❥╣__________๑🤝๑________╠˙❥˙
Penghujung musim gugur. Ron Weasley mematung di depan sebuah gerbang besar. Tak sendiri. Sang istri turut membersamai. Dihirupnya udara dalam-dalam. Dilepas pelan. Mengulang beberapa kali.
Hermione diam memperhatikan, lalu dengan tenang menggenggam sebelah tangan suaminya. Bertatapan, Hermione mengangguk meyakinkan.
Ron membalas dengan seulas senyum. Gerbang besar dari sebuah rumah yang juga besar, didorongnya hingga terbuka. Bunyi decitan menggema di tengah kesunyian. Rumah itu terletak jauh dari pemukiman.
Ketika menjejakkan kaki tepat di depan pintu utama, daun pintu terbuka otomatis. Seolah menandakan kedatangan mereka tengah ditunggu.
"Selamat sore Mr. dan Mrs. Weasley," ucap sesosok peri rumah yang sepertinya memang sudah menanti.
"Hello, Ralleey. Long time no see," sapa balik Hermione. Sementara Ron hanya menjawab 'hai' singkat sambil melepas topi.
Malfoy manor. Tepatnya Malfoy manor yang baru. Beberapa tahun setelah kelulusan, Draco Malfoy mengganti manornya. Tak peduli meski manor lama adalah peninggalan yang berusia ratusan tahun. Atau para pendahulunya yang mengecam dari dalam lukisan. Sepenuh hati, Draco mengutuk kediaman itu. Dia tak ingin lagi tinggal dalam bangunan yang ia anggap sampah. Yang selalu membangkitkan mimpi buruknya. Juga ... mimpi buruk Hermione.
Dengan begitu Draco tak lagi merasa sungkan dan terbebani saat mengundang orang-orang yang berteman dengannya. Atau pernah berteman dengannya.
Kini, Ron masih tak mempercayai dirinya kembali menginjak tempat ini. Setelah puluhan tahun berlalu. Setelah bersumpah tak akan lagi terlibat dengan orang yang dicapnya, bajingan.
"Mari, sebelah sini, Sir, Ma'am." Ucapan Ralleey memutus renungan Ron.
Ketiganya berjalan menaiki tangga yang terletak di tengah-tengah ruang. Mengambil arah sebelah kanan. Menyusur beberapa lorong hingga tiba di sebuah pintu ganda yang cukup besar. Sebuah ruang. Kamar tepatnya.
"Tolong tunggu sebentar." Setelah berucap demikian Ralleey mengetuk pintu tiga kali dan mendorong. Dia masuk, membiarkan pintu sedikit terbuka. Baik Ron maupun Hermione tak berniat mengintip.
"It's okey," ucap Hermione sambil mengelus lengan Ron. Sejak berdiri di depan kamar ini, genggaman Ron menguat. Bisa dia rasakan dinginnya tangan sang suami.
Pintu terbuka lebih lebar. Ralleey muncul bersama Astoria Malfoy. Hermione sedikit terkesiap. Meski sudah mempersiapkan diri dan berlagak menenangkan Ronald. Kini justru dirinya yang sedikit tegang.
Meski bukan salahnya, tapi Hermione selalu memiliki perasaan bersalah pada adik tingkatnya ini. Atau mungkin dia hanya bersimpati.
"Apa kabar?" sapa Astoria dengan nada formal. Wanita itu tetap tampak elegan dengan raut lelahnya. "Selamat datang, maaf aku tidak menyambut di bawah."
"Tak apa," balas Ron. Sementara Hermione hanya tersenyum. Mengangguk kaku.
"Silakan."
Butuh beberapa saat untuk akhirnya Ron melangkah ke dalam. Seperti gambaran umum kamar utama keluarga bangsawan. Besar, luas dan mewah.
Di atas kasur yang tampak bisa menampung lima orang dewasa tanpa berdesakan, Draco Malfoy dengan piayama sutra kualitas kelas satu, duduk menyender. Wajah yang pada dasar seputih kapas, tampak semakin pucat. Seolah darah tak menjadi bagian tubuhnya. Lemah tak berdaya. Sangat tidak Malfoy.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incurable Disease (End)
FanfictionScorpius telah diultimatum sang ibu, agar tidak berurusan dengan Rose Weasley. Apalagi sampai menjalin hubungan tertentu. Tanpa tahu latar belakang, larangan tersebut, Scorpius mengiyakan. Rose Weasley. Gadis kecil berambut merah mengembang berantak...
