lihatlah baik-baik. Tidak ada orang dengan wajah setampan aku.”
Yibo menyibakkan rambutnya.
“Apa kamu butuh kaca? Kamu memanggilku paman tapi kamu berbicara dengan tidak sopan.”
“Heh,” Jian kembali tertawa mengejek, “Kenapa aku harus bicara dengan sopan pada orang yang sombong seperti paman?”
“Sadar dirilah, nak. Kamu lah yang paling sombong disini.”
Sekretaris di sebelah Yibo terlihat cukup panik. Dia kemudian berbisik pada pria Wang itu.
“Presdir, bukankah dia masih anak-anak? Anda tidak harus membalas menyerangnya.”
“Tapi anak ini menyebalkan!” protes Yibo.
“Paman juga menyebalkan! Sangat menyebalkan!” timpal anak itu.
Saat sekretaris ingin menegur sang presdir lagi untuk berhenti mengejek anak-anak, dia tiba-tiba menyadari sesuatu.
Kenapa mereka, terlihat mirip, ya?
Sekretaris menyadari adanya kemiripan antara kedua orang itu. Bukan hanya wajah yang mirip, tapi gaya bicara mereka juga mirip.
“Hei anak kecil, dimana orangtuamu? Apa orangtuamu tidak mengajarimu sopan santun?”
“Jangan bicara sembarangan, Paman! Papa ku mengajariku banyak hal, paman saja yang tidak sopan dan sombong. Apa paman tidak diajari sopan santun?”
Wang Yibo merasa sedikit kesal dengan anak kecil itu. Dia tersenyum dengan paksa.
“Kamu lah yang memulainya, bocah!”
“Presdir, ayo pergi. Nona sudah menunggu,” sekretaris menyuruh sang bos untuk segera pergi karena jika tidak, sepertinya bos nya dan anak kecil itu akan terus bertengkar.
Wang Yibo menunjuk anak kecil itu sambil menghela nafas.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti.”
“Tidak! Aku harap tidak bertemu dengan paman lagi karena aku tidak suka orang yang narsis dan sombong!” teriak anak lelaki itu.
Wang Yibo menoleh menatap anak itu dengan heran.
“Sadar dirilah bocah!”
Sekretaris dengan berani menarik Wang Yibo.
“Presdir, ayo. Nona sudah menunggu.”
Yibo menghela nafas lalu berbalik dan melangkah pergi.
Sedangkan anak laki-laki itu melipat tangannya sambil memutar bola matanya.
“Aku tidak suka paman itu!”
••||••
Wang Yibo berkata kepada anak itu setelah beberapa hari, "“Kamu bilang tidak ingin bertemu lagi denganku, kan? Tapi maaf ya. Kita akan bertemu setiap hari mulai sekarang,” ia berkata dengan nada menggoda anak laki-laki itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.