•́ ‿ ,•̀_________🍴🍴_________•́ ‿ ,•̀
Sekitar 7 malam Rose muncul dari dalam perapian rumah orang tuanya.
"I'm home!" teriaknya sambil berderap cepat ke ruang makan. Penampilannya sedikit berantakan.
"Hei sweetheart," Hermione dengan celemek yang masih melekat mengecup pipi putrinya.
"Maaf aku terlambat." Rose melepas coat, melambaikan tongkat agar luaran itu tergantung di standing hanger.
"Tidak kok. Kami belum mulai makan," Lily yang datang dari arah dapur sedang me-leviosa kuali besar berisi sup ayam a-leekie.
"Biar kubantu." Rose hendak ke dapur, tetapi Albus menghalau.
"It's okay. Duduk saja, persiapan hampir selesai," ujarnya dengan membawa perkakas makan dan membagikan ke masing-masing orang.
Sebulan sekali dua keluarga, akan mengadakan makan malam bersama. Di rumah Harry atau Ron secara bergantian. Meski Rose absen dari kegiatan ini saat masih melanglang buana.
"Benar. Kau tampak lelah. Duduk saja dulu," Ron berdiri untuk memberi kecupan pada putrinya yang sudah beberapa hampir dua minggu belum pulang.
Sejak mengelola klinik, Rose memang jarang berkunjung. Terkadang, bisa hampir seharian dia stay di sana. Apartemennya di dekat klinik juga hanya ia tempati beberapa kali dalam seminggu.
"Santai saja dan pulihkan energimu. Toh, kita yang akan kebagian membereskannya nanti," tambah James yang menempati kursi di sampingnya. Pria itu meneguk air beberapa kali.
Rose pun menurut. Dia hanya tidak enak selalu datang terlambat tanpa membantu persiapan. Sedang untuk membersihkan mereka bisa menggunakan sihir sambil memantau.
"Kau juga baru datang?" tanya Rose pada James.
"Dua atau tiga menit sebelum kau datang."
Tak lama makan malam dimulai. Mackenzie kini resmi bergabung sebagai keluarga. Meski sebelumnya pun dia sudah diundang.
Ada banyak percakapan dalam momen ini. Entah itu orang tua antar orang tua, anak dengan anak, atau orang tua dengan anak. Mulai dari masalah pekerjaan, keadaan sosial saat ini dan juga asmara.
Sebagai pasutri baru Albus dan Mackenzie dapat banyak godaan. Terutama Albus. Lily tidak bercanda soal akan menertawakan wajah melongo Albus di altar. Dilanjut dengan kegalauan Hugo yang putus untuk ketiga kalinya tahun ini. Tentu saja dia juga dapat banyak olok-olok dari sepupu-sepupunya.
Sedang James mengatakan rencananya untuk pensiun dua atau tiga tahun lagi dan membuat klub Quidditch baru. Sudah ada beberapa sponsor yang mendatanginya untuk kerja sama. Baru setelahnya dia akan memikirkan untuk menikah.
"Sejak kapan kalian sebesar ini?" ujar Ron ditengah pembicaraan.
"Iya kan?" Harry menyahut. "Rasanya belum lama kita mengantar mereka ke kingcross untuk tahun pertama Hogwarts. Sekarang," ia menatap anaknya yang baru saja berkeluarga, "salah satunya sudah membawa anggota baru," tambahnya yang disambut gelak tawa.
"Oh ya Rose, kau makan dengan benar kan?" tanya Hermione.
Rose yang sedang mengunyah mengangguk. Sebelah tangan membuat simbol O. "Tentu Mom, aku tetap makan dengan baik. Hanya kurang tidur saja."
"Jangan terlalu memaksakan diri untuk menerima semua pasien yang datang. Kau bisa mengirim mereka ke klinik lain kan?" Ron tambah khawatir mendengar putrinya memang kurang istirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Incurable Disease (End)
FanfictionScorpius telah diultimatum sang ibu, agar tidak berurusan dengan Rose Weasley. Apalagi sampai menjalin hubungan tertentu. Tanpa tahu latar belakang, larangan tersebut, Scorpius mengiyakan. Rose Weasley. Gadis kecil berambut merah mengembang berantak...
